Puisi Ridho Alsyukri

 

Ilustrator: Envato Tuts


Kepada Penyair Kamar I

Di ruangan 2x3 meter

Kau sibuk berkutat dengan kata-kata

Mengukur setiap jengkal baris

Dengan bentuk kata yang jauh dari simetris

“Sajak adalah kehidupan” katamu

Yang dibesarkan seperti anak sendiri

Disusun pada setiap terkaan

Akan kata yang mengambang dia angan

“Aih. Seperti iklan saja. Dibesarkan seperti anak sendiri” ucapmu

Seketika kau ingat iklan kecap bango

Dan kau menulis puisi

Tentang burung perkutut

Yang bersemayam di selangkanganmu.

    Padang, September 2020


Kepada Penyair Kamar II

Separuh sajakmu hampir rampung

Dan kau mulai bingung

Kandas pada ide yang mengambang di angan

Buntu pada kata yang ingin kau torehkan

Pada kertas-kertas yang berantakan

Lalu kau mulai mengusai celengan kata

Membongkar semua isinya

Kata-kata melankolis yang kau tuju

Yang bertemakan hujan, cinta, dan rindu

Sudah semua kata kau cari

kau tilik dan teliti

Namun tak satu jua

Sesuai dengan keinginan kau punya jiwa

Onani, anggur, rembulan

Sampah, sumpah-serapah

Itulah kata yang kau temukan

Dari sekian kata yang kau bongkar dari celengan

Namun disebabkan frustasi

Engkau melangkah ke kamar mandi

Berharap mendapat inspirasi

Dengan cara menghayal

Dan beronani

    Padang, September 2020


Kepada Penyair Kamar III

Onani bukanlah jalan pintas

Saat inspirasi sedang terbatas

Sebab sajak adalah buah pemikiran

Dari keadaan yang kau temukan

Dan kenyataan yang kau dapatkan

Namun bagimu

Kamar adalah tempat yang tepat

Untuk bersajak ria

Pun bermuram durja

Demi lahirnya sajak yang sedikit gila

Padahal

Kamar hanyalah kandang pengasingan

Bagi jiwa-jiwa yang mengalami kekosongan

Sedangkan engkau

Masih setia di itu ruangan

Dengan kebuntuan yang kian mencekam

Tentang sajak yang tak jadi

Anggur dan rembulan

    Padang, September 2020


Kepada Penyair Kamar IV

Pun anggur dan rembulan bukanlah inspirasi

Akan sajak melankolis yang kau namakan puisi

Sebab ada hal yang lebih berbahaya

Dari amuk ombak

Pada saat musim pasang

“Syair dan sajak adalah jalan panjang” gumammu

Untuk suatu perenungan yang mendalam

Demi pemuas berahimu akan keindahan kata-kata

Yang entah maksud dan maknanya

Sedangkan,

Pada yang disebut syair

Sajak serta puisi

Tak hanya bergantung pada keindahan kata

Pun gemulainya engkau merenungnya

Sebab

Puisi adalah ajal

Syair ialah kematian

Dan kamar adalah kuburan

Yang membungkam segala pemikiran

    Padang, September 2020


Kepada Penyair Kamar V

Adalah Rendra

Yang mengajarkan untuk tak berkurung diri

Sebab kita harus turun ke jalan

Untuk merumuskan keadaan

Namun bagimu

Kamar tetap saja tempat ternyaman

Untuk menghasilkan syair-syair murahan

Yang selalu kau banggakan

Padahal Wiji thukul telah hilang

Rendra telah berpulang

Pun Sapardi jua turut serta

Istirahat di pembaringan

Dan kau

Masih setia dengan kata-kata romantis

Agar bisa disebut puitis

Dengan jeritan hati yang sedikit meringis

Dan tersedu menangis

Padahal

Puisi adalah gambaran kehidupan

Tuntunan perjuangan

Dan bukan pemuas pemikiran “pantek”

Yang mengambang pada kau punya angan

Maka dari itu

Jika kau masih setia

Dengan kamar

Dengan anggur dan rembulan

Maka alamat sumpah-serapah

Dan sampah yang kan kau dapatkan

    Padang, September 2020

Biodata Penulis


Ridho Alsyukri, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia universitas Andalas angkatan 2017, lahir di Pariaman pada 19 September 2020. Bekerja sampingan sebagai tekhnisi AC di Senior Teknik Air Conditioner “Service & Reparation” Pariaman, dan supir travel lintas Sumatera. Aktif menulis puisi dan cerpen. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media cetak dan media online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi puisi “Sandiwara Tuhan”. Pernah menenangkan beberapa lomba cipta puisi, dan juga menjadi juri lomba cipta&baca puisi. Sekarang berkegiatan di Teater Langkah FIB Unand.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Penulisan Konjungsi