Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Puisi M. Fadli Yahya

Gambar
  Pandemi Sungguhlah kencang kuda berlari Kuda berlari memakai pelana Dokter bekerja korbankan diri Demi menolong pasien Corona Ikan teri besar kepala Kepala dibuang menjadi sampah Corona semakin merajalela Mari berdiam diri di rumah Naik ke puncak gunung dengan teman Di gunung banyak tumbuh pohon Cendana Kita hindari sementara berjabat tangan Berjabat tangan membawa virus corona Di Bengkulu ada bunga Raflesia Bunga tumbuh di dalam hutan Virus Corona melanda dunia Mari hindari jaga kesehatan Di muara Padang banyak buaya Buaya timbul manusia lari Virus Corona sungguh berbahaya Mari bersama menjaga diri Ikan asin ikan sepat Ikan digoreng bersama ceker Virus corona menyebar cepat Mari biasakan memakai masker Corona   Sungguhlah kencang kuda berlari Kuda berlari memakai pelana Dokter bekerja korbankan diri Demi menolong pasien Corona Ikan teri besar kepala Kepala dibuang menjadi sampah Corona semakin merajalela Mari berdiam diri di rumah Naik ke puncak gunung dengan teman Di gunung banyak

Puisi Ratna Hastini Sr

Gambar
( Ilustrator: JoyGo) Sebelum Cita disita Usia Mentari menyinari siang lalu hilang ditelan malam Kicau-kicauan burung perlahan redup; hanyut di langit shyam Raga belum terjaga enggan sekutu dengan waktu Masih berseru perihal tawa berujung nada gerutu Tatkala diri memilih bersantai mengukur lantai  Merebahkan asa di bawah tungkai dengan lunglai Cahaya gelabah yang merekah mulai padam Sebab usaha hanya doa; menengadah tangan tanpa gerakan Pusara siap sedia menelan sesal yang kau rapalkan Semua taubat pun semangat tampak semu dijalankan Jika nadi t'lah henti tanpa denyut; mengahadap maut Kesadaran semata-mata kiasan dalam hidup Raihlah cita tanpa lupa pada-Nya pemberi nyata Menggugurkan kewajiban dengan ikhlas, 'kan dikabulkan tiap-tiap pinta  Mulai melangkah didampingin niat serta basmalah Yakini mimpi 'kan terwujudkan diiringi dengan hamdalah L ampung, 04 Mei 2021 Lengkingan Periuk Kala gemuruh prahara negeri menjerit lirih Sejuta keluh para buruh terbelit ekonomi; perih Tiad

Puisi Kumaidatun Nisfiyah

Gambar
( Ilustrator: JoyGo) RUMAHKU, HANYA KEMBALI PADA LINGKUNGAN Terlahir di bumi yang menyimpan sejuta misteri Terkadang, dipenuhi sekelumit deretan aksara tanda tanya Mengapa daku terlahir di bawah nabastala? Atau mengapa daku dihidupkan di atas tanah? Menelisik lebih dalam lagi ketika penjagaan jiwa ramah Berdiri kukuh nan melindungi badan bernama rumah Tak lekang, meninggalkan saat kebutuhan mendesak keluar Mengarungi deras arusnya angin kencang membuyarkan ikhtiar Walau bencana alam tak juga kunjung reda Tersebabkan oleh sekerumunan insan tiada berdosa Lingkungan ini menjerit dan meraung kesakitan Mengucurkan darah kekecewan sebagai saksi bisu korban Kembalilah ke jalan lurus untuk memperbaiki mereka semula Karena mereka telah memberikan kenikmatan melebihi kemilau mutiara Buktinya ketika matahari terbit atau terbenam menemani waktu untuk menyendiri Atau tarian gemulai para pohon ketika hujan sebagai pagelaran pentas seni Jepara, 28 Februari 2021 KEMBALI PADA GUBUK Anila berembus menus

