Langsung ke konten utama

Puisi Wahyuni Fitri

 

Ilustrator: Annie


Imajinasi Gila

Aku tau sejauh apapun aku berlari
Kau tak akan mengejarku
Aku tau sekuat apapun aku melupa
Kau tak akan pernah mengingatku
Aku tau sekuat apapun aku menangis
Kau hanya akan tertawa
Aku tau sekuat apapun aku menyiksa diriku
Itu lelucon bagimu
Harus bagaimana aku??
Kenapa kau sedingin itu??
Rendahkan aku dihadapanmu?
Atau memang tak terlihat olehmu?

Aku

Dia mengajariku bagaimana menjadi aku
Aku terang di kegelapan
Aku terapung dari kedalaman
Aku terbang dari kejatuhan
Memang ,memang dia mengajariku semu
Semu yang mendewasakan tanpa meragu
Menerjemahkan kalbu tanpa berseteru
Mengiringi setiap deru nafasku
Kini aku bangkit dengan sejuta cerita
Menghidupkan hati yang telah mati
Membangkitkan jiwa yang telah hancur
Berkatmu aku kembali
Berterimakasihlah pada yang terkasih
Membiarkan ku mengetahui tentang diriku

Kamu dan Harapan

Kamu berusaha kuat untuk mengabaikan
Kenyataannya hatimu selalu memikirkan
Kamu berusaha kuat membiasakan
Kenyataannya hatimu selalu merumitkan
Kamu berusaha kuat untuk melupakan
Kenyataannya hatimu selalu mengingat
Dirimu selalu mengkhianati hatimu
Selalu membohongi dirimu
Kenapa dirimu seegois itu
Membiarkan hati mu lelah
Menahan serangan karna dirimu

Do’aku

Ada serangkaian doa yang inginku sampaikan
Disepertiga malam menjelang kepergianku
Hanya doa yang dapatku berikan
Semoga kau membaik tanpa ku
Hembusan napas tak lagi terdengar
Desiran angin tak dapat lagi kurasa
Bayangin hitam mendekatiku
Pertanda kau harus ku tinggalkan
Ku tinggalkan kau disepertiga malam
Dalam doa ku tertuang harapan ku
Semoga kau menjadi kau yang seharusnya
Tak lagi mengait bahagia lewat luka
Tak lagi tertawa dalam asa
Tak lagi berjalan tanpa nyawa
Tak lagi membukam jiwa yang lara
Kembali mu sudah dekat
Tinggal kau pahami arti diriku
Akan kau temukan jawaban dari setiap doa dan harapanku

Kenapa Aku Jatuh Terlalu Jauh

Ku berjalan di keheningan
Mencekam sepi sunyi
Lalu kenapa aku terus berjalan?
Dimanakah ini?
Tekanan membuatku terus berjalan
Apakah aku harus menikmatinya?
Menikmati sesak lara ingin berhenti
Kenapa aku terus ditekan?
Sentakan jiwa tak henti hentinya membara
Berkerumun sepi hembusan rasa
Kenapa ini terus berlanjut?
Kapan aku bisa pergi melepas sepi?
Ku sadari
Aku jatuh terlalu jauh !

Biodata Penulis

Penulis bernama Wahyuni Fitri. Anak kedua dari empat bersaudara. Mahasiswi dari jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Tulisan yang dihasilkan penulis banyak untuk keperluan pribadi saja. Hasil tulisan yang diterbitkan berupa puisi yang dicetak dalam satu buku antologi puisi tugas perkuliahan. Selain itu, hasil tulisan penulis lainnya berupa puisi, cerpen, dan esai yang dimasukkan ke laman blog pribadi penulis. Tulisan penulis berupa artikel pernah terbit di gokenje.id.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Ketentuan Umum: Penulis wajib mengirimkan karya asli, bukan karya saduran, maupun karya plagiat. Tulisan dikirim ke email:  gokenjeliterator@gmail.com  dengan subjek sesuai dengan jenis naskah (Cerpen, Puisi, Resensi buku, Artikel). Panjang cerpen minimal 3 halaman A4; diketik dengan menggunakan spasi 1,5 (margin normal). Penulis minimal mengirimkan 5 judul puisi. Panjang resensi buku dan artikel adalah 3-4 halaman A4, spasi 1,5, dan wajib menyertakan cover buku. Penulis wajib menyertakan biodata diri pada halaman terakhir dan foto diri di badan email. * Untuk saat ini, kami masih belum bisa memberikan apresiasi berupa honor bagi para sahabat Gokenje. Kami doakan agar Yang Mahakuasa membalas kebaikan para saudara dan memberikan limpahan rahmat yang tiada hingga. * Setiap tahun, kami akan memilih naskah terbaik dan berhak mendapatkan bonus senilai Rp. 500.000 * Terbit setiap minggu pada edisi kamis dan sabtu.

Puisi Edo Sapraja

(Ilustrator: Joyken) Ciri-Ciri Orang Botak Seperti bola, tapi bukan mainan Seperti belut, berlendir, tidak Berambut, pernah tapi dulu Bulat, licin, dan tak berhelai Itulah ciri orang botak Menggelikan bukan Sama menggelikan dengannya Dia yang sama-sama bulat Licin juga, di tangkap susah juga Sering memainkan dan mempermainkan Botak, bukan Itu bukan ciri orang botak Lamunan Seorang Pria Seorang pria hitam berdiri tegap Tenggelam dalam lamunnya hanyut dalam bayang-bayang kaca Ditatapnya jeli tiap sudut kepalanya terpantul dari matanya, berharap Akan mahkota yang dulu sirna Kembali pada singgasananya Berharap dan selalu berharap Tukang Tempa Hai tukang tempa tua Peluhmu mengucur deras Menguap dalam kobaran api Bara yang melelehkan besi Dari kumpulan besi-besi bekas Jeruji besi kurungan tikus dalam negeri Yang tidak pernah berfungsi  Sang Marabahaya Aku sang marabahaya Berjalan lenggak-lenggok Berkecak pinggang, berbusung dada Berjalan di tengah lapang penuh bahaya tak kasat ma

Kontributor Gokenje.id

 Edisi Oktober 2020 Anton Sucipto Yogi Guspri Pramesti Apriwanto Tinto En. Aang MZ Refaldo Fauzi Wahyuni Fitri Adel Yuhendra Joni Hendri Bahrul Ulum A. Muhaimin DS Yoza Fitriadi Khansa Arifah Adila M.N. Gemilang Wicaksono Putrarico14 Doni Amandola Putra Indah Wulandari Pulungan Jeri Maulana Putra Norrahman Alif Fany Ramadhani Dian Rizal Asyrof Nengsih Sri Rahayu Putri De Eka Putrakha Ridho Daffa Fadilah Wahid Kurniawan Ahmad Zul Hilmi Epi Muda Ferry Fansuri Oscar Maulana Zainur Rahman Faris Al Faisal Giffari Arief Ni'matus Sholihah Ridho Alsyukri Idoel Sapoetra Saiful Bahri Chalvin Pratama Putra Reni Putri Yanti Resti Alya Putri Syukur Budiardjo Yosi Adi Setiawan Moehammad Abdoe Rofiatul Adawiyah Risky Arbangi Nopi Kurnila Maruhawa I Made Kridalaksana Forlan Muda Rikard Diku Amidia Amanza Yohan Mataubana J . Akid Lampacak Fitri Rahmadhani