Potret Kebahagiaan



Penulis: Ramli Lahaping

Hidangan telah tersaji lengkap di atas meja. Tampak sangat menawan dan menggugah selera.

“Eh, jangan sentuh. Sebelum makan, harus diabadikan,” sergah Radi kepada Mira, istrinya. “Ayo, senyum.”

Istrinya pun patuh saja.

Untuk beberapa kali, Radi kemudian memotret jejeran makanan dan minuman tersebut dengan istrinya sebagai latar belakang. Setelah merasa memperoleh hasil yang memuaskan, ia lantas menyimpannya saja, sembari menangguhkan rencananya untuk membagikannya di laman media sosial. Ia ingin menunggu waktu yang tepat untuk memamerkan momen spesial mereka itu.

Hari ini memang hari yang istimewa untuk Radi dan istrinya. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Karena itulah, Radi ingin melewatkannya dengan prosesi yang khusus. Dan seperti yang telah ia rencanakan jauh-jauh hari, ia pun mengajak sang istri untuk makan malam di sebuah restoran yang ia sebut sebagai restoran milik sahabatnya sendiri.

Tetapi sayang, Radi merasa ada yang kurang dan tidak sesuai dengan rencananya. Kali ini, ia tak melihat Fahmi, sang pemilik restoran. Padahal, sebelum-sebelumnya, lelaki tersebut senantiasa hadir dan menyapanya setiap kali ia bertandang seorang diri. Keakraban mereka itu bermula setelah ia memperkenalkan diri sebagai sahabat lama istri sang pemilik restoran tersebut.

Namun sebenarnya, Radi tidaklah punya kepentingan untuk berkomunikasi dengan Fahmi selain untuk berbasa-basi. Tujuan utamanya tiada lain untuk menunjukkan kehadirannya kepada Hani, istri Fahmi. Pasalnya, tanpa diketahui siapa-siapa, Hani adalah mantan kekasihnya dahulu, yang meninggalkannya ketika ia masih memiliki perasaan yang mendalam.

“Lihat, kamu tampak sangat cantik, Sayang!” puji Radi untuk Hani, antusias, tiga tahun yang lalu, selepas ia mengambil foto sang pujaan dengan latar belakang matahari yang nyaris tenggelam. “Aku yakin, foto ini akan menang dalam lomba foto yang akan kuikuti.”

Tetapi Hani malah menunjukkan ekspresi yang datar, kemudian bertanya dengan nada sendu, “Apa kau benar-benar mencintaiku?”

Radi pun terheran mendengar pertanyaan itu. “Tentu saja, Sayang. Apa kau masih meragukanku?”

Hani lantas mengembuskan napas yang panjang. “Aku hanya khawatir kalau selama ini, kau hanya mencintaiku sebatas aku sebagai objek fotomu, dan tidak lebih dari itu.”

Seketika pula, Radi tertawa pendek. “Ah, tentu saja tidak begitu, Sayang. Aku benar-benar mencintaimu seutuhnya, bukan dalam perkara bingkai kamera saja.”

Dengan raut sayu, Hani hanya membalas dengan senyuman simpul yang singkat, seolah masih mempertanyakan kesungguhan hati Radi kepadanya.

Tetapi pada waktu-waktu berikutnya, Hani malah makin meragukan keseriusan Radi. Ia merasa makin disepelekan seiring dengan kegandrungan Radi pada dunia fotografi. Ia bahkan merasa tidak lagi diperlakukan sebagai kekasih setelah Radi makin fokus dan banyak menghabiskan waktu untuk urusan fotografi yang telah memberinya penghargaan dan pendapatan materi.

Sampai akhirnya, karena merasa disepelekan dan dikesampingkan oleh Radi yang makin candu melakoni aktivitas potret-memotret, Hani pun mengambil keputusan sepihak untuk memutuskan hubungan mereka.

Tentu saja, Radi tak menerima. Ia tetap berkeinginan untuk melanjutkan hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan. Tetapi pada akhirnya, ia harus menerima nasibnya, sebab tak lama setelah mereka berpisah, Hani kemudian menikah dengan Fahmi, seorang pengusaha restoran, sekitar dua tahun yang lalu.

