Tukang Pijat Bukan Dokter

Oleh: Intan Hafidah NH


(Ilustrator: JoyGo)


Suara bising kereta sesekali mengusir kesunyian di salah satu malam yang paling panjang itu. Angin menjalar ke sekujur badan yang gigil, sebab pakaian yang ia kenakan telah tidak utuh lagi. Celana panjang hanya tinggal sepertiga, akhirnya menjadi celana setengah panjang dan setengah pendek, dengan guntingan kasar tak beraturan di bagian kanan, serta baju yang kancingnya telah lepas sebagian. Badan tak berdaya untuk membetulkan posisi tidur yang nyaman, sesekali ia memintaku untuk mengangkatnya dan membenarkan posisi tidur, terutama letak bantal kepalanya. 

Hujan, entah kapan redanya semenjak sore, tidak ada tanda akan berhenti. Hujan di matanya juga demikian. Tidak ada kalimat sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya, hanya ada raut wajah pucat, karena menahan rasa sakit, yang mungkin semakin lama semakin terasa di ujung-ujung syarafnya. Aku hanya berusaha untuk lebih tegar darinya agar dia memiliki pikiran yang positif, kalau dia tidak apa-apa. Malam yang panjang akan berlalu, dan besok semua akan baik-baik saja.

Suaranya nyaris hilang saat memanggilku. Mendengarnya mata seakan tidak mau bekompromi, aku merasa beberapa tetes air mata jatuh ke pipi, langsung kuhapus sebelum ia melihatnya. "Bapak, sa, sa, ki..." Aku hanya bisa membetulkan selimut yang kuberikan untuknya. Tahu apa aku soal kesehatan, buruh sopir yang setiap hari bertemu dengan setir, rem, dan gas saja. Dia adalah anakku, aku sering memanggilnya, Nunu. Tadi sore selepas aku ingin berangkat membawa muatan ke Jakarta, Nunu menelepon. Suara tak jelas dan terdengar ia sedang berada dalam kerumunan. Hujan dan petir kian bergemuruh, menambah riuh suara anakku tak terdengar.

Setelah komunikasi via suara gagal. Nunu kemudian mengirimkan pesan melalui WA. Ia hanya menuliskan kalau baru saja ditabrak orang dan memintaku segera datang membawanya ke rumah sakit, karena ia merasakan tangannya sakit tidak dapat digerakan. Aku sangat panik mendengar kabar itu. Serta merta kubatalkan jadwal berangkat kerja dan langsung menuju ke lokasi kejadian Nunu kecelakaan. 

Setelah sampai di lokasi kejadian. Aku tidak melihat siapa pun ada di sana. Hanya beberapa petir yang lewat di perempatan tempat anakku tertabrak. Pikiranku semakin kacau, setelah Nunu menelepon. Namun bukan suara dia yang kudengar, melainkan pelaku yang menabraknya. Ia seorang bapak-bapak paruh baya, tujuan dia menelepon untuk bertanya anakku akan dibawa ke mana. Kemudian tidak jauh dari lokasi kejadian ada rumah mertuaku. Memang Nunu berniat ingin bermalam di sana beberapa hari selama PKL (Praktek Kerja Lapang). Aku menyuruh mereka mengantarkan anakku ke rumah kakek dan neneknya. Pelaku sangat takut denganku, terlihat dari suaranya yang gagap dan gemetar. Perjalanan ke sana sekitar satu jam, setelah sampai di sana, kulihat Nunu menangis kebingungan sambil melihatku penuh harap. Ia melihatku seperti pahlawan yang akan mengembalikan semuanya seperti semula.  

Aku redam seluruh emosiku pada pelaku, seluruh warga dan kerabat dekat mertuaku ramai di sana untuk melihat atau sekedar ingin tau kabar anakku. Dia juga berusaha menenangkan dan meyakinkanku bahwa dia akan tanggung jawab atas semua yang terjadi pada anakku. Ia mengaku salah dan menceritakan kejadian versi dia, dia merasa bukan hanya dia yang salah, namun anakku juga bersalah. Kecelakaan itu telah membuat anakku luka-luka dan dia yang menabrak baik-baik saja, tidak ada luka sedikit pun.

***

Perkenalkan, saya Baba. Tadi saya ingin pulang ke rumah, karena suasana mendung jadi saya menambah kecepatan kendaraan motor saya, agar tidak kehujanan di jalan. Saya memang tidak melihat kanan kiri saat menyebrang di perempatan jalan Trauma itu. Tiba-tiba dari arah kanan anak bapak, menyebrang. Dan saya kira akan tidak akan menabraknya, namun saya tidak sempat mengerem motor saya, dan menabrak motor anak bapak. Helm saya terpental jauh dari saya, dan anak bapak beserta motornya keseret jatuh dari tengah jalan ke pinggir jalan depan tiang listrik. Posisi anak bapak jatuh tertimpa motornya dan motor saya, untunglah anak bapak tidak menabrak tiang listrik atau jatuh ke tiang listrik. Saya langsung menolong anak bapak yang sudah setengah sadar, kemudian menenangkannya di warung pinggir jalan. Kaki kanannya sepertinya luka, dan tangan kirinya sakit. Semenjak saya menolongnya, ia menjerit jika seseorang menyentuh tangan kirinya.

