Aku, Dia dan Senja

Oleh: Epi Muda


(Ilustrator: JoyGo)

       Setiap tatapan awal selalu menurunkan hujan rindu untuk jatuh cinta pada   pandangan pertama. Cinta pertama selalu meninggalkan kenangan yang sungguh membuahkan rasa saling merindukan. Terkadang kenangan itu melantunkan madah pujian yang selalu meriah dalam ribaan canda tawa. Suasana menjadi penyalur segala berkas cinta yang akan melahirkan sebuah harapan untuk tetap saling mencintai.

Pagi itu bertepatan dengan hari Minggu, aku melakukan refreshing dengan berjalan mengunjungi pantai Watolota (Lewouran-Larantuka). Pantai ini sungguh menarik dan menjadi tempat orang-orang berkencan serta melepas rindu dengan sahabat kenalan atau keluarga. Aku sendirian tanpa ditemani. Aku merasa kesepian karena melihat orang-orang mempunyai pasangan. Mereka foto bersama sambil melepas senyum. Seperti drama yang selalu mengesankan.

 Aku sadar juga bahwa aku seorang biara tentunya tidak mengalami kesepian karena kesepiaan bagiku adalah sebuah kebahagian karena dalam kesepiaan aku mengalami cinta yang sungguh mendalam dari Tuhan yang aku imani.

Dalam derai kemeseraan, aku menyaksikan riuk ombak yang selalu mendesah ketika menghempas bebatuan. Banyak inspirasi yang aku tuai sebagai bekal untuk menguatkan panggilanku. Mataku tak lekas menatap beberapa ekor burung yang beterbangan sambil menyibak sayap di atas air laut. Sontak aku dikejutkan dengan suara panggilan merdu dan halus.

    " Wolesss....."

            Aku menoleh ternyata perempuan yang memanggilku itu adalah teman Facebook-ku. Aku menyapanya dengan senyum dan sahutan yang sungguh memecahkan suasana. Kami pun saling berjabatan tangan meskipun untuk sementara waktu dilarang karena corona. 

Kami menghabiskan waktu dengan berjalan sambil menceritakan kisah perjalanan hidup kami. Tetapi aku tidak memberitahukan bahwa aku seorang biara. Banyak cerita yang kami bagikan. Aku merasa senang dan bangga bahwa aku bukan berjalan sendirian tetapi banyak orang yang juga berjalan bersamaku. Langit turut mendukung setiap kisah yang kami lalui. Tak lekas matahari pun terus memantau setiap kata dan langkah yang kami rajut bersama.

Senja kembali menjemput, kami memutuskan untuk berpisah. Kami membawa setiap kebersamaan yang kami rajut sebagai sebuah kenangan yang sungguh menarik. Segalanya akan terjadi setelah ada rindu untuk mengulang momen yang sama. Ketika aku tiba di biara dan membuka Facebook, ada pesan baru masuk. Ternyata ada pesan dari Nia.

“Selamat sore menjelang malam, kak. Terima kasih atas kebersamaan kita sore tadi”

“Sama-sama, Nia. Kalau ada kesempatan kita bisa mengulangi momen sore tadi”

“Sipp”

Waktu terus beralih membawa rindu. Aku terus merindukan dia. Itu karena ada sentuhan hati untuk merasakan jatuh cinta. Senja hari itu persis hari Minggu, aku memutuskan untuk pesiar di Kota Moff_Maumere untuk membeli kebutuhan. Aku tersenyum ketika melihat Nia di depan pertokoan. 

“Selamat sore, Nia.”

“Selamat sore juga Woles. Apa kabarmu hari ini?”

“Kabar baik, Nia. Kamu, apa kabar?”

“Kabar baik juga. Kamu kuliah di UNIPA_Maumere?”

“iya, kak”

Sebuah sapaan awal yang sungguh mengguncang hatiku untuk tetap memandang senyumnya yang sedikit pernik. Aku menjadi tertarik ketika kedua bola matanya yang bening menangkap wajahku. Rasanya ingin memetik bunga yang selalu mekar di lesung pipinya. Aku hanya diam. Diam sebagai bentuk aku mencari jalan untuk mendapatkan senyum dan tawanya yang selalu lirih dalam dekapan waktu senja. Aku tak sabar untuk mengungkapkan rangkaian kata-kata penuh keyakinan sebagai bentuk aku mengakuinya wanita idaman. Aku mengemas setiap untaian kata-kata dengan puitis dan logis untuk ia pahami secepat mungkin. 

“Woles...kamu kenapa? Kelihatan wajahmu bingung ya.”

“Akh, tidak...tidak, aku cuma ngelamun aja.”

“Jujur saja, kalau kamu ada sesuatu denganku.”

