Langsung ke konten utama

Perempuan yang Tak Berani Bermimpi

 Penulis: Gusti Trisno

Ilustrator: Ray

Dokter itu telah pergi dari ruanganku. Aku tak tahu bagaimana ia bisa berlari melewati kecepatan yang tak pernah kumengerti. Terlebih, ia berhasil menembus segala buah pikiran nyataku atau barangkali ini hanyalah khayal yang seharusnya memang kuhentikan sejak awal pertemuan.
Ibu bahagia berdiri menatapku. Ia telah sadar jika anak semata wayangnya telah bisa kembali ke dunia nyata dengan penuh keselamatan. Lalu, perempuan ayu itu seakan-akan ingin mengajakku bermain dengan dunianya yang penuh cerita. Dunia yang selama ini kami hidup bersama melingkari detak jantung penuh rasa istimewa.
“Dokter itu barangkali pergi untuk menemui pasien lain,” ucap Ibu.
Mendengar itu, aku hanya tersenyum. Sebab tak mungkin rasanya aku berkata jika dokter itu bukan dokter yang sesungguhnya. Ia hanyalah ..., ah aku bingung menyebutnya sebagai roh atau apa. Yang jelas, perempuan itu telah menyelamatkanku dari kecelakaan itu.
“Nak, kamu masih sedih dengan kepergian Rinata?”
Aku menggeleng lemah. Apa yang telah pergi tak perlu disesali. Rinata telah memilih jalannya sendiri. Ia akan hidup bahagia dengan caranya sendiri. Dan, sebagai orang yang pernah singgah di hatinya. Aku haruslah mendoa demi kebahagiaan anak itu. Toh, hidup akan menuntutku untuk bertemu dengan orang baru. Saat itulah, aku harus membuka hati, membuka diri, agar cinta menyambut tepat pada waktunya.
“Jangan sampai kamu tidak berani bermimpi setelah kehilangan Rinata,” Ibu kembali memberikan saran. 
Mendengar itu, aku hanya tersenyum. Sebab kekhawatiran ibu tak perlu menjadi buah pikiran yang berarti. Dan, kekhawatiran itu juga bukanlah suatu hal yang mengempas kehidupanku dan menguliti segenap mimpi yang akan membawaku ke babak penghidupan baru.
“Terima kasih telah menjadi anak yang baik,” tutup Ibu.
Kemudian, diam menyelimuti dialog antara si buah hati dan si pemilik rahim kasih. Ibu benar-benar terdiam. Ia malah menyuruhku untuk mengistiratkan segenap pikiran. Lalu, membekapku dengan selimut yang menghangatkan.
Melihat itu, sungguh aku tak ingin membuang waktu dengan hanya beristirahat seperti ini saja. Waktu yang ada tak mungkin bisa terulang kembali. Dan, siapa yang bisa membunuh waktu? Jika kita tidak bisa menyimpan duka dengan baik. Lalu, bersembunyi dalam kesendirian di tengah keramaian.
“Ibu,” panggilku.
Ibu terbangun dari sofa yang ada di ruangan perawatanku. Ia kemudian kembali mendekat. Menatapku dengan tatapan sayang.
“Ada apa?” tanyanya akhirnya.
“Berikan satu kisah padaku tentang mimpi yang belum bisa ibu wujudkan.”
Mimpi yang belum terwujud. Hanya itu yang ingin kuraih saat ini. Jika mimpi itu bisa kuwujudkan pasti kebahagiaan ibu bertambah dan hidupku dilingkupi berkah. 
“Kamu bercanda, Nak. Ibu sama sekali tidak memiliki mimpi.”
Ungkapan ibu membuatku bingung. Bukankah sebagai makhluk hidup kita harus memiliki mimpi. Mimpi di sini memiliki arti yang begitu luas, seperti: cita-cita atau harapan. Dan, ibu tidak memiliki itu semua. Padahal, orang-orang seusianya pasti memiliki mimpi untuk berhaji ataupun hidup dengan penuh ketenangan, dan lain-lain. Sedangkan, ibu tidak memiliki apa pun dari itu.
“Ibu itu hanyalah sebuah roda, Nak. Roda yang digelindingkan dan tak berhak memilih kereta mana yang akan membawanya.”