Tak ingin berlarut-larut dalam kedukaan, Radi pun berupaya mengikhlaskan takdir cintanya. Tetapi di balik keterpaksaannya itu, perlahan-lahan, dendam terus bersemai dan bertumbuh di hatinya. Ia jadi ingin menunjukkan bahwa ia bisa hidup lebih bahagia ketimbang Hani. Ia jadi ingin membuat mantan kekasihnya itu menyesal karena telah mencampakkannya.

Atas hasrat besarnya itu, setahun setelah Hani menikah, ia pun memutuskan untuk menikah. Ia ingin membuktikan kepada Hani bahwa ia juga bisa lepas dari jeratan masa lalu mereka. Lebih dari itu, ia ingin pula menunjukkan bahwa ia bisa hidup bahagia dan mampu membahagiakan istrinya, dengan tujuan untuk membuat Hani cemburu.

Demi melancarkan misinya, Radi pun makin gandrung bermain-main dengan mata kemera. Setiap kali berada dalam momen spesial dengan sang istri, ia akan mengambil foto kebersaamaan mereka, lantas membagikannya di media sosial. Tujuannya tiada lain untuk memamerkan kepada sang mantan kekasih bahwa ia telah hidup bahagia bersama istrinya.

Setelah sekian lama, Radi pun merasa bahwa tujuannya tercapai. Itu karena ia tak pernah melihat sang mantan kekasih memamerkan momen kebersamaannya dengan suaminya selepas hari pernikahan mereka, sedangkan ia malah makin intens melakukan itu dengan istrinya. Karena itu, ia meyakini saja bahwa sang mantan kekasih menjalani hidup yang tidak membahagiakan dengan suaminya, sedangkan ia malah terus mempertontonkan kebahagiaan dengan istrinya.

Demi membuat perasaan mantan kekasihnya itu makin sengsara, belakangan waktu, ia pun makin kecanduan mengunggah foto kebersamaannya dengan sang istri. Ia yakin saja bahwa sang mantan kekasih akan menemukan foto mereka di beranda media sosial, dan sang mantan kekasih akan merasa iri melihat potret kebahagiaan mereka.

Karena hasrat balas dendam itu pula, saat ini, Radi merasa kecewa karena ia tidak menemukan keberadaan Hani di restoran. Ia merasa gagal untuk menunjukkan keromantisannya dengan sang istri secara langsung kepada mantan kekasihnya itu. Padahal, ia telah membayang-bayangkan bahwa momen istimewanya kali ini akan menjadi pembalasan terdahsyatnya untuk sang mantan.

“Kak,” sapa Mira, istrinya, sebagaimana biasa ia menyapanya. “Kok plonga-plongo sedari tadi. Ada apa?”

Radi sontak tersadar dari lamunannya. Ia kemudian menggeleng. “Tidak apa-apa, Sayang.”

“Kalau begitu, ayo, makan. Mumpung masih hangat,” ajak sang istri.

Ia mengangguk saja, tetapi tak benar-benar menyentuh hidangan.

Seorang pelayan lalu melintas di sampingnya, dan ia lekas menahan dan bertanya, “Pak, pemilik restoran ada?”

Sang pelayan menggeleng. “Mereka lagi ke luar kota, Pak.”

“Mereka ada agenda apa?” selidik Radi.

“Mereka pergi liburan, Pak. Setiap dua bulan sekali, mereka memang senantiasa liburan ke tempat yang jauh. Entah ke luar kota, atau ke luar negeri,” terang sang pelayan.

Seketika pula, Radi terkejut. Perasaannya hancur.

“Memangnya kenapa, Pak?” tanya sang pelayan.

Radi lekas menggeleng. “Tidak apa-apa. Kebetulan, mereka temanku dahulu. Aku hanya bermaksud bertegur sapa dengan mereka.”

Sang pelayan pun tersenyum, lantas pamit dan pergi.

Dengan penuh kekalutan, Radi kemudian membuka dan menatap hasil jepretan kameranya beberapa saat yang lalu. Setelah menimbang-nimbang, ia lantas menghapus semuanya.

Pelan-pelan, ia pun mulai menyentuh hidangan dengan perasaan kecut.

“Ah, aku sangat senang karena Kakak mengajakku ke restoran milik teman Kakak ini. Makanannya benar-benar enak,” tutur istrinya kemudian. “Lain kali, kita mampir ke sini lagi, ya, Kak?”

Radi hanya mengangguk dengan senyuman terpaksa.***

Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).


Komentar

Postingan Populer