Langsung ke konten utama

Ikan Mas dan Lelaki Malang

 Penulis: Rafii Syihab


Ilustrator: Artfinder


Lelaki yang mencintai ikan mas itu mati pada penghujung tahun 2020 di kamar pengap rumah kontrakan busuknya. Induk semang yang tiga hari kemudian menemui mayatnya tak tahu alasan di balik kematian itu, dan ia menduga lelaki yang mati duduk dengan celana melorot itu hanya kehabisan umur di waktu yang tidak tepat. Karena si induk semang tak ingin terlibat masalah berbelit tentang apa dan bagaimana kematian bisa datang pada pemuda itu, dan terutama ia tak ingin susah-susah mengurus kematian seorang yang bahkan telat bayar kontrakan selama satu bulan lebih, maka tubuh lelaki itu dibopong seorang diri olehnya untuk dibawa pergi secara paksa meninggalkan tempat tersebut dan dibuang di sungai belakang kontrakan.

Salman Basral, lelaki malang itu, kemudian dengan tubuhnya yang sudah tak bernyawa bertemu dengan pujaan hatinya: ikan mas.

Perkenalannya dengan ikan mas itu telah lama terjadi, Salman membelinya di pasar ikan awal tahun lalu. Awalnya ia ingin memakan ikan tersebut dengan kekasihnya tetapi kekasihnya malam itu (juga malam-malam selanjutnya) tak datang dan nasib baik datang pada si ikan mas—ia tak jadi dimasak dan malah dipelihara dalam sebuah akuarium di pojok ruangan. Hari-hari silih berganti, wabah kemudian mengurung lelaki itu di dalam kontrakannya (bukan karena takut virus, ia dipecat dari pekerjannya) dan yang dilihatnya setiap waktu hanyalah si ikan mas yang mondar-mandir dalam akuarium kecil tersebut.

Awalnya Salman menampik perasaan itu dan bilang bahwa ia tengah dirasuki setan alas yang menghuni kontrakan busuk tersebut. “Bahkan orang gila yang paling gila tak mungkin jatuh cinta pada seekor ikan mas kampungan!” ujarnya pada diri sendiri. Tetapi mereka terus bersama di dalam kontrakan busuk tersebut dalam waktu-waktu sulit, Salman seringkali mengajak ikan mas mengobrol dan, tentu saja, yang kemudian terjadi hanya Salman lah yang berbicara. Saban hari ia terus memerhatikan ikan mas itu, mengajaknya bermain atau sekadar membagi cerita keseharian yang tak menarik untuk didengarkan bahkan oleh manusia sekalipun.

“Kau pendengar yang baik,” ucap Salman suatu waktu pada ikan mas. Ikan mas mendekat ke kaca dan menempelkan mulutnya di sana. Salman mengatakan cintanya. Saat itulah, menurut Salman, ia dan ikan mas mulai menjalin satu hubungan yang rumit.

Ikan mas tentu saja tak mendengar semua perkataan yang diucapkan oleh Salman, ia tinggal di sebuah akuarium dan air menghalangi semua suara yang datang dari luar. Jadi ketika Salman mengatakan bahwa ia mencintai si ikan mas, ikan mas diam saja. Bahkan ketika ia mendekatkan mulutnya ke akuarium yang kemudian diartikan sebagai isyarat menerima cinta oleh Salman, sesungguhnya itu hanyalah ketidaksengajaan yang diartikan secara dungu oleh tuannya.

Sebenarnya, sesekali Salman masih juga merindukan kekasih manusianya yang pergi itu, ada semacam perasaan ingin memeluk dan bercinta dengannya, terutama pada malam-malam dingin yang membuat berahinya memuncak. Tapi ia telah pergi dan tak mungkin membuatnya kembali, dan sebab itu Salman menjadi murung. Bila sudah begitu, ia menghadap pada ikan mas, kekasihnya yang baru, dan mencomoohnya sebab ia tak bisa diajak bercinta.

Pada saat itulah Salman sering membayangkan kemungkinan ikan mas bisa menjadi manusia untuk kemudian bisa ia ajak berpelukan sepanjang malam yang dingin itu dan bercinta sesering mungkin. Tapi hal semacam itu hanya terjadi di dalam film murahan yang tayang di teve nasional—kesadaran ini selalu datang selepas ia melepas berahinya dengan meracap.