Puisi Julian Mahkmudasa

Gambar
  Ilustrator: Artfinder Di Jalan Buntu Aku tak akan memapahmu karena yang kutahu, cinta akan membawamu ke jalan buntu. Di situ aku menunggu tanpa mawar dan hanya menggenggam satu empedu. Negeri sudah menjadi abu, begitu juga dengan pertemuan kita lalu. Di sini jalan buntu, berhentilah bertanya padaku tentang kerak- kerak temu yang memaksa kita harus berpadu.   Padang, 2021 Bau Mesiu; Parfum Lima Ribu Dan kita tak akan lagi mencium bau mesiu. Hanya aroma parfum lima ribu tiga kali pakai yang masih melekat pekat di tubuhmu. Selalu terhidu di hidungku. “Baja penghadang belum hengkang!” Kita tak lagi mengasah sepatu serupa pisau beracun.   Padang, 2021 Tiada Yang Lebih Sampah Bola matamu sampah dan aku tahu tiada yang lebih sampah daripada bola- matamu itu. Di sini yang lebih indah dari sampah adalah sampah. Lalu kau bertanya, mengapa? Aku berusaha menjawab dengan cara mengambil dua bolamatamu di tumpukan tong sampah.   Padang, 2021 Aku Tak Menemukan Malam Aku tak lagi menemukan

Puisi Wahyuni Fitri

Gambar
  Ilustrator: Annie Imajinasi Gila Aku tau sejauh apapun aku berlari Kau tak akan mengejarku Aku tau sekuat apapun aku melupa Kau tak akan pernah mengingatku Aku tau sekuat apapun aku menangis Kau hanya akan tertawa Aku tau sekuat apapun aku menyiksa diriku Itu lelucon bagimu Harus bagaimana aku?? Kenapa kau sedingin itu?? Rendahkan aku dihadapanmu? Atau memang tak terlihat olehmu? Aku Dia mengajariku bagaimana menjadi aku Aku terang di kegelapan Aku terapung dari kedalaman Aku terbang dari kejatuhan Memang ,memang dia mengajariku semu Semu yang mendewasakan tanpa meragu Menerjemahkan kalbu tanpa berseteru Mengiringi setiap deru nafasku Kini aku bangkit dengan sejuta cerita Menghidupkan hati yang telah mati Membangkitkan jiwa yang telah hancur Berkatmu aku kembali Berterimakasihlah pada yang terkasih Membiarkan ku mengetahui tentang diriku Kamu dan Harapan Kamu berusaha kuat untuk mengabaikan Kenyataannya hatimu selalu memikirkan Kamu berusaha kuat membiasakan Kenyataannya hati

Puisi Ridho Alsyukri

Gambar
  Ilustrator: Envato Tuts Kepada Penyair Kamar I Di ruangan 2x3 meter Kau sibuk berkutat dengan kata-kata Mengukur setiap jengkal baris Dengan bentuk kata yang jauh dari simetris “Sajak adalah kehidupan” katamu Yang dibesarkan seperti anak sendiri Disusun pada setiap terkaan Akan kata yang mengambang dia angan “Aih. Seperti iklan saja. Dibesarkan seperti anak sendiri” ucapmu Seketika kau ingat iklan kecap bango Dan kau menulis puisi Tentang burung perkutut Yang bersemayam di selangkanganmu.     Padang, September 2020 Kepada Penyair Kamar II Separuh sajakmu hampir rampung Dan kau mulai bingung Kandas pada ide yang mengambang di angan Buntu pada kata yang ingin kau torehkan Pada kertas-kertas yang berantakan Lalu kau mulai mengusai celengan kata Membongkar semua isinya Kata-kata melankolis yang kau tuju Yang bertemakan hujan, cinta, dan rindu Sudah semua kata kau cari kau tilik dan teliti Namun tak satu jua Sesuai dengan keinginan kau punya jiwa Onani, anggur, rembulan Sampah, sump

Puisi Putrarico14

Gambar
  Antara benci dan cinta Akan kupilih antara keduanya untuk kita Supaya dan menjadi kata hubung paling damai Saat kau menarikku menepi berbisik : “Aku benci mencintaimu!, aniaya paling dungu aku lakukan” Akan kupilih antara keduanya untuk kita Supaya cintamu tidak bagian benciku, dan Supaya bencimu bukan kepada mencintaiku Saat kau berpapasan denganku di sebuah taman atau pantai Tempat kita menjelma sepi ufuk barat berganti langit Akan kupilih antara keduanya untuk kita Menjadikan kata dan damai yang paling nyaman bersandar senyuman “Cinta dan benci ialah rasa yang sama meledak, Saat kasih tidak temui kisahnya Dua kata tidak saling temu dalam satu waktu” Lintau, 2020 Ditelepon pacarku “Besok jemput aku di ujung mimpimu dengan kapal layar besar jam 09.00 WIB.” “Berdoalah matahari terbit di ufuk Timur mataku untuk itu” “jika tidak, aku akan tenggelam di lautan dalam, mata airnya dari air mata” “Jika aku tidak bangun; aku telah kalah oleh waktu dalam menangkan cintamu oleh makhluk pa