Pernyataan ibu itu sedemikian filosofis. Tidak seperti biasanya, ia berucap seperti itu. Pasti ada beban di hati ibu. Dan, beban itu bukan karenaku sakit atau karena masa laluku yang kurang baik. Beban itu ada di hati ibu. Disimpan rapat, lalu kini menguap lantaran pengantar pertanyaanku.
“Mengapa ibu bisa berkata seperti itu?”
“Ibu akan bercerita masa itu,” ungkap ibu lalu memejamkan mata.
Aku pun mengikuti pejaman mata ibu. Lalu, membuka alat penglihatan itu. Kemudian, memasang telinga dengan benar. Sementara ibu, kini mengembuskan napas begitu panjang. setelah beberapa waktu, ia kemudian bersuara.
***
Ia tidak bisa memilih kereta mana yang akan membawanya. Hal ini dimulai ketika leleki itu singgah ke rumah. Dan, memintanya pada sang perempuan yang mempertaruhkan nyawa demi kelahirannya. Perempuan yang nantinya kupanggil Nenek itu langsung setuju begitu saja. 
Ia yang saat itu baru lulus kuliah langsung menemui rasa bingung. Bingung lantaran penerimaan sang perempuan firdaus memaksanya untuk menghentikan segala cerita cinta bersama kekasihnya yang hanya tamatan SMA.
“Seorang lulusan kuliah ya harus dapat yang lulus kuliah,” vonis ibunya.
Ia tidak berani sedikit pun menolak. Ia tidak bisa berontak. Berontak sekali saja. Ia bisa diusir sebagaimana diancam seperti biasanya oleh si ibu. Mendapati kenyataan itu, ia hanya bisa berdiam diri. Menangis sendiri. Merenungi nasib yang tak sesuai mimpi remaja kebanyakan. 
Hingga akhirnya, waktu menggulung dengan cepat. Lelaki yang dibenci sejak masa SMA-nya datang melamar membawa keluarganya lengkap. Ia memasang wajah tersenyum. Senyum itu bersambut senyum yang lain. Kemudian, tangan yang ia ulurkan bersambut tangan yang lain. Namun, hati lain yang menyambutnya tak dapat bertaut ke hatinya. Dalam hatinya, ia hanya berpikir teman SMA yang telah hinggap di mimpi-mimpinya dan tumbuh menua bersama, sekaligus memberinya anak-anak dan memulihkan segala rasa trauma di rumah.
Tapi mimpi itu tidak sebanding dengan kenyataan yang ia miliki. Laki-laki yang melamarnya bukanlah lelaki yang diimpikan, melainkan lelaki yang ia tahu selalu mencari celah hatinya setiap kali mengelesi adik kecilnya di rumah. Lelaki itu juga hari itu menyebarkan berita tentang permintaan hati. Ia mengangguk menerima. Mengingat itu yang bisa ia lakukan. Jika tidak, siap-siap saja mata nyalang si ibu akan menghiasi wajahnya.
Hidup bersama lelaki yang tak dicinta itu bukanlah hal yang mudah. Ia seperti menyendangkan suatu lagu sedih setiap hari. Dan, rumah yang mereka berdua tempati serupa ladang dendam. Akibat dulu tak menerima lelaki itu sejak awal.
Walaupun begitu, sebagai istri, ia belajar menetralisir semuanya. Ia pun mulai belajar mencinta. Berharap pepatah witing trisna jalaran suku kulina akan benar-benar teralisasi dalam hidupnya. Dan, puncaknya perempuan itu pun bisa belajar hingga kemudian memilikiku sebagai anak buah cintanya.
***
“Itu artinya ibu selama ini tidak mencintai bapak?”
Ibu tersenyum. Senyuman itu serupa penghantar kesejukan. Bahwa cinta tidak semestinya diantar dengan cinta saja, tetapi bisa berawal dari kebencian yang kemudian mendapatkan jatah keuntungan lantaran datang melamar lebih awal. Terlebih ditambah kondisi keuangan yang mendukung. Sehingga membius orang-orang yang memiliki hak atas diri menentukan dengan siapa berlayarnya perahu kehidupan.
