Langsung ke konten utama

Puisi Julian Mahkmudasa

 

Ilustrator: Artfinder

Di Jalan Buntu

Aku tak akan memapahmu

karena yang kutahu, cinta akan

membawamu ke jalan buntu.

Di situ aku menunggu tanpa mawar

dan hanya menggenggam satu empedu.

Negeri sudah menjadi abu,

begitu juga dengan pertemuan

kita lalu.

Di sini jalan buntu, berhentilah

bertanya padaku tentang kerak-

kerak temu yang memaksa kita

harus berpadu.

  Padang, 2021


Bau Mesiu; Parfum Lima Ribu

Dan kita tak akan lagi mencium

bau mesiu. Hanya aroma

parfum lima ribu tiga kali

pakai yang masih melekat

pekat di tubuhmu. Selalu

terhidu di hidungku.

“Baja penghadang belum hengkang!”

Kita tak lagi mengasah sepatu

serupa pisau beracun.

  Padang, 2021


Tiada Yang Lebih Sampah

Bola matamu sampah

dan aku tahu tiada yang

lebih sampah daripada bola-

matamu itu.

Di sini yang lebih indah dari

sampah adalah sampah. Lalu

kau bertanya, mengapa?

Aku berusaha menjawab dengan

cara mengambil dua bolamatamu

di tumpukan tong sampah.

  Padang, 2021


Aku Tak Menemukan Malam

Aku tak lagi menemukan malam, cintaku.

Seharusnya kau sudah lebih tahu, sejak

dua laras panjang tak lagi menembus gelap.

Darahku hilang bersamaan dengan itu,

sementara malam yang kuinginkan adalah

empu dari langkah hilang. Aku hanya ingin

tertegun melihat bintang,

juga bersamaan dengan jerit panjang

di atas dipan. Aku berkunang-kunang

tak ingin diam. Oh, aku tak lagi menemukan

malam, cintaku.

Semua telah tiarap, tangan di atas kepala.

Setiap dada sudah bertemu paku yang juga

pasrah. Cintaku, aku tak menemukan malam

dalam dirimu.

  Padang, 2020


Ada di Antara

Perang belum berakhir,

Sepuluh semut masih menjelajahi

padang rimba.

Aku harus memakan itu.

“Ada tubuh terjaga di

sana”

Bagaimana? Adakah seutas tali

bisa membakar dua ekor semut!

Aku tahu. Menyerah dan kalah

hanya ada di antara.

  Padang, 2021


Biodata Penulis :

 Julian Mahkmudasa saat ini tengah menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Unversitas Andalas. Ia ingin memilik hobi yang tak dimiliki orang lain.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Ketentuan Umum: Penulis wajib mengirimkan karya asli, bukan karya saduran, maupun karya plagiat. Tulisan dikirim ke email:  gokenjeliterator@gmail.com  dengan subjek sesuai dengan jenis naskah (Cerpen, Puisi, Resensi buku, Artikel). Panjang cerpen minimal 3 halaman A4; diketik dengan menggunakan spasi 1,5 (margin normal). Penulis minimal mengirimkan 5 judul puisi. Panjang resensi buku dan artikel adalah 3-4 halaman A4, spasi 1,5, dan wajib menyertakan cover buku. Penulis wajib menyertakan biodata diri pada halaman terakhir dan foto diri di badan email. * Untuk saat ini, kami masih belum bisa memberikan apresiasi berupa honor bagi para sahabat Gokenje. Kami doakan agar Yang Mahakuasa membalas kebaikan para saudara dan memberikan limpahan rahmat yang tiada hingga. * Setiap tahun, kami akan memilih naskah terbaik dan berhak mendapatkan bonus senilai Rp. 500.000 * Terbit setiap minggu pada edisi kamis dan sabtu.

Puisi Edo Sapraja

(Ilustrator: Joyken) Ciri-Ciri Orang Botak Seperti bola, tapi bukan mainan Seperti belut, berlendir, tidak Berambut, pernah tapi dulu Bulat, licin, dan tak berhelai Itulah ciri orang botak Menggelikan bukan Sama menggelikan dengannya Dia yang sama-sama bulat Licin juga, di tangkap susah juga Sering memainkan dan mempermainkan Botak, bukan Itu bukan ciri orang botak Lamunan Seorang Pria Seorang pria hitam berdiri tegap Tenggelam dalam lamunnya hanyut dalam bayang-bayang kaca Ditatapnya jeli tiap sudut kepalanya terpantul dari matanya, berharap Akan mahkota yang dulu sirna Kembali pada singgasananya Berharap dan selalu berharap Tukang Tempa Hai tukang tempa tua Peluhmu mengucur deras Menguap dalam kobaran api Bara yang melelehkan besi Dari kumpulan besi-besi bekas Jeruji besi kurungan tikus dalam negeri Yang tidak pernah berfungsi  Sang Marabahaya Aku sang marabahaya Berjalan lenggak-lenggok Berkecak pinggang, berbusung dada Berjalan di tengah lapang penuh bahaya tak kasat ma

Kontributor Gokenje.id

 Edisi Oktober 2020 Anton Sucipto Yogi Guspri Pramesti Apriwanto Tinto En. Aang MZ Refaldo Fauzi Wahyuni Fitri Adel Yuhendra Joni Hendri Bahrul Ulum A. Muhaimin DS Yoza Fitriadi Khansa Arifah Adila M.N. Gemilang Wicaksono Putrarico14 Doni Amandola Putra Indah Wulandari Pulungan Jeri Maulana Putra Norrahman Alif Fany Ramadhani Dian Rizal Asyrof Nengsih Sri Rahayu Putri De Eka Putrakha Ridho Daffa Fadilah Wahid Kurniawan Ahmad Zul Hilmi Epi Muda Ferry Fansuri Oscar Maulana Zainur Rahman Faris Al Faisal Giffari Arief Ni'matus Sholihah Ridho Alsyukri Idoel Sapoetra Saiful Bahri Chalvin Pratama Putra Reni Putri Yanti Resti Alya Putri Syukur Budiardjo Yosi Adi Setiawan Moehammad Abdoe Rofiatul Adawiyah Risky Arbangi Nopi Kurnila Maruhawa I Made Kridalaksana Forlan Muda Rikard Diku Amidia Amanza Yohan Mataubana J . Akid Lampacak Fitri Rahmadhani