Puisi Yosi Adi Setiawan

Gambar
  Mata Waktu Tiap hari mata ponsel bertengkar dengan mataku untuk memastikan tatapan siapa yang paling tahan lama. "Makin lama kok makin gawat saja." Waktu menggerutu. Ia menggelinding pelan dan bosan menunggu siapa yang akan menyerah duluan. Hujan datang menjelang subuh dan waktu tak perlu lagi menunggu. "Selamat istirahat." Ucap mata ponsel berat. "Selamat tidur, besok kita lanjutkan lagi!" Jawab mataku yang seakan kehilangan warna. Tahu tak lagi menunggu, waktu terbang dan melayang meninggalkan sepi dan sunyi bertengkar di kamar mimpi. Padang, 2020.   Malam Sepi yang Telah Abadi Malam yang rindu sedang memeluk waktu, menidurkan sepi yang setengah jadi. Malam sepi yang telah abadi. Malam yang tua sedang menyusun doa, memupuk kenangan di antara remang-remang. "Aku ingin tidur lelap di matamu; menyepi dan menghilang." Ketika itu ia pejamkan matanya sambil mengucap pelan: "Selamat tidur, malam sepi yang abadi." (2020) Hilan

Puisi Suyila Lamka

Gambar
  Melihat diam Pada benturan bahasa bunyi bahasa yang tak lekang oleh waktu berulang pada tasbih jika dan ketika menggeluti paham berima kuasa airmata pada sajak yang lelah membasahi arti akan cinta itu hanya kini tersuar padamu hinggap pada bait pusaka doa. Pada setiap zaman selalu saja ada keindahan yang saling bertaut dengan anggun, hingga saatnya kelak bait-bait menyusun api unggun. Dengan rapi ketuhanan merebak sepi, kemudian jiwa rapuh dalam bunyi pada titik puisi. Pada kita yang sebatas ada, selurus ucap dan dengar. Kembali adalah bahasa ibu dalam rahim menyusun rindu pusara terngiang pada jarak jatuh mendekat dari terjauh.  Kopi untukku Banyak kata menghilang dikesunyian menggapai pada yang tak sampai seperti berucap dari pagi menuju siang menitip lelah pada aroma kopi melihat sore dalam penat yang bergerak rapi menuju tubuh sehingga tumbuh serumpun bunyi berselimut malam mencari yang datang dalam hilang. Selamat pagi itu sebentuk kopi yang melarutkan bias kata-kata semalam. J

Puisi Apriwanto

Gambar
  RINDU LINGKARAN  Saat semuanya saling sapa Saling bahagia Berbagi tanpa kenal nama Laksana penyu dengan cangkangnya Saat semuanya menemukan manisnya ukhwah Laksana semut dengan gula Saat semuanya telah berubah pada zonanya Laksana kopi tanpa gula hingga hitam semu semata Padang, 2020 DOA SEORANG HAMBA Malam telah datang Pagi segera bercahaya Sementar aku terlentang dalam selimut pagi Pikiran tak tentu arah Tujuan mana yang akan singgah Mata memandang bukan haknya Nafsu senantiasa membara Membakar hingga panas terasa Setan gembira ria Sudah terperangkap jeratnya? Padang, 2020 HIDUP SEKALI Hidup seperti lebah Tidak merugikan manusia Bermanfaat bagi sesama Berbekas hingga ke surge  Hidup bukan sekedar singgah Hidup perantauan sementara Gelombang dahsyat didepan mata Kayuh erat dengan iman taqwa Hidup adalah perjuangan Bukan pertolongan Bukan mengemis di jalanan Usaha akan terbuka jalan Hidup adalah proses Bekal panjang dalam sanubari Surag imian dihati Padang, 2020 RI