“Setelah memilikimu, ia bisa belajar itu.”
Giliran aku yang tersenyum. Artinya apa pun yang pernah terjadi dalam hidup ibu bisa terlewati dengan indah. Dan, aku tak dapat membayangkan jika hingga kini, ibu tidak mencintai bapak.
“Lalu, apa karena itu mimpi tidak berani bermimpi?”
Aku kembali bertanya.
Ibu terdiam. Lalu tercipta kembali jeda. Tiba-tiba pintu bangsal perawatan diketuk. Ibu membuka pintu itu. Tapi, anehnya tidak ada siapa-siapa. Hanya semilir angin yang begitu menyejukkan. Aku dan ibu berpandangan aneh. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Barulah setelah sekian waktu. Pintu kembali diketuk. Dan, di sana ada dokter yang hilang dari kamar perawatanku.
Dokter itu kemudian menepuk pundak ibu seolah-olah memberikan sumber kekuatan. Ibu melihat dokter itu seperti melihat seseorang yang telah lama dikenalnya. Kemudian, keduanya hanyut dalam pelukan. Pelukan yang begitu tampak menguraikan kesedihan. Sayangnya pelukan itu hanya sebentar. Dokter itu pergi dalam sekejap di pelukan ibu.
“Ia Neneknya Rinata kan, Bu?” tanyaku.
Ibu mengangguk. Kemudian tersenyum. Ia sama sekali tak ingin menanyakan sosok perempuan yang menyanggulkan rambutnya itu. Padahal, jika ditanya, kini aku akan menjawab dengan jelas tentang pertemuan dengan Nenek Rinata yang menjelma dokter itu. Toh, kini aku merasa ibu tidak akan mengganggapku berhalusinasi, ia juga melihat Nenek Rinata itu.
“Nenek itu menjadi tempat ibu bercerita. Ia begitu mengganggap ibu seperti anak sendiri. Ibu dan anaknya atau ibunya Rinata berteman begitu akrab. Kedekatan kami itu membuat Nenekmu cemburu. Ibu sering disuruh pulang jika main di rumah perempuan itu begitu lama. Padahal, ibu menemukan kenyamanan bercerita. Terlebih ketika disuruh pulang. Ibu selalu mendapat amukan marah.”
Pelan tapi pasti. Jalinan cerita ibu yang menyesakkan terurai dengan sempurna. Aku hanya perlu mendengar memberikan sentuhan tangan serupa kekuatan agar dari kisah ini membuatku bisa membuat mimpi baru bagi ibu.
“Mengapa Nenek sampai hati seperti itu pada ibu?”
“Ibu ini bukan anak kandung Nenek,” tanggap ibu membuatku mengernyitkan kening. Aku benar-benar heran mengapa ibu merahasiakan ini hingga aku masuk masa SMA. Tidak memberitahu sejak awal. 
“Lalu, siapa Nenekku sebenarnya, Bu?”
“Ia adalah adik bungsu dari Nenekmu.”
Penjelasan ibu membuatku sedikit lega artinya ibu mengetahui orang tua kandungnya. Penjelasan itu juga menjawab segala keanehan jika adik Nenek berkunjung ke rumah. Perhatiannya begitu lebih padaku. Ia seperti memberikan kasih begitu riuh. Dan, dari tatapan matanya serupa tatapan ibu. Menyejukkan. Menenggelamkanku bersama rentetan kehangatan.
“Dan, aku masih belum mengerti dari cerita ibu itu mengapa ibu tidak berani bermimpi?”
“Mimpi ibu telah terkubur, Nak. Mimpi ibu telah raib.”
“Mengapa?”
“Rinata telah menikah dengan yang lain. Dan, tak mungkin mimpi itu terwujud kan.”
Aku mengangguk mengerti. Kedekatan ibu dan ibu Rinata, serta Nenek Rinata bukan hal yang berkelindan. Dan, mereka memilih mimpi yang sama. Menyatukan dua hati antara aku dan Rinata. Tapi, siapa yang bisa memprediksi waktu yang penuh kejutan ini. Waktu hanya membuatku bisa menerima. Seperti juga ibu. Dan, nanti aku yakin akan ada mimpi lain yang ibu miliki. Aku harus mencari itu. Kemudian, mewujudkannya. Entah dengan apa caranya.