Aku mulai mengubah gaya supaya mengelakkan setiap kecurigaannya terhadap diriku. Aku mengakui dalam hati sebagai tanda bahwa dia tahu kalau aku suka dia. Memang cinta itu jangan dipendam. Biarkan saja cinta itu mengalir sebagai tanda bahwa aku ada karena cinta dan cinta itu akan kuteruskan sebagai tanda adanya tanggung jawab dalam menyalurkan aura cinta kepada sesama. Aku mengakui bahwa aku jatuh cinta dengannya tetapi aku minder dan takut karena bisa ditolak. Itulah arti dari sebuah cinta apabila cinta salah dimengerti dan digunakan. Cinta bukan sekedar jalan untuk mencapai akhir impian yakni pernikahan tetapi cinta sebagai bukti bahwa ada rasa memiliki sesama sebagai mahkluk sederajad. Tuhan sendiri menciptakan segala sesuatu dengan cinta. Dan kita meneruskan semuanya itu dengan cinta. Aku  mempunyai keyakinan penuh bahwa persolan cinta terletak pada kesetiaan bukan wajah yang tampan. Memang wajahku bisa dibilang tidak ada garis pinggir tapi kesetiaanku ada garis pinggirnya.

“Nia, aku suka sama kamu.”

“Ok, aku menghargai perasaanmu. Aku menyadari bahwa cinta memang mendatangkan rasa sakit tetapi aku mengharapkan kamu untuk menyembuhkan rasa sakitiku dengan kesetiaanmu.”

Aku kemudian sadar bahwa aku seorang biara dan besar kemungkinan tidak mempunyai pacar. Aku bingung harus mengatakan apa kepadanya sedangkan aku masih memikirkan semuanya dengan tertatih-tatih. Aku menyadari bahwa membagi cinta untuknya tidak selamanya memilikinya. Cinta memang membutuhkan pengorbanan tetapi bagiku membagi cinta kepada sesama adalah bukan berarti aku siap untuk berkorban. Aku membagi cinta dengan tujuan supaya ia bisa merasakan cintaku sebagai bentuk menghargai sesama. 

“Nia, aku memang rasa jatuh cinta denganmu tetapi sampai kepada rasa memiliki kemungkinan tidak. Aku jujur bahwa aku mencintaimu sebagai bentuk aku mencuci pikiranmu yang selalu menyangka akan arti sebuah cinta yang selalu kau katakan cinta itu mendatangkan rasa sakit. Untuk sementara, aku hanya bagian dari kamu merasakan cintaku sebagai arti dari persahabat dalam seiman. Mungkin kamu bingung kalau mendengar kata-kataku. Aku jujur bahwa aku seorang Biarawan dan tentang cinta, aku hanya menitipkan cintaku sebagai bukti aku pernah membawamu untuk mengalami kehadiran Tuhan. Aku lupa satu hal bahwa jangan menganggapku sebagai penyebab datangnya luka bagimu tetapi sebagai pembawa obat untuk menyembuhkan lukamu yang selama ini kamu alami dengan orang-orang yang sangat spesial untukmu.”

Air mukanya menyiratkan rasa kebingungan. Entahlah apa yang sedang ia rasakan dan pikirkan. Itu miliknya bukan milikku. Aku hanya memahaminya dengan mengakui bahwa ia merasa bingung. Apalagi pembawaan diriku yang tidak diketahui sebagai seorang frater. Ia kelihatan mulai tak percaya akan statusku. Pada hal harapannya untuk menjadikanku sebagai pacar terakhirnya yang akan membawanya ke pelaminan pernikahan. Dalam sekejap mata ia mengerutkan dahinya sebagai tanda belum ada keyakinannya akan diriku. Angin senja terus menyibakan rambutnya yang pendek dengan perlahan-lahan hingga menutupi mata kanannya. Suasana menjadi sulit untuk ditebak dengan pasti. Semuanya masih dalam tanda tanya.

“Maaf, Frater Woles, aku sangka kamu pemuda biasa. Ternyata kamu pemuda biara. Aku cuma bilang jagalah jubahmu dengan baik. Jangan pernah menodainya. Karena semua orang mengharapkan kamu menjadi seorang imam yang kelak membawa umat bertemu dengan Tuhan.”

Aku merasa tersentuh dengan perkataannya. Rasa cinta untuk sampai pada pernikahan mulai buyar. Segala cerita yang kususun untuk menghanyutkan hatinya perlahan-lahan buyar. Aku bingung harus mengatakan apa, karena hati ini ingin mencintainya sebagai wanita idaman yang kelak akan hidup bersamaku.

“Terima kasih, Nia”

Tidak ada kata yang pasti untuk melanjutkan percakapan kami. Kami hanya beradu pandang untuk mengharapkan yang masih dalam tanda kutip. Ketika memetahkan setiap kesunyian yang secara tiba-tiba hadir di tengah kami, ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Barangkali banyak pekerjaan di kos yang harus ia kerjakan, apalagi ia seorang wanita. Rasa untuk terus menyambung percakapan kami terus membara tetapi waktu begitu cepat untuk meretasnya. Aku hanya mengiakannya untuk pergi, apalagi sebentar lagi ibadat sore di kapela biara mulai. Aku harus berpamitan.

“Frater Woles, cukup dulu ya. Aku mau kembali ke rumah karena tugas kuliahku belum kuselesaikan. Sampai jumpa di lain waktu.”

“Selamat juga, Nia.”

