Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Puisi M. Fadli Yahya

Gambar
  Pandemi Sungguhlah kencang kuda berlari Kuda berlari memakai pelana Dokter bekerja korbankan diri Demi menolong pasien Corona Ikan teri besar kepala Kepala dibuang menjadi sampah Corona semakin merajalela Mari berdiam diri di rumah Naik ke puncak gunung dengan teman Di gunung banyak tumbuh pohon Cendana Kita hindari sementara berjabat tangan Berjabat tangan membawa virus corona Di Bengkulu ada bunga Raflesia Bunga tumbuh di dalam hutan Virus Corona melanda dunia Mari hindari jaga kesehatan Di muara Padang banyak buaya Buaya timbul manusia lari Virus Corona sungguh berbahaya Mari bersama menjaga diri Ikan asin ikan sepat Ikan digoreng bersama ceker Virus corona menyebar cepat Mari biasakan memakai masker Corona   Sungguhlah kencang kuda berlari Kuda berlari memakai pelana Dokter bekerja korbankan diri Demi menolong pasien Corona Ikan teri besar kepala Kepala dibuang menjadi sampah Corona semakin merajalela Mari berdiam diri di rumah Naik ke puncak gunung dengan teman Di gunung banyak

Mengabdikan Diri untuk Tanah Kelahiran di Tengah Pandemi Covid-19

Gambar
  KKN Universitas Andalas Kota Sibolga 2021 Penulis: Indah Wulandari Pulungan Pengabdian yang secara langsung menerjunkan para mahasiswa ke tengah masyarakat dapat ditemui pada salah satu mata kuliah yang ada di setiap perguruan tinggi, yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan pengabdian ini dilakukan oleh mahasiswa yang sudah menyelesaikan perkuliahan di semester 6 dan memiliki jumlah SKS yang mencukupi. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Universitas Andalas kembali menurunkan seluruh mahasiswa terbaiknya yang telah memenuhi syarat untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata di berbagai titik lokasi. Namun, hal yang istimewa telah terjadi pada dua tahun terakhir. Lokasi KKN lebih beragam dari sebelumnya, tepatnya sebelum kedatangan pandemi Covid-19. Pada tahun sebelumnya, mahasiswa angkatan 2017 telah lebih dahulu mencicipi peluh pengabdian di kampung halaman sendiri. Kini, hal serupa juga tengah dirasakan oleh mahasiswa angkatan 2018. Kelompok KKN dibagi berdasarkan wilayah tempat tinggal p

Tukang Pijat Bukan Dokter

Gambar
Oleh: Intan Hafidah NH (Ilustrator: JoyGo) Suara bising kereta sesekali mengusir kesunyian di salah satu malam yang paling panjang itu. Angin menjalar ke sekujur badan yang gigil, sebab pakaian yang ia kenakan telah tidak utuh lagi. Celana panjang hanya tinggal sepertiga, akhirnya menjadi celana setengah panjang dan setengah pendek, dengan guntingan kasar tak beraturan di bagian kanan, serta baju yang kancingnya telah lepas sebagian. Badan tak berdaya untuk membetulkan posisi tidur yang nyaman, sesekali ia memintaku untuk mengangkatnya dan membenarkan posisi tidur, terutama letak bantal kepalanya.  Hujan, entah kapan redanya semenjak sore, tidak ada tanda akan berhenti. Hujan di matanya juga demikian. Tidak ada kalimat sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya, hanya ada raut wajah pucat, karena menahan rasa sakit, yang mungkin semakin lama semakin terasa di ujung-ujung syarafnya. Aku hanya berusaha untuk lebih tegar darinya agar dia memiliki pikiran yang positif, kalau dia tidak apa

Aku, Dia dan Senja

Gambar
Oleh: Epi Muda (Ilustrator: JoyGo)        Setiap tatapan awal selalu menurunkan hujan rindu untuk jatuh cinta pada   pandangan pertama. Cinta pertama selalu meninggalkan kenangan yang sungguh membuahkan rasa saling merindukan. Terkadang kenangan itu melantunkan madah pujian yang selalu meriah dalam ribaan canda tawa. Suasana menjadi penyalur segala berkas cinta yang akan melahirkan sebuah harapan untuk tetap saling mencintai. Pagi itu bertepatan dengan hari Minggu, aku melakukan refreshing dengan berjalan mengunjungi pantai Watolota (Lewouran-Larantuka). Pantai ini sungguh menarik dan menjadi tempat orang-orang berkencan serta melepas rindu dengan sahabat kenalan atau keluarga. Aku sendirian tanpa ditemani. Aku merasa kesepian karena melihat orang-orang mempunyai pasangan. Mereka foto bersama sambil melepas senyum. Seperti drama yang selalu mengesankan.  Aku sadar juga bahwa aku seorang biara tentunya tidak mengalami kesepian karena kesepiaan bagiku adalah sebuah kebahagian karena dala

