Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

Puisi Julian Mahkmudasa

  Ilustrator: Artfinder Di Jalan Buntu Aku tak akan memapahmu karena yang kutahu, cinta akan membawamu ke jalan buntu. Di situ aku menunggu tanpa mawar dan hanya menggenggam satu empedu. Negeri sudah menjadi abu, begitu juga dengan pertemuan kita lalu. Di sini jalan buntu, berhentilah bertanya padaku tentang kerak- kerak temu yang memaksa kita harus berpadu.   Padang, 2021 Bau Mesiu; Parfum Lima Ribu Dan kita tak akan lagi mencium bau mesiu. Hanya aroma parfum lima ribu tiga kali pakai yang masih melekat pekat di tubuhmu. Selalu terhidu di hidungku. “Baja penghadang belum hengkang!” Kita tak lagi mengasah sepatu serupa pisau beracun.   Padang, 2021 Tiada Yang Lebih Sampah Bola matamu sampah dan aku tahu tiada yang lebih sampah daripada bola- matamu itu. Di sini yang lebih indah dari sampah adalah sampah. Lalu kau bertanya, mengapa? Aku berusaha menjawab dengan cara mengambil dua bolamatamu di tumpukan tong sampah.   Padang, 2021 Aku Tak Menemukan Malam Aku tak lagi menemukan

Ikan Mas dan Lelaki Malang

 Penulis: Rafii Syihab Ilustrator: Artfinder Lelaki yang mencintai ikan mas itu mati pada penghujung tahun 2020 di kamar pengap rumah kontrakan busuknya. Induk semang yang tiga hari kemudian menemui mayatnya tak tahu alasan di balik kematian itu, dan ia menduga lelaki yang mati duduk dengan celana melorot itu hanya kehabisan umur di waktu yang tidak tepat. Karena si induk semang tak ingin terlibat masalah berbelit tentang apa dan bagaimana kematian bisa datang pada pemuda itu, dan terutama ia tak ingin susah-susah mengurus kematian seorang yang bahkan telat bayar kontrakan selama satu bulan lebih, maka tubuh lelaki itu dibopong seorang diri olehnya untuk dibawa pergi secara paksa meninggalkan tempat tersebut dan dibuang di sungai belakang kontrakan. Salman Basral, lelaki malang itu, kemudian dengan tubuhnya yang sudah tak bernyawa bertemu dengan pujaan hatinya: ikan mas. Perkenalannya dengan ikan mas itu telah lama terjadi, Salman membelinya di pasar ikan awal tahun lalu. Awalnya ia in

Puisi Wahyuni Fitri

  Ilustrator: Annie Imajinasi Gila Aku tau sejauh apapun aku berlari Kau tak akan mengejarku Aku tau sekuat apapun aku melupa Kau tak akan pernah mengingatku Aku tau sekuat apapun aku menangis Kau hanya akan tertawa Aku tau sekuat apapun aku menyiksa diriku Itu lelucon bagimu Harus bagaimana aku?? Kenapa kau sedingin itu?? Rendahkan aku dihadapanmu? Atau memang tak terlihat olehmu? Aku Dia mengajariku bagaimana menjadi aku Aku terang di kegelapan Aku terapung dari kedalaman Aku terbang dari kejatuhan Memang ,memang dia mengajariku semu Semu yang mendewasakan tanpa meragu Menerjemahkan kalbu tanpa berseteru Mengiringi setiap deru nafasku Kini aku bangkit dengan sejuta cerita Menghidupkan hati yang telah mati Membangkitkan jiwa yang telah hancur Berkatmu aku kembali Berterimakasihlah pada yang terkasih Membiarkan ku mengetahui tentang diriku Kamu dan Harapan Kamu berusaha kuat untuk mengabaikan Kenyataannya hatimu selalu memikirkan Kamu berusaha kuat membiasakan Kenyataannya hati

Perempuan yang Tak Berani Bermimpi

 Penulis: Gusti Trisno Ilustrator: Ray Dokter itu telah pergi dari ruanganku. Aku tak tahu bagaimana ia bisa berlari melewati kecepatan yang tak pernah kumengerti. Terlebih, ia berhasil menembus segala buah pikiran nyataku atau barangkali ini hanyalah khayal yang seharusnya memang kuhentikan sejak awal pertemuan. Ibu bahagia berdiri menatapku. Ia telah sadar jika anak semata wayangnya telah bisa kembali ke dunia nyata dengan penuh keselamatan. Lalu, perempuan ayu itu seakan-akan ingin mengajakku bermain dengan dunianya yang penuh cerita. Dunia yang selama ini kami hidup bersama melingkari detak jantung penuh rasa istimewa. “Dokter itu barangkali pergi untuk menemui pasien lain,” ucap Ibu. Mendengar itu, aku hanya tersenyum. Sebab tak mungkin rasanya aku berkata jika dokter itu bukan dokter yang sesungguhnya. Ia hanyalah ..., ah aku bingung menyebutnya sebagai roh atau apa. Yang jelas, perempuan itu telah menyelamatkanku dari kecelakaan itu. “Nak, kamu masih sedih dengan kepergian Rinat

Puisi Ridho Alsyukri

  Ilustrator: Envato Tuts Kepada Penyair Kamar I Di ruangan 2x3 meter Kau sibuk berkutat dengan kata-kata Mengukur setiap jengkal baris Dengan bentuk kata yang jauh dari simetris “Sajak adalah kehidupan” katamu Yang dibesarkan seperti anak sendiri Disusun pada setiap terkaan Akan kata yang mengambang dia angan “Aih. Seperti iklan saja. Dibesarkan seperti anak sendiri” ucapmu Seketika kau ingat iklan kecap bango Dan kau menulis puisi Tentang burung perkutut Yang bersemayam di selangkanganmu.     Padang, September 2020 Kepada Penyair Kamar II Separuh sajakmu hampir rampung Dan kau mulai bingung Kandas pada ide yang mengambang di angan Buntu pada kata yang ingin kau torehkan Pada kertas-kertas yang berantakan Lalu kau mulai mengusai celengan kata Membongkar semua isinya Kata-kata melankolis yang kau tuju Yang bertemakan hujan, cinta, dan rindu Sudah semua kata kau cari kau tilik dan teliti Namun tak satu jua Sesuai dengan keinginan kau punya jiwa Onani, anggur, rembulan Sampah, sump