Aku kemudian kembali ke biara. Selama aku mengikuti ibadat sore, selalu saja wajahnya membayang. Suasana doa buyar seketika. Aku kehilangan konsentrasi. Demikian pun tidur malam selalu saja wajah dan namanya berkeliaran dalam batok kepalaku. Aku merasa rindu sekali dengannya. Aku sempatkan diri untuk membuka jendela kamar dan memandang keluar untuk merasakan dan menikmati bayangan dirinya yang berada di tengah hamparan terang rembulan. Suasana selalu menjadi catatan ringan yang menuntutku untuk terus mengenang rahasia sebuah rindu. Wajahnya terus terekam dalam keningku sebagai wanita yang akan menggores luka dalam hatiku karena aku akan melepaskan pakaian biara. Aku tidak sanggup menahan rasa memilikinya. Dia terlalu cantik. Tetapi aku kemudian sadar kecantikannya belum tentu seimbang dengan kesetiaan dan pelayanan yang tulus. Aku mulai mengubah konsep pikirkan, biarlah aku belajar dulu sikapnya setelah itu baru aku mencintai kecantikannya. Terasa hidup ini harus mempunyai pilihan yang pasti supaya ada tujuan yang dicapai.

Minggu pagi yang biru, wanita bernama Nia datang ke biara untuk bertemu denganku. Aku tidak menyangka bahwa ia datang mengunjungiku. Sempat aku mendapat tugas untuk masak. Tiba-tiba temanku datang dan memanggilku katanya ada tamu. 

“Tamu perempuan atau laki-laki....“   

“Perempuan.”

Aku dengan segera meminta teman untuk menggantikanku masak. Aku berjalan dengan melangkah pasti untuk bertemu dengannya. Ketika aku tiba, ia langsung menyapaku dengan suara yang sungguh lembut. Aku merasa terhanyut ditelan suasana. Suara lembutnya sungguh menjinakan rasa capekku. Pokonya suara yang selalu membuatku mengerti akan sebuah syair doa yang lembut dari seorang pertapa rohaniwan. Barangkali suaranya adalah suara yang akan menyapaku dengan kata suami nanti kelak.  Itulah sebuah rasa yang bermula dari kekhasan suara yang mampu menjinakan ribuan peristiwa terluka dalam dada.

“Selamat sore, Frater Woles.”

“Selamat sore juga, Nia.”

“Sebelumnya maaf, frater, aku telah mengganggu waktumu. Mumpung waktu sore ini aku tidak mempunyai pekerjaan di Kos, jadi aku datang mengunjung frater untuk sekadar berbagi cerita"

“Oh...tidak apa-ap, Rambu. Aku juga sore ini tidak mempunyai pekerjaan jadinya aku hanya baring-baring. Tetapi untunglah kamu datang mengunjungi aku sehingga aku bisa berbagi cerita denganmu.”

Waktu begitu cepat melangkah, sehingga kami harus berpisah sementara untuk melakukan pekerjaan kami di waktu-waktu yang selanjutnya. Kami melangkah dengan pasti kembali ke tempat tinggal masing-masing. Aku merasa senang akan waktu senja ini. Segala cerita tentang cinta semakin membara hingga mengubah pikiranku untuk mengerti akan sebuah perasaan sampai pada hidup berkeluarga. 

Hari demi hari, panggilanku mulai buyar dan semangat pun mulai pudar. Aku selalu ingat akan setiap cerita menarik yang kami rajut setiap minggu sore. Banyak hal yang kami janjikan terutama ingin hidup bersama. Aku merasa terpukul dengan kejatuhanku ini. Tetapi entah harus bagaimana, semuanya telah terjadi. Janji adalah utang dan itu harus ditepati. Aku sempat mengatakan untuk meninggalkannya tetapi hati selalu menurunkan hujan rindu untuk menjadikannya sebagai istriku kelak.Ternyata setiap doa yang aku panjatkan demi kekuatan panggilanku kini mendapat jawabannya dengan tetap kuat untuk mencintainya sebagai istriku kelak. Hidup memang punya arti dan makna yang mengalir tanpa tahu dan manusialah yang memilahnya.

Aku tidak tahu, kenapa aku bisa membuat janji untuknya kelak kami akan menikah. Barangkali sebuah perasaan terdalam akan arti sebuah rahasia cinta. Memang hidup mempunyai banyak pilihan. Aku menyadari apa artinya sebuah kehidupan apabila ada kerinduan untuk mengeratkan setiap untaian perjanjian dalam sebuah pernikahan sebagai bukti bahwa akan ada kehidupan baru. Kehidupan sebagai pasangan hidup yang kelak akan mewarisi segala tingkah laku dan rahasia kehidupan kepada anak-anak. Aku tahu untuk melewati semuanya ini harus ada kesabaran dan tanggung jawab untuk menghidupi seisi keluargaku nanti. Hidup memang berat tetapi yang lebih fleksibel lagi adalah hidup harus mempunyai warna dan mampu menahkodai kapal dengan arah dan tujuan yang jelas.


Epi Muda, mahasiswa STFK Ledalero tingkat 1. Sekarang berdomisili di biara SVD unit Gabriel.


Komentar

Postingan Populer