Puisi Tuti Masda Yani

Gambar
  Saudara Kita lahir dirahim yang sama Memiliki perawakan serupa tak terpisah Ibarat pinang dibelah dua Kau ada sebelum aku berkunjung ke bumi ini Impian Ibu adalah agar kita selalu hidup rukun Saling membantu bukan membenci Kau adalah saudaraku Tempat berkisah yang tak jenuh mendengar Tetaplah beriringan walau di jalan yang berbeda Hidup yang bahagia adalah impian kita Meski suatu hari nanti kita akan menjalani kehidupan yang berbeda Balai Selasa, 2020 Sepasang Sepatu Kaca Tak sengajaku lihat sepasang sepatu kaca Tergeletak di sudut jendela toko tua Amat indah kala mata memandang Hei sepasang sepatu kaca Bolehkah aku menjadi Tuanmu Aku ingin memilikimu Kau tampak anggun jika dikakiku Aku ingin menari bersamamu Melompat tinggi ke angkasa Seakan tidak ada beban dibenakku Melepas semua rasa letih Alangkah indah jika semua itu kulakukan bersamamu Wahai sepasang sepatu kaca Balai Selasa, 2020 Pelangi Indah di mata Ibu Ibu Aku tak ingin kau tampak gundah Kepergianku ke kota han

Puisi Epi Muda

Gambar
Senja Di Kedai Kopi Ada kidung yang terus berkidung menyiram rindu yang masih melekat dalam dada Dengan sepotong mimpi merekah dalam terkaan sunyi Selepas itu, mata tak sanggup memebendung derita Di ujung bibirnya melekat beribu tanya lantaran bibirnya mengandung racun mematikan Kedua telapak tangannya mengusap debuh tanah yang melekat pada keningnya Akasara senja menyibakan puluhan kenangan Selepas puisinya mati di ujung waktu petang itu bersama segelas kopi buatan tangan tuan rindu Kedai kopi yang ia singgah setiap senja mencabik rindu menyulam derita Sebelum pria yang dicintainya tertidur pada ceruk matanya Dalam ingatannya ada setengah dari jejak langkah meletup  Dan selalu menamakan dirinya pengemis senja Memilah kata di tengah aroma kopi itu adalah rindunya akan penantian yang tak berujung Unit Gabriel, 2020 Di bawah catatan akhir Pada lembaran akhir buku kita adalah kuli waktu tentang segala remah-remah rindu selama kita menemukan garis awal awal dan akhir di setiap waktu Apakah

Puisi Nurmansyah Triagus Maulana

Gambar
  ODGJ Seseorang tengah nikmat di kursi panjang Di sebelah orang sedang mengujar keras Anda tahu? Gusti Allah Maha Rahman dan Rahim Saya kalau jadi pejabat sebagai perantara Tuhan Saya kasih tahu haah, kusiapkan uang untuk kalian Mobil? Sepeda motor? Kulkas? Atau apa haah? Fleksibel bukan? Orang di kursi bangun barangkali itu sesuatu yang bagus Keras, lantang, dan bijaksana dari ruang sebelah Dilihatnya orang kumal berbaju sobek-sobek Kali ini berteriak keras “Ternyata ODGJ” ia kembali dengan kekosongan Pemalang, Oktober 2020 Jalan-jalan di Batas Kota Cemara telah menerbangkan sesuatu Jalanan tidak menjejak apa pun tentang dirimu Apalagi angin sengaja melupaku dan dirimu Kemarin baru saja ada lelah di sini Sekaligus riang kini menjadi siluet Kemudian menjadi sepi Nyaman saja berjalan dengan kenang Seraya kau sudahi kenangan ini Antara kotaku dan kotamu Pemalang-Purbalingga, Oktober 2020 Rasa-rasa Hari Ini Di lalu lintas orang mengenal makna Berjalan di kala merah dan tetap ja

