Vodka

Penulis: AFIRA JULIANA 



“Aaaa... mama……mama,” teriak anak kecil itu. Tak ada sedikit pun niat jahat, aku hanya mau bermain dan meminta sedikit makanannya, tapi ia mengambil kembali makanan yang telah ia berikan di dalam mulutku dan menendang serta menginjak ekorku. “husss…hus…sana dasar jelek, kotor, pergi sana huss…hus,” bentak wanita yang baru datang tak lupa ia menendangku dengan keras. Sepertinya wanita itu ibu dari anak kecil yang tadi tak sengaja ku gigit.

Kini semua badanku terasa sakit, tak kalah sakit ekorku yang diinjak anak kecil tadi dengan sepatunya yang keras, “sungguh sial hari ini,” batinku. Perut terasa sangat lapar, tapi kemana lagi aku harus mencari makan, semua tempat sampah sudah ada yang berkuasa dan jika aku nekat mencari makan di situ nyawaku taruhannya. Aku hanyalah seekor kucing kampung berwarna putih kumal yang selalu di pandang sebelah mata oleh orang-orang yang berlalu lalang di pasar ini. Orang-orang tak menganggapku ada, bahkan tak sedikit dari mereka yang menendangku dikala aku singgah di depan lapak mereka berjualan. Meskipun lapar aku tidak akan mencuri dagangan mereka, almarhum ibuku dulu berpesan agar aku tak mencuri sebab mencuri itu dosa, biarlah kita mati kelaparan asalkan jangan mencuri. Entah mengapa genangan air tak mampu lagi terbendung di kelopak mataku kala aku mengingat pesan-pesan almarhum ibu. Sebelumnya aku tak pernah merasakan kelaparan seperti ini, ibu selalu membawakan ku makanan setiap hari. Semenjak ibu meninggal karena kecelakaan akibat tabrakan motor aku jadi hidup sebatang kara. Untungnya pak Bayu yang berjualan ikan lah yang selalu memberiku ikan setiap hari, entah kenapa sudah tiga hari ini pak Bayu tak lagi berjualan ikan. 

“Pak Bayu belum jualan neng?” Tanya seorang pelanggan setia pak Bayu kepada penjual yang berjualan di seberang lapak ikan pak Bayu. “Belum bu, saya dengar pak Bayu mengalami kecelakaan sewaktu mau berangkat ke pasar dan mengalami patah tulang di kaki sehingga belum bisa berjualan”. Tak sengaja aku mendengar kabar bahwa pak Bayu kecelakaan. Sekarang aku ingat kalau kakak penjual udang yang berjualan di seberang lapak pak Bayu adalah tetangga pak Bayu. “Mungkin saja rumah kakak itu berdekatan dengan rumah pak Bayu” pikirku dalam hati. Kini ku bulatkan tekad untuk membuntuti kakak penjual udang tadi hingga sampai kerumahnya. Kebetulan karena jarak pasar yang tidak terlalu jauh, dagangan kakak tadi juga cepat habis. Aku melihatnya pulang berjalan kaki, dengan sigap ku ikuti setiap langkah kakak pejual udang tadi. Sepanjang jalan aku melihat banyak orang yang berlalu lalang dengan sepeda motor, ada juga yang memakai mobil dan berjalan kaki. Hingga pandangan ku tertuju ke sebuah rumah, di rumah itu terlihat kucing yang lagi di suapi makan dan bermain bersama dengan majikannya, ingin rasanya aku merasakan hal yang sama, tapi mustahil untuk itu semua. Tanpa aku sadari kakak penjual udang tadi telah melangkah jauh, dengan sepenuh tenaga aku mengejar kakak penjual udang tadi. Tak lama kemudian kakak tadi masuk ke sebuah rumah. Aku mulai mengamati rumah-rumah di sekitar, selain untuk mencari rumah pak Bayu aku juga bersiaga terhadap kucing-kucing liar yang ada di kawasan ini. Benar saja dengan mengandalkan mata elang ku, aku menemukan keberadaan rumah pak Bayu. Perasaan senang bercampur sedih, akhirnya aku dapat bertemu lagi dengan pak Bayu sedihnya sekarang keadaan kaki pak Bayu terlihat sangat memperihatinkan. Pak Bayu duduk di kursi roda dan kakinya di balut kain berwarna putih, juga terlihat sedikit bercak darah di kaki pak Bayu. Aku melangkahkan kaki menuju ke rumah pak Bayu, baru saja beberapa langkah berjalan pandangan ku berubah gelap. 