***

Ceritanya begitu lurus, seakan-akan dia tidak mau disalahkan. Beberapa warga memberi kesaksian bahwa si  Baba memang sering memendarai motor kebut-kebutan di jalanan. Baba, mertuaku, serta kerabat menyarankanku untuk memanggil seorang tukang pijat yang dipercaya dapat mengobati luka-luka kecelakaan, seperti: kesleo, tulang disposisi, tulang retak,  dan tulang patah. Karena aku sudah bingung juga harus bagaimana, akhirnya aku dengarkan dan setujui saran mereka untuk memijatkan Nunu ke tukang pijat kepercayaan warga desa itu.

Tidak perlu waktu lama, tukang pijat desa yang kukenali bernama Wawa itu ternyata datang, langsung membasuh dan mengurus luka-luka Nunu. Kaki kanan Nunu ternyata terdapat luka bakar, karena kenalpot motor penabrak yang memang menjatuhi anakku. Terpaksa celana yang Nunu kenakan harus digunting memang sudah sobek sejak jatuh. Pundak tangan  kiri Nunu pun dipijat. Menurutnya, luka Nunu hanya luka ringan. Ada dua posisi tulang yang geser, katanya. Aku tidak tega melihat Nunu kesakitan saat dipijat, air matanya terus mengalir, tangan kanannya kuat menggengam tanganku, dan rintihannya ingin keluar disuarakan namun ia tidak dapat teriak karena syaraf pundak yang dekat leher jika bergerak akan sakit. Hasil dugaan dari tukang pijat itulah yang meyakinkan anakku bahwa ia tidak apa-apa. Pelaku begitu senang dan bersyukur atas itu, bahkan dia pun ikut meminta dipijat meski tidak apa-apa. 

Setelah itu, Nunu semakin kesakitan. Ia hanya mengatakan bahwa jika dibawa untuk berjalan rasanya ada dua tulang yang bergerak-gerak, menusuk-nusuk dagingnya. Padahal pundaknya sudah dipijat dan diperban yang kata tukang pijatnya sudah dibetulkan ke posisi semula tulang yang geser tadi (disposisi). Kini ia hanya menahan sakit, dan berharap pagi segera datang. Posisi tidur adalah poisinya yang paling sulit. Karena saat tidur tulang pundaknya yang sakit akan tertekan dan lebih terasa menusuk dagingnya jika posisi bantal tidurnya tidak tepat.

Bunyi kereta lewat masih terdengar hingga pukul 03:00 pagi, memang desa mertuaku ini dekat gunung Slamet. Ada perlintasan kereta di kaki Gunung Slamet yang suaranya terdengar nyaring saat malam hari terutama klaksonnya. Selain bunyi kereta juga udara dingin semakin masuk ke rumah tua mertuaku. Udara pegunungan itu kian membuat nyeri dan linu sekujur tubuh Nunu. Malam yang begitu panjang kami lewati berdua menghitung detik jam dan menunggu pagi. 

Hujan mulai reda setelah mentari bertandang, hari kedua aku menemani anakku yang kesakitan. Nunu hanya ingin dibawa ke rumah sakit untuk dironsen. Dia hanya butuh kejelasan kalau tulang yang ia rasakan bergerak-gerak dan semakin menusuk-nusuk daging itu hanya disposisi seperti yang dikatakan tukang pijat, kepercayaan warga kampung. Nunu mulai berani mengatakan beberapa kata, ia hanya menyampaikan kegelisahan atas rasa sakit yang ia rasakan. 

Pelaku, si Baba pun datang ke rumah mertuaku membawa perangkat desa. Katanya ingin menjelaskan mengenai pertanggung jawabannya atas anakku. Singkat cerita dia hanya ingin bertanggung jawab untuk biaya pijat senilai 50 ribu. Jika anakku ingin ronsen itu ditanggung aku sendiri. Atau jika anakku ingin dirawat di rumah sakit dia tidak ingin tanggung jawab biaya. Aku begitu marah dengan keputusannya, dia sepertinya memang ingin lari dari tanggung jawab. Sampai-sampai dia membawa perangkat desa, untuk apa? Takut aku membunuhnya? Dengan sikap pengecutnya sebagai seorang pelaku. Tetapi aku masih sabar dan memberikan persetujuanku kalau dia harus membayar 50% dari seluruh biaya rumah sakit nanti. Bahkan saking takutnya anakku dibawa ke rumah sakit, dia menyarankan anakku dibawa ke pengobatan alternatif. 

Keraguan dalam hatiku mulai tumbuh subur. Biaya rumah sakit memang begitu menakutkan. Belum lagi akan kepercayaan bahwa jika di rumah sakit, sakit apapun akan diperumit dan dioprasi agar pihak rumah sakit mendapat bayaran belasan bahkan puluhan juta. Orang-orang desa sebagian besar percaya lebih baik ke alternatif dengan biaya murah tanpa oprasi. Namun setelah aku dan Nunu berdiskusi, dia hanya ingin dironsen. Bahkan dia bilang uangnya masih ada di rekening, cukup untuk biaya ronsen. Istriku pun telah datang ke rumah mertuaku, dia pun memiliki pemikiran yang sama denganku, soal menakutkannya rumah sakit.

Akhirnya dengan kesepakatan bersama dan keinginan kekeh Nunu, kami membawanya ke rumah sakit terdekat.  Kali pertama Nunu di bawa ambulance desa, aku merasakan perasaan Nunu yang begitu was-was. Selama 21 tahun ini, dia tidak pernah di rawat di rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, kami langsung membawa Nunu ke Unit Gawat Darurat. Dokter langsung memeriksa Nunu, dan hasil ronsennya pun langsung bisa terlihat. 

Dokter memarahiku karena bertindak gegabah memijat luka pundak Nunu. Dia juga berkata, "Saya tidak dapat membayangkan lagi, bagaimana rasanya menjadi anak bapak, yang tulangnya patah kemudian dipijat urut. Itu sangat nyilu dan sakit pastinya." setelah Nunu mendengar penjelasan dokter, perlahan dia menangis tanpa suara. Dokter melanjutkan penjelasannya, "tulang clavicula kiri Nunu patah menjadi dua, kedua patahan tulang tersebut begitu runcing. Itu sebabnya Nunu merasakan tusukan-tusukan di dagingnya jika bergerak. Kondisi seperti ini jika tidak langsung dioprasi akan bahaya. Patahan tulang yang runcing dapat menusuk paru-paru. Jalan satu-satunya yaitu oprasi pemasangan pen untuk menyambung tulang yang patah agar sesuai posisinya." Nunu semakin menangis dan dia langsung berusaha ke luar IGD. Dokter meminta kami sekeluarga berdiskusi untuk tindakan selanjutnya. Nunu sangat terpukul akan hasil yang telah dijelaskan dokter. Dia terus menangis ditemani mamahnya. Satu kalimat yang aku dengar darinya, " Nunu tidak percaya lagi dengan tukang pijat atau pengobatan alternatif. Nunu kapok." 

Istriku pun ikut menangis tidak tahan dengan situasi yang ia hadapi. Baba hanya terus membujuk kami untuk membawa Nunu ke pengobatan alternatif. Dia bercerita dia tidak akan sanggup untuk membantu biaya oprasi yang diperkirakan sampai belasan juta. Aku dan istriku pun berusaha membujuk Nunu untuk mau mencoba pengobatan alternatif agar dia tidak perlu dioprasi. Aku mengatakan padanya jika dioprasi, dia akan merasakan oprasi itu dua kali, dan kami orang tuanya tidak memiliki biaya untuk semuanya. Nunu semakin kekeh dengan keyakinannya kalau dia tidak lagi percaya akan pengobatan alternatif atau tukang pijat manapun untuk urusan patah tulangnya. Dia ingin berusaha mencari jaminan kesehatan dari kampus, katanya. Aku pun tidak tau lagi harus bagaimana. Untunglah bosku menyarankan agar anakku dibawa saja ke rumah sakit. Bosku memberikan pencerahan bahwa ia akan membantu proses pembiayaan oprasi anakku. Menurutnya Nunu bisa memperoleh uang jaminan kesehatan dari perusahaan Jasaraharja karena penyebabnya kecelakaan di jalan raya. Namun masalahnya uang Jasaraharja hanya dapat dicairkan jika setelah kecelakaan langsung ditanggani. Sedangkan anakku sudah dua hari ini belum mendapat penanganan.

Banyumas, 12 Februari 2021



Intan Hafidah NH, Lahir 13 Maret 1999, di Banyumas. Alumnus D3 Budidaya Ikan, Universitas Jenderal Soedirman UNSOED, Purwokerto. Puisinya dimuat di sejumlah media massa dan antologi. Buku puisi pertamanya berjudul Jejak Jarak (2018). Aktif berkegiatan di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Mengasuh komunitas online bernama Kosana dan Penerbitan Kosana Publisher. Berkenalan lebih lanjut? Hubungi IG: intanhafidahnh/FB: Intan Hafidah Nur Hansah. Cerpen "Tukang Pijat Bukan Dokter" ini merupakan cerpen pertama yang ia tulis berdasarkan kisah nyata dan dikirimkan ke media. 

Komentar

Postingan Populer