Hari-hari berlalu, perasaan dalam hati Salman terus tumbuh kendati ikan mas tetap saja ikan mas dan tak ada sedikitpun rupa perubahan yang kelak akan membuatnya menjadi manusia atau setidaknya bisa mengucap sepatah kata cinta yang bisa membahagiakan lelaki itu. Keseharian mereka adalah keseharian paling membosankan sepasang kekasih yang ada di dunia ini: pagi sekali mereka akan sarapan berdua, si lelaki mengocehkan tentang segala hal yang bisa ia ceritakan pada si ikan mas, tentang mimpinya, harapannya yang begitu tak masuk akal untuk dikabulkan bahkan jika semua Tuhan dalam semua agama bersatu untuk itu, juga tentang dunia yang semakin hari semakin tak waras.

“Jika tak ada kau,” ucap Salman suatu pagi, “aku pasti akan menggantung diriku sejak pertengahan tahun lalu.”

Kekasihnya diam.

“Sejak ada kamu,” Salman melanjutkan, “setidaknya aku bisa hidup sampai tabungan kita habis.”

Kekasihnya masih bergeming. Sarapan keduanya telah selesai. Di dinding, jam menunjukkan pukul delapan dan itu adalah waktu yang tepat untuk Salman tidur—sejak ia menganggur jam tidurnya memang telah berubah. Maka yang dilakukan sepasang kekasih itu selepas mereka menyelesaikan sarapan adalah: si lelaki menyemplungkan kepalanya ke dalam akurium, tangannya memegang kepala kekasihnya dan begitulah mereka berciuman.

Sore hari, minggu terakhir di 2020, Salman terbangun dengan berahi yang memuncak. Itu adalah saat-saat yang menyebalkan, karena di waktu seperti itulah ia akan merindukan kekasihnya yang pergi itu, dan menyesali mengapa ia harus berpacaran dengan ikan mas yang tidak  bisa diajak bercinta. Jika di waktu sebelumnya ia selalu berhasil meredam keinginan untuk bercinta itu dengan sedikit akal sehat yang tersisa di kepalanya, maka kali itu kepalanya bagai kelapa tua yang hanya berisi air—tak ada akal sehat, semuanya terendam.

“Aku harus bercinta,” ucapnya.

Salman mengambil ikan mas dari dalam akuarium, dengan satu dan lain cara ia mencoba untuk menuntaskan hasratnya pada kekasihnya yang megap-megap tak bisa bernapas itu. Lima belas menit, berahinya tak jua selesai dan si ikan mas hampir mati karena ketololan itu. Putus asa, Salman membuang si ikan mas ke sungai belakang kontrakannya sambil mengumpat dengan semua kata-kata kotor yang bisa ia teriakkan.

“Mengapa aku punya kekasih bego sepertimu!”

“Ikan tolol!”

“Aku pasti dirasuki setan alas!”

“Bangsat!”

Selepas melemparkan ikan mas, ia bergegas masuk ke dalam kontrakannya dan menuntaskan berahi dengan cara paling sederhana seorang laki-laki malang di seluruh muka bumi: meracap. Dua menit setelahnya, penyesalan karena telah membuang si ikan mas lantas datang menghampirinya.

Dalam penyesalan yang bercampur sedih, segera ia cari si ikan mas ke dalam sungai. Tapi itu jelas adalah jenis kedunguan lain yang tak mesti harus dilakukan jika ia sedikit saja lebih pintar.

Sejak hari itu, dimulai lah kesedihannya yang tiada berujung. Ia menangis tiada henti dari waktu ke waktu. Tanpa makan dan minum, untuk menutupi kesedihannya, ia juga terus meracap. Hingga pada suatu malam, dengan sisa tenaganya yang tak lebih kuat dari sebilah lidi, ia meracap sambil menangis.

“Untuk terakhir kalinya,” gumamnya, “aku akan bertemu kembali denganmu sayang.”

Tiga hari setelahnya, induk semangnya masuk untuk menagih uang kontrakan. Tetapi betapa terkejutnya ia karena yang ditagih ternyata sudah menjadi mayat yang bahkan sudah mulai membusuk. Dengan cepat ia putuskan untuk membuang mayat celaka itu ke sungai. Aku tidak membunuhnya, batinnya, anggap saja mayat ini terjun sendiri ke sungai.