Saat membuka mata pandangan ku terasa kabur, semua badanku sakit lebih sakit di bandingkan di injak dan di tendang orang-orang sebelumnya. Di tangan kanan ku terlihat selang bening yang tertancap dengan cairan yang terus mengalir. “Dimana aku,” aku mulai beteriak tapi tak sanggup untuk bangkit. “Dokter… kucingnya udah sadar,” aku menganga mendengar perkataan tadi. “Semua baik-baik saja sekarang kucing ini hanya butuh beristirahat untuk memulihkan kembali luka di kaki kirinya,” ucap seseorang dengan pakaian berwarna putih dan di panggil dokter itu. “Meong,” ucap ku kepada pria yang saat ini sedang mengelus-elus pelan kepalaku. “Maafkan aku karena keteledoranku kamu jadi seperti ini,” pria itu menangis di hadapanku. 

Aku tertabrak mobil pria tadi sewaktu menyeberang ke rumah pak Bayu dan untungnya pria itu segera membawa ku ke rumah sakit, kalau tidak mungkin saat ini aku telah mati. Keesokan harinya pria itu datang lagi, “kamu ikut pulang ke rumah aku ya ke rumah baru kita”. Aku mulai memikirkan kata-kata pria tadi, tak lama dokter datang dan mencabut selang-selang yang ada di tanganku, sakit memang tapi itu tak seberapa di banding sakit yang aku alami selama ini. Aku dimasukkan ke dalam kotak kecil dan dibawa ke dalam mobil. Aku di bawa ke suatu tempat yang belum pernah aku lalui. 

“Kita telah sampai,” ucap pria itu lagi dan dia langsung mengeluarkan kotak yang menopang tubuhku lalu di bawanya masuk ke dalam rumah. “Mulai sekarang kamu tinggal di sini,” dia menunjuk rumah ini dan menjelaskan beberapa pernak pernik yang di belinya untuk kebutuhan ku. Disini aku melihat sebuah kandang kucing tingkat berwarna biru, kandang yang cukup luas untuk ku tempati seorang diri, di dalam kandang juga tersedia makanan dan minuman. Kandang di alasi bantal yang empuk, ada beberapa mainan di dalamnya. Melihat akan semua hal itu aku berasa sedang mimpi, tak pernah terbayang aku yang dulu sering di injak, di tendang, di hina, di caci maki sekarang punya rumah bak istana. Aku di perlakukan bak majikan di rumah ini. Sebagai bentuk balas budi tak lupa aku membantu sekedar mengusir tikus-tikus yang berkeliaran di rumah ini. 

“Ternyata ini yang dirasakan kucing yang tempo hari aku lihat,” batinku. Seketika aku teringat akan pak Bayu yang belum sempat aku hampiri, “semoga aku dapat bertemu kembali dengan pak Bayu,” air mata kembali mengalir di pipiku yang sekarang sudah bersih. Aku sudah berwarna putih seutuhnya tak lagi kumal, tak lagi kelaparan, tak lagi kedinginan dan tidak lagi bertengkar dengan kucing-kucing liar lainnya. Aku juga di beri nama “Vodka”, nama yang bagus dan aku mneyukai nama itu. 

Hari ini pria yang telah merawat ku membawaku pergi jalan-jalan keluar, katanya biar aku gak bosan di rumah terus, ia membawa ku ke taman dan setelah puas bermain di taman kami kembali masuk ke mobil dan ia berhenti di satu rumah yang aku ingat betul kalau itu rumah pak Bayu. Ternyata pria ini teman baiknya anak pak Bayu. Aku langsung menghampiri pak Bayu dan mengeong manja kepadanya, tetapi pak Bayu tak lagi mengenaliku. Penampilaku sekarang telah berubah aku jauh lebih bersih dan gemuk di banding dulu. Tak mengapa pak Bayu tak lagi mengenaliku, asalkan tau bagaimana keadaan pak Bayu sekarang telah membuat ku sangat senang. Semoga semakin banyak orang-orang seperti pria ini, biarpun telah menabrak ku ia tak meninggalkan ku tergelatak begitu saja di pinggir jalan. Malahan dia merawat dan memberikan kehidupan yang layak dan mewah untukku. Semoga orang-orang tak lagi memandang kucing dari segi ras, agar teman-teman ku di luar sana juga mendapatkan kehidupan yang layak dan kehangatan kasih sayang di dalam rumah. Karena jika kucing kampung diperlakukan dan dirawat dengan baik mereka tidak akan kalah lucu di bandingkan dengan kucing-kucing ras yang berharga mahal.


Biodata Penulis

Mahasiswa Aktif Hukum Ekonomi Syariah, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri