Langsung ke konten utama

Postingan

Cara Bahagia Menjadi Susah

 Penulis: Fikih Alwi Pada malam yang sepi semua mati kecuali Sapardi--lelaki malang yang ditinggal mati anak dan istri. Seorang diri di rumah kumuh yang terimpit gedung pencakar langit, tidur beralaskan tikar yang didapatnya dari tempat sampah milik tetangganya sendiri, menjadi pemulung tidak membuatnya berkecil hati, daripada tertidur pulas hasil dari memakan duit negaranya sendiri. Sapardi menjadi gembel yang jarang mandi, pakaiannya yang jelek dan kusam membuat siapa saja yang melihatnya merasa risi, belum lagi bau badan yang tidak sedap bagi hidung siapa saja yang berada dekat dengan Sapardi, wajar saja dia terakhir mandi tiga bulan lalu di tempat pemandian umum, badannya terbasuh air namun tetap saja daki di badannya tidak langsung pergi, paling tidak mengobati rindunya untuk mandi. Pada jarang kesempatan dirinya dikenali, ada yang memberi nasi, air dalam botol, yang lebih sering memberikan doa untuk umurnya yang sudah menginjak kepala tujuh. Setiap jam istirahat kantor biasanya S

Puisi Yosi Adi Setiawan

  Mata Waktu Tiap hari mata ponsel bertengkar dengan mataku untuk memastikan tatapan siapa yang paling tahan lama. "Makin lama kok makin gawat saja." Waktu menggerutu. Ia menggelinding pelan dan bosan menunggu siapa yang akan menyerah duluan. Hujan datang menjelang subuh dan waktu tak perlu lagi menunggu. "Selamat istirahat." Ucap mata ponsel berat. "Selamat tidur, besok kita lanjutkan lagi!" Jawab mataku yang seakan kehilangan warna. Tahu tak lagi menunggu, waktu terbang dan melayang meninggalkan sepi dan sunyi bertengkar di kamar mimpi. Padang, 2020.   Malam Sepi yang Telah Abadi Malam yang rindu sedang memeluk waktu, menidurkan sepi yang setengah jadi. Malam sepi yang telah abadi. Malam yang tua sedang menyusun doa, memupuk kenangan di antara remang-remang. "Aku ingin tidur lelap di matamu; menyepi dan menghilang." Ketika itu ia pejamkan matanya sambil mengucap pelan: "Selamat tidur, malam sepi yang abadi." (2020) Hilan

Puisi Suyila Lamka

  Melihat diam Pada benturan bahasa bunyi bahasa yang tak lekang oleh waktu berulang pada tasbih jika dan ketika menggeluti paham berima kuasa airmata pada sajak yang lelah membasahi arti akan cinta itu hanya kini tersuar padamu hinggap pada bait pusaka doa. Pada setiap zaman selalu saja ada keindahan yang saling bertaut dengan anggun, hingga saatnya kelak bait-bait menyusun api unggun. Dengan rapi ketuhanan merebak sepi, kemudian jiwa rapuh dalam bunyi pada titik puisi. Pada kita yang sebatas ada, selurus ucap dan dengar. Kembali adalah bahasa ibu dalam rahim menyusun rindu pusara terngiang pada jarak jatuh mendekat dari terjauh.  Kopi untukku Banyak kata menghilang dikesunyian menggapai pada yang tak sampai seperti berucap dari pagi menuju siang menitip lelah pada aroma kopi melihat sore dalam penat yang bergerak rapi menuju tubuh sehingga tumbuh serumpun bunyi berselimut malam mencari yang datang dalam hilang. Selamat pagi itu sebentuk kopi yang melarutkan bias kata-kata semalam. J

Puisi Apriwanto

  RINDU LINGKARAN  Saat semuanya saling sapa Saling bahagia Berbagi tanpa kenal nama Laksana penyu dengan cangkangnya Saat semuanya menemukan manisnya ukhwah Laksana semut dengan gula Saat semuanya telah berubah pada zonanya Laksana kopi tanpa gula hingga hitam semu semata Padang, 2020 DOA SEORANG HAMBA Malam telah datang Pagi segera bercahaya Sementar aku terlentang dalam selimut pagi Pikiran tak tentu arah Tujuan mana yang akan singgah Mata memandang bukan haknya Nafsu senantiasa membara Membakar hingga panas terasa Setan gembira ria Sudah terperangkap jeratnya? Padang, 2020 HIDUP SEKALI Hidup seperti lebah Tidak merugikan manusia Bermanfaat bagi sesama Berbekas hingga ke surge  Hidup bukan sekedar singgah Hidup perantauan sementara Gelombang dahsyat didepan mata Kayuh erat dengan iman taqwa Hidup adalah perjuangan Bukan pertolongan Bukan mengemis di jalanan Usaha akan terbuka jalan Hidup adalah proses Bekal panjang dalam sanubari Surag imian dihati Padang, 2020 RI