Mencari Pelaku Tabrak Lari

Gambar
  Oleh: Risky Arbangi Nopi (Ilustrator: Setya Widdadi) Setelah kematian satu tahun yang lalu. Aku bangkit dari ingatanku. Aku tertabrak oleh mobil Brio putih saat hujan menyeberangi malam. Jalan yang basah digenangi dengan lubang-lubang kematian. Jerit-jerit penolakan tentang kematian yang tak direncanakan, kabur terbawa derasnya klakson yang menyerbu wajahku. Tamparan hebat, dengan benturan lampu mobil yang kuat. Seketika, jalanan menjadi saksi bisu atas tabrak lari.  Aku ditemukan setelah embun menyapu tubuhku. Jalan dipenuhi dengan lumpur darah. Jeritan manusia yang sontak meramaikan berita terkini. Puluhan manusia berlarian menuju lokasi. Wartawan menyerbuku, mengharapkan sebuah teka-teki atas pertanyaan yang  telah tersusun rapi. Aku hilang dan mungkin sudah mati, ragaku hancur seperti lukisan abstrak yang tidak berbentuk, namun mahal untuk kau dapatkan sebuah jawaban.  *** Musim dingin yang kian menyengat perasaanku. Tanpa sadar bulan hampir menunjukan musim kemarau yang kian m

Puisi Ratna Hastini Sr

Gambar
( Ilustrator: JoyGo) Sebelum Cita disita Usia Mentari menyinari siang lalu hilang ditelan malam Kicau-kicauan burung perlahan redup; hanyut di langit shyam Raga belum terjaga enggan sekutu dengan waktu Masih berseru perihal tawa berujung nada gerutu Tatkala diri memilih bersantai mengukur lantai  Merebahkan asa di bawah tungkai dengan lunglai Cahaya gelabah yang merekah mulai padam Sebab usaha hanya doa; menengadah tangan tanpa gerakan Pusara siap sedia menelan sesal yang kau rapalkan Semua taubat pun semangat tampak semu dijalankan Jika nadi t'lah henti tanpa denyut; mengahadap maut Kesadaran semata-mata kiasan dalam hidup Raihlah cita tanpa lupa pada-Nya pemberi nyata Menggugurkan kewajiban dengan ikhlas, 'kan dikabulkan tiap-tiap pinta  Mulai melangkah didampingin niat serta basmalah Yakini mimpi 'kan terwujudkan diiringi dengan hamdalah L ampung, 04 Mei 2021 Lengkingan Periuk Kala gemuruh prahara negeri menjerit lirih Sejuta keluh para buruh terbelit ekonomi; perih Tiad

Puisi Kumaidatun Nisfiyah

Gambar
( Ilustrator: JoyGo) RUMAHKU, HANYA KEMBALI PADA LINGKUNGAN Terlahir di bumi yang menyimpan sejuta misteri Terkadang, dipenuhi sekelumit deretan aksara tanda tanya Mengapa daku terlahir di bawah nabastala? Atau mengapa daku dihidupkan di atas tanah? Menelisik lebih dalam lagi ketika penjagaan jiwa ramah Berdiri kukuh nan melindungi badan bernama rumah Tak lekang, meninggalkan saat kebutuhan mendesak keluar Mengarungi deras arusnya angin kencang membuyarkan ikhtiar Walau bencana alam tak juga kunjung reda Tersebabkan oleh sekerumunan insan tiada berdosa Lingkungan ini menjerit dan meraung kesakitan Mengucurkan darah kekecewan sebagai saksi bisu korban Kembalilah ke jalan lurus untuk memperbaiki mereka semula Karena mereka telah memberikan kenikmatan melebihi kemilau mutiara Buktinya ketika matahari terbit atau terbenam menemani waktu untuk menyendiri Atau tarian gemulai para pohon ketika hujan sebagai pagelaran pentas seni Jepara, 28 Februari 2021 KEMBALI PADA GUBUK Anila berembus menus

Puisi Ardhi Ridwansyah

Gambar
(Ilustrator: JoyGo) Terpasung Di Sudut Mata   Di sudut mata itu,  Ia tertunduk lesu,  Selepas menulis puisi sendu,  Yang digarap dengan ragu.  Terserak air mata dan darah,  Merangkak selimuti diri,  Mendekap dan berbisik,  Mengusik jiwa ringkih.  Bicara tentang lara,  Goreskan duka dalam hati,  Yang sengsara.  Terpenjara dalam ruang,  Sunyi dan hampa memagas,  Kepala yang penuh tanda tanya.  Tiada cahaya dalam sorot matanya,  Mungkin telah mati sejak hati,  Tertikam oleh rasa yang tertatih,  Namun kata siap menemani,  Merangkul makna dalam secarik kertas,  Yang terisi cinta dan benci,  Menanti sunyi datang kembali. Jakarta, 20 Maret 2021 Matinya Makna Di Senja Hari  Kala senja tiba,  Alunan rinduku telah tiada,  Berganti bising jalan yang menerka,  Setiap jiwa menyeka luka dalam dada.  Peluh dan keluh berceceran di jalan raya,  Teduh mata kini redup dengan air mata,  Yang menyelinap di sisi batin nan rapuh.  Para burung tepekur memandang kata,  Yan terucap dari mulut pendusta,  Dan awa