Biodata Penulis

Gusti Trisno. Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang yang memiliki nama lengkap Sutrisno Gustiraja Alfarizi. Peraih juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016 dan Penerima Anugerah Sastra Apajake 2019. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul “Seperti Skripsi, Kamu Patut Kuperjuangkan” (Elexmedia Komputindo). 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Ketentuan Umum: Penulis wajib mengirimkan karya asli, bukan karya saduran, maupun karya plagiat. Tulisan dikirim ke email:  gokenjeliterator@gmail.com  dengan subjek sesuai dengan jenis naskah (Cerpen, Puisi, Resensi buku, Artikel). Panjang cerpen minimal 3 halaman A4; diketik dengan menggunakan spasi 1,5 (margin normal). Penulis minimal mengirimkan 5 judul puisi. Panjang resensi buku dan artikel adalah 3-4 halaman A4, spasi 1,5, dan wajib menyertakan cover buku. Penulis wajib menyertakan biodata diri pada halaman terakhir dan foto diri di badan email. * Untuk saat ini, kami masih belum bisa memberikan apresiasi berupa honor bagi para sahabat Gokenje. Kami doakan agar Yang Mahakuasa membalas kebaikan para saudara dan memberikan limpahan rahmat yang tiada hingga. * Setiap tahun, kami akan memilih naskah terbaik dan berhak mendapatkan bonus senilai Rp. 500.000 * Terbit setiap minggu pada edisi kamis dan sabtu.

Puisi Edo Sapraja

(Ilustrator: Joyken) Ciri-Ciri Orang Botak Seperti bola, tapi bukan mainan Seperti belut, berlendir, tidak Berambut, pernah tapi dulu Bulat, licin, dan tak berhelai Itulah ciri orang botak Menggelikan bukan Sama menggelikan dengannya Dia yang sama-sama bulat Licin juga, di tangkap susah juga Sering memainkan dan mempermainkan Botak, bukan Itu bukan ciri orang botak Lamunan Seorang Pria Seorang pria hitam berdiri tegap Tenggelam dalam lamunnya hanyut dalam bayang-bayang kaca Ditatapnya jeli tiap sudut kepalanya terpantul dari matanya, berharap Akan mahkota yang dulu sirna Kembali pada singgasananya Berharap dan selalu berharap Tukang Tempa Hai tukang tempa tua Peluhmu mengucur deras Menguap dalam kobaran api Bara yang melelehkan besi Dari kumpulan besi-besi bekas Jeruji besi kurungan tikus dalam negeri Yang tidak pernah berfungsi  Sang Marabahaya Aku sang marabahaya Berjalan lenggak-lenggok Berkecak pinggang, berbusung dada Berjalan di tengah lapang penuh bahaya tak kasat ma

Kontributor Gokenje.id

 Edisi Oktober 2020 Anton Sucipto Yogi Guspri Pramesti Apriwanto Tinto En. Aang MZ Refaldo Fauzi Wahyuni Fitri Adel Yuhendra Joni Hendri Bahrul Ulum A. Muhaimin DS Yoza Fitriadi Khansa Arifah Adila M.N. Gemilang Wicaksono Putrarico14 Doni Amandola Putra Indah Wulandari Pulungan Jeri Maulana Putra Norrahman Alif Fany Ramadhani Dian Rizal Asyrof Nengsih Sri Rahayu Putri De Eka Putrakha Ridho Daffa Fadilah Wahid Kurniawan Ahmad Zul Hilmi Epi Muda Ferry Fansuri Oscar Maulana Zainur Rahman Faris Al Faisal Giffari Arief Ni'matus Sholihah Ridho Alsyukri Idoel Sapoetra Saiful Bahri Chalvin Pratama Putra Reni Putri Yanti Resti Alya Putri Syukur Budiardjo Yosi Adi Setiawan Moehammad Abdoe Rofiatul Adawiyah Risky Arbangi Nopi Kurnila Maruhawa I Made Kridalaksana Forlan Muda Rikard Diku Amidia Amanza Yohan Mataubana J . Akid Lampacak Fitri Rahmadhani