Puisi Putrarico14

Gambar
Berpikir Aku telah putuskan berakhir Saat mereka memulai awalnya Lintau, 2020 Berbijak Menyenangi musim gugur tiba Memungut guguran daun, membakarnya jadi debu “Kompos untuk tunas baru bersemi” Lintau, 2020 Berpuisi Malam, hujan dan saya Sama halnya di meja itu Rokok, kopi, dan korek api Tiada lain antara kami, selain cinta! Bukan? Lintau, 2020 Bekerja Selesaikan layaknya deadline “Dimabuk waktu” Maksimalkan bak berjudi “Dinilai Tuhan” Sidimpuan, 2020 Berbenah Setiap orang bisa sukses dan berhak memilikinya Tapi tidak kepada Survive Bertele dan ribet termasuk penghalangnya Sidimpuan, 2020 Biodata penulis Putrarico14, lahir 14 Mei 1998 di Koto Panjang, Lintau. Mahasiswa Filsafat Islam UIN IB Padang, bergerak bersama kawan-kawan taman baca Kelinci Sakti dan aktif di sanggar Kaligrafi Islam Al Aqlam padang.

Puisi Edo Sapraja

Gambar
  Tenggelam Aku tenggelam dalam laut itu Dihantam  gelombang  Diterjang sang ombak Hanyut dalam permasalahan tanah airku Hingga lupa rasa manis merah jambu Kuselami lagi cinta dan kasih sayang Sebagai penenang problematika negeriku (Siguntur, 2020) Rantai Baru Kacung Hai Kacung-kacung di luar sana yang akan turun kejalan-jalan Menggaungkan status perkacungan kalian Status rantai dan kekangnya Yang dulu usang dan karatan Dan kelak akan digantikan Dengan besi-besi barunya Made-in manca negara (Padang,2020) Esok Hai Kacung yang esok turun ke jalan Hati-hatilah esok di jalan Jangan kau pergi dengan tangan kosong Bawalah ranti-rantai lamamu Bawalah juga Kekang barumu Jangan sekali kau pergi kosong Supaya jangan engkau di jalan Malah diperkacungi esok di jalan (Padang, 2020) Negeriku yang lucu Sungguh lucunya negeri ini Guyonan akbar tahun ini Lucunya sudah tidak ketulungan lagi Bukan karena tontonan stand-up komedi Atau opera komedi yang hampir mati Tapi karena rakyat di negeri ini Diperkac

Puisi Syukur Budiardjo

Gambar
  Siapakah Dia? Dia ada di kereta. Ada di bus kota. Ada di balai kota. Ada di Jakarta. Ada di Purwakarta. Ada di Surakarta. Ada di Jogjakarta. Ada di Minnesota. Ada di Dakota. Ada di Atlanta. Ada di Kolkata. Ada di Bogota. Dia ada di celana. Ada di Singaparna. Ada di Natuna. Ada di Ghana. Ada Arizona. Ada di Indiana. Ada di Argentina. Ada di Bostwana. Ada di China. Dia ada di Jetis. Ada di Cimanggis. Ada di Bengkalis. Ada di Parangtritis. Ada di Paris. Ada di Inggris. Ada di Portugis. Ada di Swiss. Dia ada di keraton. Ada di Buton. Ada di Kanton. Ada di Boston. Ada di Washington. Ada di Wellington. Dia ada di Surabaya. Ada di Tasikmalaya. Ada di Nagoya. Siapakah dia? Jawab: Dia virus corona. Penakluk dunia. Cibinong, Agustus 2020 Yang Disukai dan yang Ditakuti Yang disukai banyak orang: Toyota Corona. Yang ditakuti setiap orang: wabah corona. Cibinong, Agustus 2020 Macam-macam Alat Penutup Penutup kepala: topi. Penutup payudara: beha. Penutup kemaluan: cangcut. Penutu

Puisi Yusriman

Gambar
  AKU, KAU, DAN SAHABAT 1 Berawal dari kisah si binatang culun Yang hanya diam dikala ada berita Tak ada wajah tanpa dosa sedikit pun Menyaksikan senyuman bunga di wajah sahabatnya Namun apalah daya Dibalik semua itu ada maksud Si binatang culun Yang akan haus dengan makanan AKU, KAU, DAN SAHABAT 2 Karena semua itu telah di rencanakan Yang tanpa Segerombolan kaum mengetahuinya Budaya licik telah timbul Budaya akan haus segalanya telah datang Itulah dia si binatang culun Pura-pura tidak ada masalah Diantara sejenisnya Sedangkan mereka adalah sejenis Dan satu kekeluargaan Namun budaya itu telah di renggutnya AKU, KAU, DAN SAHABAT 3 Segala sesuatunya telah di rencanakan Tak ubahnya bagaikan macan menyambar rusa Gerak-gerik telah di ketahui Namun masih menyembunyikan batu Di balik kepalan tangan Seolah binatang lain tidak mengetahuinya Namun gerak-gerik itu telah terbaca oleh rusa Namun si rusa tertangkap jua Sungguh malang nasibmu Wahai kau si rusa tumbal AKU, KAU, DAN SAHABAT 4

