Adat Manumpang Bainduak Di Nagari Sundata kampung Salibawan

Oleh: Haida Rahmi


Adat merupakan aturan yang wajib dipatuhi dan ada sejak dahulu kala kemudian menjadi kebudayaan dan sebuah kebiasaan bagi masyarakatnya. Adat mengandung hukum dan sanksi adat bagi yang melanggar adat tersebut. Salah satu adat masyarakat minangkabau di daerah Salibawan nagari Sundata adalah adat manumpang bainduak bagi masyarakat pendatang yang ingin menetap dan tinggal di daerah minang tersebut.

Bagi para pendatang yang ingin tinggal dan menetap di daerah kampung Salibawan nagari Sundata diharuskan untuk mengikuti adat manumpang bainduak agar bisa menjadi keluarga bagian dari masyarakat tersebut. Hasil penelitian Hamzah Vesturi dan Sulastriyono menyatakan bahwa bagi perantau atau pendatang yang tidak melakukan penundukan diri dengan cara bainduak  akan menanggung konsekuensi yaitu dianggap sebagai orang asing di masyarakat tersebut. Kemudian, dilakukanlah penelitian mengenai proses-proses serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam adat manumpang bainduak di daerah Salibawan nagari Sundata.

Menurut salah satu masyarakat yang merupakan seorang induak di kampung Salibawan bernama nenek Isam dari suku mandailiang menyatakan bahwa pendatang yang ingin manumpang bainduak boleh dari semua daerah atau kalangan tanpa memandang siapa tokoh tersebut. Bahkan untuk seseorang yang dibuang dari kampung asalnya karena berbuat salah masih bisa diterima alasannya pendatang tersebut tidak berbuat salah di daerah yang ingin ditempati. Apabila si pendatang tidak ingin melakukan adat manumpang bainduak dan tetap tinggal di daerah yang ingin ditempati juga dibolehkan, tetapi pendatang harus menanggung konsekuensi seperti tidak dianggap sebagai masyarakat setempat atau dianggap sebagai orang asing di daerah tersebut. Dan aturan bagi pendatang yang ingin pindah dari daerah tersebut adalah diwajibkan untuk memberitahukan terlebih dahulu orang-orang tempatnya menumpang bainduak, karena dia sudah menjadi bagian dari keluarga induak, jadi akan lebih sopan untuk memberitahukannya. Berbeda dengan orang yang manumpang bainduak tetapi dia berbuat salah dan melanggar aturan adat maka akan diusir dari keluarga induak dan dari daerah tersebut, apabila tetap ingin tinggal maka harus membayar denda atau disebut dengan “pautangan”. Jadi, setelah pendatang melakukan adat manumpang bainduak maka pendatang wajib mematuhi peraturan yang ada di daerah tersebut. Proses Manumpang Bainduak di kampung Salibawan nagari Sundata adalah yang pertama dengan mendatangi mamak yang dituakan dari sebuah suku induak yang ingin ditumpangi, suku yang dimaksud boleh sama dengan suku yang dianut oleh pendatang sebelumnya atau mendekati suku tersebut kemudian datangi niniak mamaknya. Setelah mendatangi orang-orang tersebut, barulah si pendatang mengadakan acara jamuan dan mengisi uang adat. Jamuan ini merupakan proses terakhir dari tradisi manumpang bainduak, dan kemudian si pendatang sudah resmi menjadi masyarakat bagian daerah kampung Salibawan nagari Sundata. Setelah proses manumpang bainduak berlangsung, si pendatang yang manumpang bainduak akan mendapatkan haknya yaitu pada zaman dahulu si pendatang akan mendapat tanah perumahan atau perkebunan kosong dari niniak mamak. Tetapi karena sekarang tanah perumahan atau perkebunan sudah terisi penuh maka yang didapat adalah si pendatang akan dibawa “sahilia-samudiak” atau dibawa berkumpul. Misalnya, pendatang ada masalah maka masalah tersebut akan diselesaikan oleh niniak mamak atau pemuka setempat dan apabila terjadi kematian dari pihak pendatang maka tanah pekuburan dan pengurusan mayat akan diselesaikan oleh niniak mamak dan masyarakat setempat. Selain itu, pendatang yang manumpang bainduak secara otomatis menjadi bagian dari masyarakat, kemenakan dari mamak tempat bainduak, anak dari induak, bahkan sudah menjadi bagian dari keluarga induak.

Manumpang bainduak merupakan sebuah aturan bagi pendatang di minangkabau. Aturan ini berlaku bagi semua pendatang yang ingin tinggal dan menetap didaerah minang. Adapun proses-proses yang dilalui pendatang yang ingin manumpang bainduak adalah yang pertama mendatangi mamak yang dituakan dari sebuah suku induak yang ingin ditumpangi kemudian niniak mamak, terakhir adalah mengadakan acara jamuan dan mengisi uang adat. Proses-proses tersebut merupakan kewajiban bagi pendatang yang ingin tinggal di daerah minang yang juga disusuli dengan hak-haknya. Hak yang didapat pendatang yang manumpang bainduak adalah pada zaman dahulu pendatang akan mendapat tanah perumahan atau perkebunan kosong dari niniak mamak sedangkan pada zaman sekarang karena tanah perumahan atau perkebunan sudah terisi penuh maka yang didapat adalah si pendatang akan dibawa “sahilia-samudiak” atau dibawa berkumpul. Terakhir pendatang akan menjadi bagian dari keluarga induak yang ditumpanginya.





Biodata Penulis:

Haida Rahmi merupakan mahasiswa sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.








Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Puisi Ridho Alsyukri

Penulisan Konjungsi