Vodka

Penulis: AFIRA JULIANA  “Aaaa... mama……mama,” teriak anak kecil itu. Tak ada sedikit pun niat jahat, aku hanya mau bermain dan meminta sedikit makanannya, tapi ia mengambil kembali makanan yang telah ia berikan di dalam mulutku dan menendang serta menginjak ekorku. “husss…hus…sana dasar jelek, kotor, pergi sana huss…hus,” bentak wanita yang baru datang tak lupa ia menendangku dengan keras. Sepertinya wanita itu ibu dari anak kecil yang tadi tak sengaja ku gigit. Kini semua badanku terasa sakit, tak kalah sakit ekorku yang diinjak anak kecil tadi dengan sepatunya yang keras, “sungguh sial hari ini,” batinku. Perut terasa sangat lapar, tapi kemana lagi aku harus mencari makan, semua tempat sampah sudah ada yang berkuasa dan jika aku nekat mencari makan di situ nyawaku taruhannya. Aku hanyalah seekor kucing kampung berwarna putih kumal yang selalu di pandang sebelah mata oleh orang-orang yang berlalu lalang di pasar ini. Orang-orang tak menganggapku ada, bahkan tak sedikit dari mereka ya

Buaya Lenggang

 Penulis: Bahrul Ulum Keadaan wanita itu semakin memburuk saja sejak pertama ditemukan oleh warga di pinggiran sungai Lenggang, sebuah sungai yang memang memiliki cerita-cerita mengerikan namun betul-betul terjadi. Sungai ini merupakan sungai yang memisahkan Kecamatan Gantung dan Kecamatan Manggar yang hanya dihubungkan oleh sebuah jembatan yang lumayan besar, sungai ini pula sebetulnya menjadi rumah bagi hewan-hewan khas pulau Belitong. Sungai Lenggang sudah sejak dulu menjadi solusi bagi warga Gantung dan sekitarnya untuk mencuci badan, pakaian bahkan untuk sekedar membuat dapur mereka kembali ngebul. Nyaris seluruh aktivitas warga dilakukan di sungai ini, mulai dari memancing, menimba air untuk kebutuhan memasak dan mencuci, bahkan arena artaksi anak-anak kecil beradu lompat indah dari atas jembatan. Kembali ke nasib wanita tadi, dia Seripa, seorang wanita paruh baya yang sampai saat ini masih ketakutan akan kejadian yang telah menimpanya. Terlihat dari raut wajahnya yang seolah me

Puisi Tuti Masda Yani

  Saudara Kita lahir dirahim yang sama Memiliki perawakan serupa tak terpisah Ibarat pinang dibelah dua Kau ada sebelum aku berkunjung ke bumi ini Impian Ibu adalah agar kita selalu hidup rukun Saling membantu bukan membenci Kau adalah saudaraku Tempat berkisah yang tak jenuh mendengar Tetaplah beriringan walau di jalan yang berbeda Hidup yang bahagia adalah impian kita Meski suatu hari nanti kita akan menjalani kehidupan yang berbeda Balai Selasa, 2020 Sepasang Sepatu Kaca Tak sengajaku lihat sepasang sepatu kaca Tergeletak di sudut jendela toko tua Amat indah kala mata memandang Hei sepasang sepatu kaca Bolehkah aku menjadi Tuanmu Aku ingin memilikimu Kau tampak anggun jika dikakiku Aku ingin menari bersamamu Melompat tinggi ke angkasa Seakan tidak ada beban dibenakku Melepas semua rasa letih Alangkah indah jika semua itu kulakukan bersamamu Wahai sepasang sepatu kaca Balai Selasa, 2020 Pelangi Indah di mata Ibu Ibu Aku tak ingin kau tampak gundah Kepergianku ke kota han