Menabung Rindu

 Penulis: Indah Wulandari Pulungan

Sumber: Thegorbasla

Barisan semut hitam menghiasi dinding di atas cat yang mulai terkelupas itu. Hitam pekat terlalu kontras jika berpadu pada warna merah muda yang terlalu menyegarkan, apabila membayangkan menyesap dinginnya es doger pada siang yang membelenggu terik mentari. Tak henti-hentinya, para semut mengawal sebongkah butiran gula kristal untuk ditabung di persembunyian mereka. Salam hangat dengan saling menabrakkan diri antar sesamanya menjadi ciri khas semut-semut mungil itu.

Mataku terus mengikuti rel kereta api yang dibentuk oleh kawanan semut itu. Berawal dari suatu tempat yang tepat berada di sebelah pembaringanku hingga pada suatu lorong yang tak kutemui lagi jejak dan akhir pemberhentiannya. Aku memang sengaja menaruh setumpuk butiran gula kristal itu di sana untuk menarik semut-semut hitam mengerubunginya. Kekompakan semut-semut itu menjadi salah satu cara bagiku untuk menghabiskan waktu yang terasa sangat lama dan membosankan ini.

Selama ini, aku selalu penasaran dengan persembunyian para kawanan semut itu. Ingin rasanya aku mengubah diri menjadi semut mungil nan ramah. Tiada takut akan kematian, walau di sekelilingnya tampak begitu besar bak raksasa. Kegiatan yang tampaknya tak berguna ini memang rutinitas yang selalu kulakukan saat rasa sunyi dan sepi mengerubungi jiwaku. Hanya langit-langit kamar yang sedari tadi kupandangi tiada jenuh.

Di usia yang sudah berkepala dua ini memang semakin banyak perubahan yang kutemui dalam melihat luasnya dunia. Perubahan-perubahan yang semakin membuatku sulit beradaptasi dengan orang lain. Hal-hal sepele yang membuat batinku merasa sakit, dan hal lainnya yang membuatku terlihat tidak dewasa dari yang mestinya. Tentu saja, semuanya bukan keinginan sepenuhnya dariku. Aku tidak pernah berharap menjadi seperti ini. Hanya saja, trauma di masa lalu membuatku menjadi orang yang tak memiliki tujuan seperti saat ini.

Berkelana tanpa arah dan peta adalah hal besar yang ingin kusederhanakan. Bagi orang lain yang tak mengerti akan hal itu, tentu saja terasa berat. Apalagi jika ia memang tak menyukainya. Hal ini yang sering menjadi pemicu antara aku dan kekasihku perihal temu dan jenuh. Aku memang pasangan yang tak sempurna untuk orang sepertinya. Sifat manja dan kekanak-kanakanku selalu menyusahkannya. Keajaiban besar jika ia masih betah dan mencoba untuk bertahan mendampingi orang sepertiku ini.

Hai, namaku Momo, berusia dua puluh tahun, dan aku adalah seorang echoist. Kau tahu apa itu echoist? Sedikit kujelaskan, echoist ini bukanlah sejenis gangguan mental, namun lebih ke sifat yang dimiliki seseorang sebagai strategi bertahan hidup dari rasa kecewa. Tentu di zaman yang serba ada seperti saat ini dan teknologi yang semakin canggih, orang-orang lebih mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri. Tanpa bergaul di lingkungan sekali pun, mereka mampu mengumpulkan ribuan teman dari dunia maya. Hal itu yang semakin membuat beberapa orang merasa kurang kasih sayang dan merasa rendah diri untuk bergabung dengan orang-orang lain. Apalagi orang terdekatnya juga tidak menyadari keberadaannya.

Aku memang tidak pernah berani untuk menyuarakan kegelisahan apa yang sedang kualami, atau hanya sekadar mengatakan bahwa aku tidak menyukai sesuatu hal. Merasa takut akan dikucilkan dan tidak dianggap membuatku menjadi orang yang selalu takut untuk berbicara. Aku selalu menerima keputusan orang lain tanpa sedikit pun terpikir untuk mengoreksinya. Mendebat seseorang terlalu berbahaya pikirku. Alhasil aku hanya menjadi pendengar yang baik, bagi orang yang sedang ingin meluapkan keluh kesahnya.

Sifat echoist yang ada pada diriku secara perlahan dapat kukendalikan, hingga aku mulai sedikit terbiasa untuk bergaul dengan orang-orang dan mengeluarkan sepatah, dua patah kata pendapatku. Putra, kekasih yang kutemukan beberapa bulan lalu, ialah orang yang membantuku untuk lebih percaya akan kemampuan diriku. Ia menjadikanku sebagai perempuan yang sangat istimewa. Tidak pernah sebelumnya aku merasakan gairah hidup seperti ini. Aku semakin ingin berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya. Meski hal yang tak kusadari itu semakin mendorongku untuk terjun bebas dari tebing yang curam.