Di suatu teluk, kemudian dengan tubuhnya yang sudah tak bernyawa, Salman bertemu dengan pujaan hatinya: ikan mas. Untuk terakhir kalinya mereka berciuman sebelum akhirnya ikan mas memutuskan untuk memakan tubuh kurus itu. Tubuh lelaki malang yang melepaskan dirinya menuju kebebasan.


Biodata Penulis:

Rafii Syihab; Penulis berasal dari Banjarbaru, bersama beberapa kawan, sejak 2017, membangun Kampung Teater dan masih berusaha memperbesar komunitas tersebut hingga sekarang. Menulis cerpen, puisi, juga naskah drama. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak lokal dan terdapat di buku antologi bersama. Bisa dihubungi lewat rafiisyihab98@gmail.com atau Facecook: Rafii Syihab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Ketentuan Umum: Penulis wajib mengirimkan karya asli, bukan karya saduran, maupun karya plagiat. Tulisan dikirim ke email:  gokenjeliterator@gmail.com  dengan subjek sesuai dengan jenis naskah (Cerpen, Puisi, Resensi buku, Artikel). Panjang cerpen minimal 3 halaman A4; diketik dengan menggunakan spasi 1,5 (margin normal). Penulis minimal mengirimkan 5 judul puisi. Panjang resensi buku dan artikel adalah 3-4 halaman A4, spasi 1,5, dan wajib menyertakan cover buku. Penulis wajib menyertakan biodata diri pada halaman terakhir dan foto diri di badan email. * Untuk saat ini, kami masih belum bisa memberikan apresiasi berupa honor bagi para sahabat Gokenje. Kami doakan agar Yang Mahakuasa membalas kebaikan para saudara dan memberikan limpahan rahmat yang tiada hingga. * Setiap tahun, kami akan memilih naskah terbaik dan berhak mendapatkan bonus senilai Rp. 500.000 * Terbit setiap minggu pada edisi kamis dan sabtu.

Puisi Edo Sapraja

(Ilustrator: Joyken) Ciri-Ciri Orang Botak Seperti bola, tapi bukan mainan Seperti belut, berlendir, tidak Berambut, pernah tapi dulu Bulat, licin, dan tak berhelai Itulah ciri orang botak Menggelikan bukan Sama menggelikan dengannya Dia yang sama-sama bulat Licin juga, di tangkap susah juga Sering memainkan dan mempermainkan Botak, bukan Itu bukan ciri orang botak Lamunan Seorang Pria Seorang pria hitam berdiri tegap Tenggelam dalam lamunnya hanyut dalam bayang-bayang kaca Ditatapnya jeli tiap sudut kepalanya terpantul dari matanya, berharap Akan mahkota yang dulu sirna Kembali pada singgasananya Berharap dan selalu berharap Tukang Tempa Hai tukang tempa tua Peluhmu mengucur deras Menguap dalam kobaran api Bara yang melelehkan besi Dari kumpulan besi-besi bekas Jeruji besi kurungan tikus dalam negeri Yang tidak pernah berfungsi  Sang Marabahaya Aku sang marabahaya Berjalan lenggak-lenggok Berkecak pinggang, berbusung dada Berjalan di tengah lapang penuh bahaya tak kasat ma

Kontributor Gokenje.id

 Edisi Oktober 2020 Anton Sucipto Yogi Guspri Pramesti Apriwanto Tinto En. Aang MZ Refaldo Fauzi Wahyuni Fitri Adel Yuhendra Joni Hendri Bahrul Ulum A. Muhaimin DS Yoza Fitriadi Khansa Arifah Adila M.N. Gemilang Wicaksono Putrarico14 Doni Amandola Putra Indah Wulandari Pulungan Jeri Maulana Putra Norrahman Alif Fany Ramadhani Dian Rizal Asyrof Nengsih Sri Rahayu Putri De Eka Putrakha Ridho Daffa Fadilah Wahid Kurniawan Ahmad Zul Hilmi Epi Muda Ferry Fansuri Oscar Maulana Zainur Rahman Faris Al Faisal Giffari Arief Ni'matus Sholihah Ridho Alsyukri Idoel Sapoetra Saiful Bahri Chalvin Pratama Putra Reni Putri Yanti Resti Alya Putri Syukur Budiardjo Yosi Adi Setiawan Moehammad Abdoe Rofiatul Adawiyah Risky Arbangi Nopi Kurnila Maruhawa I Made Kridalaksana Forlan Muda Rikard Diku Amidia Amanza Yohan Mataubana J . Akid Lampacak Fitri Rahmadhani