Puisi Fitri Rahmadhani

Gambar
  (Ilustrator: Joyken) Jika Tuhan Mengizinkan Pada pangkuan malam kubersimpuh Bersujud merendahkan diri Mengutarakan untaian zikir Mengucap banyak doa Untuk merayu tuhan di sepertiga malam Tuhan jika engkau mengizinkan Kuingin dia yang saat ini sedang bersamaku Untuk tetap tinggal dan menetap dalam rangkai cinta Untuk tetap melangkah bersama diiringi rasa kasih Aku ingin menemui-Mu bersamanya Dengan iman dan rasa cinta yang telah kekal abadi Bersama dia yang telah membuatku terus jatuh cinta pada diri-Mu Padang, Oktober 2020 Tangis Dalam Diam Rasanya begitu perih Terasa sangat pilu Kala hati dipaksa untuk bertahan Menahan sesak yang teramat dalam Membendung beban yang terus menghujam Menyembunyikan luka di balik tawa Menutupi kecewa dengan seuntai senyum Hanya untuk terlihat baik-baik saja Tuhan rasanya aku ingin menyerah saja Padang, Oktober 2020 Terpikat Rasanya begitu cepat Waktu berjalan begitu singkat Semenjak salam terucap Semenjak tangan sudah saling menjabat Hatiku sudah

Puisi Yohan Mataubana

Gambar
  (Ilustrator: Joyken) Dua Musim Musim kemarau berlalu tumpukan dedaunan disapu entah angin atau tanganmu bagai kenang di keningmu usai terbelenggu Musim hujan datang dengan langit amat muram burung-burung pada guyur ke sini-ke sana dan cemas menjelma pertanyaan: kita hendak tidur di mana? Dua musim bertemu mereka beradu dan mengusik perbincangan kamu dan tamu-tamumu sedangkan aku akan datang sebagai debu kemarau  yang selalu memulangkan masa lalumu atau sebagai hujan yang dingin di keningmu Musim itu seperti tubuhmu dan aku debu kekasihmu Setiap kali tubuh ditanggalkan dari kekasihmu maka cinta yang paling ditunggu adalah memasuki rongga dadamu  dan membiarkan kuncup itu berduka Mikhael, 2020. Janji Musim Berjanjilah, sayang hujan sore tadi tak lebih dari rintihan matamu bahkan burung sendiri tahu rintiknya mengandung kamu Berjanjilah, sayang musim hujan sudah menindih ubun imanku kemarilah dan ajarlah aku tidur dengan kepala penuh benih rindu biar kelak berbuah syahdu

Puisi Anton Sucipto

Gambar
  (Ilustrator: Joyken) “HAMPA SENDIRI” Perjalanan ini ku masih sendiri Sejuta harap berteman mimpi Segenggam tawa berlari Sekuntum mawar berduri Tak mampu menari Tak mungkin menyanyi Masih berjalan sepi Beradu canda sunyi Terlelap hampa sendiri “IMPIAN” Tetesan embun pagi Gerimis hujan rintik Tak membuat langkah membaik Kicauan burung camar Mengusap letih yang samar Nyanyian jangkrik di sawah Menggelayuti melodi amarah Ombak menari di laut Melambai hampa bertaut Mengajak sepi fatamorgana Menyulam puing raga Menghempaskan sejuta mimpi “MANIS TAWA” Sore hampir menyapa Ku lihat seberkas cahaya Ku ingat hangat melanda Ku ingat senyum mempesona Namun kini sunyi merana Bergelayut sepinya raga Berkecamuk serpihan kata Menanti manisnya tawa “ZAMAN” Ku tahu bumi ini tua Menyadari usia akan bertambah Memandangi roda itu berputar Mungkinkah terpuruk di bawah Mungkinkah terlena letih lelah Memastikan zaman tak mencibirku Mengharap indah akan merayuku “MASA KECIL” Masa kecil telah ber