Putra, lelaki yang lebih tua dua tahun di atas usiaku. Lelaki ini kupanggil dengan sebutan abang. Aku dan dia berkenalan via media sosial, tak pernah bertemu dan belum lama mengenal satu sama lain, namun, aku merasa jika dia adalah orang yang sudah pernah kutemui sebelumnya dan juga sudah lama saling mengenal. Sebenarnya aku membenci hal yang seperti ini, berteman melalui dunia maya. Tak tahu asal-usul seseorang, tiba-tiba menjadi dekat. Apakah iblis berwajah malaikat, atau malaikat berwajah iblis tak pernah bisa dikira. Namun, pada akhirnya aku menemukan momen seperti ini dan aku mengalaminya sendiri.

Menarik, biar kuberi tahu, aku jatuh cinta lewat tawanya. Tak usah tanya kepadaku apa itu cinta. Yang kutahu bahwa aku mencintainya. Tawanya membuatku terbawa suasana hingga merasakan kebahagiaan yang bisa didapatkan dengan cara sederhana. Walaupun dari yang kutahu, orang yang sering tertawa cenderung menyimpan banyak luka. Dan hal itu yang membuatku semakin tertantang untuk lebih mengenalnya. Pasalnya, aku tidak pernah merasa kikuk saat berbincang-bincang dengannya. Segala keluh kesahku, kusampaikan padanya. Dan dia pun begitu, berbagai cerita dan pengalaman yang ia alami semasa hidup diceritakannya padaku, hingga membuatku terpesona akannya. Dari percakapan itu, aku mengetahui bahwa ia adalah lelaki yang menyimpan banyak luka. Lukanya terlalu perih dan akan menguras air mata jika kuceritakan di sini.

Kurang lebih dua bulan sejak saling mengenal, semesta pun memberi kami kesempatan untuk bertemu. Organ tubuh yang memompa darah ke seluruh tubuhku terasa berdetak begitu kencang. Ia menjemputku, semuanya menjadi tak karuan. Bahagia, takut, malu, rindu, semuanya bercampur aduk saat bertemu dengan orang yang pertama kali kutemui, dan gilanya aku sudah mencintainya. Dia membawakanku sebuah kado, boneka anjing yang kami namai Riken. Perjalanan yang tiada pernah membosankan adalah saat bersamanya. Aku merasa sangat beruntung bertemu dengannya, tapi aku takut...

“Abang, apa kabar? Aku sangat merindukanmu.” Sebutku padanya melalui ketikan jemari ini.

“Abang juga merindukanmu.” Ia membalas pesanku.

“Lalu kenapa kita tidak bersua untuk menuntaskan rindu dan kenapa Abang tidak pernah menghubungiku lagi?” tanyaku padanya. Air mataku sudah pecah sejadi-jadinya.

“Abang ingin menabung rindu. Kita masih memiliki banyak waktu, lalu kenapa kita harus menghabiskannya sekarang. Biarlah kita tabung rindu ini.” Jawabnya.

“Kenapa rindu harus ditabung, Bang? Kenapa kita tidak mensyukuri keadaan jika kita masih diberi kemudahan untuk bertemu. Sedangkan orang-orang lain di luar sana menahan sakit untuk bertemu dengan orang yang dikasihinya, karena pertemuan itu sudah tidak mungkin lagi.” Jelasku padanya, sembari berharap agar dia tahu aku sangat ingin bertemu.

“Sudahlah, aku bosan.” Pesan terakhir darinya yang tak pernah kubalas lagi.

Kegelapan merasuki kalbu yang kian malam dihantam oleh semburan luka. Waktu hidupku ternyata lebih panjang sejak bertemu dengannya. Sudah lama untuk merencanakan mati dan diundur beberapa bulan ke depan. Malam ini adalah malam yang tepat untuk merasakan kematian dan menunaikan keinginan dari orang yang kucintai.

Urat nadi yang sering dirangkai menjadi untaian kata-kata indah “Pernah sedekat nadi dan sejauh mentari” akhirnya kuputus sudah. Ia mengeluarkan pancuran darah yang begitu hangat dan membuatku tidurku semakin lelap.

“Abang, aku ingin menabung rindu. Mari bertemu kembali di suatu tempat yang tak pernah kita kunjungi bersama, namun segera aku akan berangkat ke sana. Aku menantimu.”

Biodata Penulis:

Indah Wulandari Pulungan, mahasiswi aktif Sastra Indonesia Universitas Andalas. Berkegiatan di komunitas literasi Lapak Baca Pojok Harapan. Tulisannya dimuat di beberapa media massa.



Komentar

Postingan Populer