Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

 


Yang Bukan Penyair

yang bukan penyair

tetaplah berdesir

di bibir pantai

membiarkan pasirpasir

berzikir

ditimpa terik

panas siang

hati yang cadas

batu giok puisi

meluncur di jemari

di selasela doa

selat menuju Taala

yang menguasai ilmu Musa

kekuatan percaya

pada kata

yang membelah dada

o

penyair

yang bukan penyair

sama-sama katakan amin

bagi segala akidah

ikaikan kawin

Taman Sari, 31 Desember 2018


Mimpi dan Kelam HF

telanlah segala mekar bunga jantanku

jika tiba-tiba babi hasratku melebarkan puak telingamu,

bila bangkai HF berjatuhan ke cendrung hidungmu,

biarkan angin ketidakpastian sakal ke tapal akalmu.

percayalah, tak ada yang lebih indah dari dosa paling purnama,

tak ada yang lebih sakau selain silau sukma yang tak terhalau,

seluruh larangan adalah taman penyimpan jangan-jangan

dan seluruh pagan dugaan.

kau pasti pernah tergoda mendaki pagoda cinta

yang kadang tak masuk hati bukan?

ia akan sewaktu bila seperti laba-laba yang memuja-muja

jala mulutnya

apa yang tak pantas ia miliki,

apa yang tak tuntas ia nikmati,

apa yang tak luncas terberkati.

bila saatnya rasi-rasi rusuk dipadamkan,

hendak kuubah bintang diriku menjadi binatang.

kau hendak seliar apa aku di hadapan nestapa-neraka kepergian?

2015 - 2021


Bung, Bunga-bunga di Kepalamu adalah Buku (3)

- bagi Bung Hatta

Sah!

Falsafah Yunani dalam kepala, mengandung Rachmi

sejak pada halaman pertama.

Mutia cerita, buku-buku hampir selengket

                     buku-buku jarimu dalam hidup.

Ke Banda Neira, ke penjara,

buku membebaskanmu ke surga mana suka.

Pikiranmu samudra halaman buku, terbentang dari hening ke hening,

dari kuning ke kuning, padi yang tumbuh tak kunjung mati

dalam isi hatimu yang runduk

Kubang Raya, 25 Juli 2021


Fantasme Camar-camar Mati

aku belum pernah ke kota, kota belum pernah ke aku.

ia mengataiku kampungan, aku mengatainya kotaan.

tapi yang benar kami sama-sama bawa perasaan.

suatu hari aku terpaksa ke kota, dengan alasan yang terpaksa

tidak kucantumkan ke dalam puisi ini.

kota yang aku datangi ternyata sunyi, tidak ada apa-apa,

belum ada apa-apa. karena kota ini kota impian.

kamu takkan bisa mendatanginya sebelum jatuh

berdebam ke dalam jurang tidur atau nganga ketiduran.

aku putus asa, kota ini benar-benar hampa.

sebagaimana dunia dalam Walt Disney apa-apa ada,

atau tidak ada apa-apa sama sekali, tergantung permintaan

si tukang hayal.

tiba-tiba mataku jadi lautan. ya, aku menangis.

setiap tetesnya berisi seribu satu camar lelah berbentuk kristal.

ketika jaga, bantalku basah seperti terendam, entah karena liurku

atau aku benar-benar menangis, tapi yang pasti, hal-hal ngeri pun terjadi,

seribu satu camar mati hidup kembali. sepesekian cahaya mereka membawa

terbang bantalku. tidak ke kota, tidak ke kampung, tapi ke dalam dadaku.

mereka menukik berwindu-windu, sampai waktu jadi rindu,

Kubang Raya, 13 Juli - 25 November 2021


Pengakuan Kulkas

: Ferdi Afrar

tubuhku yang dingin dan angkuh, akan mampu

membekukan cairan apa pun tanpa ampun.

kecuali cairan yang selalu panas di antara otot perut

dan tungkai pahamu.

2013


Biodata Penulis

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Adalah Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Mengajar English Acquisition di TK Islam Annur Bastari. Mengajar English Daily Conversation di Smart Fast Education. Ia belajar Bahasa Spanyol secara Otodidak. Menulis sejak 2006. Karya-karyanya dimuat di berbagai media. Memenangkan sejumlah lomba menulis puisi. IG: @muhammadasqalanie. Twitter: @katadentoj. Youtube: Dunia Asqa. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER)


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer