Puisi Kumaidatun Nisfiyah


(Ilustrator: JoyGo)



RUMAHKU, HANYA KEMBALI PADA LINGKUNGAN


Terlahir di bumi yang menyimpan sejuta misteri

Terkadang, dipenuhi sekelumit deretan aksara tanda tanya

Mengapa daku terlahir di bawah nabastala?

Atau mengapa daku dihidupkan di atas tanah?


Menelisik lebih dalam lagi ketika penjagaan jiwa ramah

Berdiri kukuh nan melindungi badan bernama rumah

Tak lekang, meninggalkan saat kebutuhan mendesak keluar

Mengarungi deras arusnya angin kencang membuyarkan ikhtiar


Walau bencana alam tak juga kunjung reda

Tersebabkan oleh sekerumunan insan tiada berdosa

Lingkungan ini menjerit dan meraung kesakitan

Mengucurkan darah kekecewan sebagai saksi bisu korban


Kembalilah ke jalan lurus untuk memperbaiki mereka semula

Karena mereka telah memberikan kenikmatan melebihi kemilau mutiara

Buktinya ketika matahari terbit atau terbenam menemani waktu untuk menyendiri

Atau tarian gemulai para pohon ketika hujan sebagai pagelaran pentas seni

Jepara, 28 Februari 2021


KEMBALI PADA GUBUK

Anila berembus menusuk tembok

Celahnya menderu menarikan tirai

Walau rumah selalu berkelok

Tetap meneduh dari guyuran rinai


Celahnya menderu menarikan tirai

Menimpa detik jam ruang membisu

Tetap meneduh dari guyuran rinai

Menepis terik bagaskara kian menyerbu


Menimpa detik jam ruang membisu

Seakan waktu terhenti sekejap

Menepis terik bagaskara kian menyerbu

Menidurkan jiwa berlangit atap


Seakan waktu terhenti sekejap

Masa lalu terputar kembali

Menidurkan jiwa berlangit atap

Pada pemilik gubuk sehidup semati

Jepara, 05 Maret 2021


MANAKALA 3 RUMUS TERGAPAI


Ia bagaikan senja, mengasufkan mata

Menciptakan nuansa harsa berguguran bunga

Walau kulihat pekat binar menjalar warna jingga

Tak perlu mengungkap benci, jika aku belaian jiwanya


Hadirnya meredakan pilu saat kuterjatuh 

Hawa energi bersinergi mengalir deras jari-jemari luluh

Itulah setitik sisi baik kutemui bersemayam pada dirinya

Membekas ruas rindu menggebu pada semasa bersama


Setiap ikatan gelabah memilin dama

Saban pilinan dama merindukan hadirnya

Merumuskan 3 unsur menyusur menjadi takdir-Nya


Langkahku mengetuk pintu di antara tumpuan asa

Menggenggam hidupnya melalui doa

Mengapa daku berbuat seperti itu? Apakah dia merindukanku?

Saat dilanda aksa, jawabnya gulana tanpa akara temu


Jadikan rindu sebagai cinta yang diridoi

Tanpa menyakiti maupun menjatuhi

Biarlah sang kalbumu menilai 

Sejauh mana rasi mimpimu yang kaugapai

Jepara, 11 Maret 2021



TITIPAN KATA SELAMAT BERPISAH

Sepucuk rindu menjalar untuk menyapa senyum tawa pagi hari

Dengan hidangan kasih sayang dan gelombang menyejukkan sanubari

Mengaitkan jemari kelingking menciptakan kenangan saling berjanji

Membangun cita-cita seluas semesta setapak menaiki tangga mimpi


Perlahan dimakan masa, detik-detik bayangan itu melenyap

Hanya menyisakan air mata kesunyian bercampur lara mendekap

Adakah yang bisa menolongku dari buih laut penyesalan?

Agar dunia ini tak gelap oleh kubangan aksara pemberi bujukan


Kutanya pada setumpuk pilu; di manakah engkau?

Daku tergopoh merapah lelah pikiran kacau

Lantas, jejakku memukul bumi terisak menangis

Karena kepergianmu memberikan hadiah paling tragis


Ucapan 'selamat berpisah' kini kutitipkan pada semilir angin

Semoga kita menjadi orang asing tiada mampu untuk menjalin

Mengemudikan ekspektasi menyusun senjata melangkah kaki sendiri

Meredam emosi mengubur indahnya masa lalu arti ungkapan hati

Jepara, 15 Maret 2021


Kumaidatun Nisfiyah, lahir 1 April 2000 di Jepara. Tergabung di Komunitas Aksara Jumantara. Statusnya sebagai mahasiswi dengan giat berusaha mengais seberkas pijar yang tak kunjung padam. Beberapa hobi yang ditekuninnya yaitu membaca, berselawat, berorganisasi, dan yang paling disukainya adalah berimajinasi sehingga dia mencoba untuk mengkolaborasikan berbagai tulis-menulis supaya bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Puisi Ridho Alsyukri

Penulisan Konjungsi