Rindu dari Kota yang Jauh

 Penulis: M.Z. Billal


 Meski hari Minggu, tapi ia tidak libur. Sebab ia bukan pegawai kantor. Ia hanya seorang pegawai toko sepatu. Jika akhir pekan kali ini ia tampak bermalas-malasan untuk pergi bekerja, itu bukan karena sakit atau ingin minta libur pada bos tempat ia bekerja. Apa lagi beralasan kalau ia berencana ingin berhenti. Itu jelas tidak mungkin. Rasa malas itu mendera karena di dadanya terapung perasaan yang menyesakkan sampai menimbulkan arus deras yang membuat perasaannya seperti perahu yang terombang-ambing dan menghantam bebatuan. Tentu saja perasaan itu mulai melemahkan semangatnya.

 Ia melangkah ke luar pintu, menuju bangku kayu yang ditanam di sebelah pohon kersen yang kemarin sore baru ia pangkas beberapa dahannya, karena sudah melewati rentangan kabel listrik yang melintang di atasnya.

 Kemudian ia berhenti dan memejam sebentar sembari menghirup udara pagi sedalam-dalamnya. Mengisi dadanya hingga penuh. Setelah itu barulah ia buka matanya, duduk dan menatap jauh. Pandangannya yang berisi harapan pun segera berkelana menyeberangi jalan pagi yang masih lengang, melampaui pucuk-pucuk pepohonan yang berayun diembus angin, atap-atap rumah penduduk, gedung-gedung pertokoan tiga lantai, hingga sampai kepada bukit cukup tinggi yang masih tampak dari kejauhan saat pagi.

 Dan tatapannya pun berakhir di sana. Tepat di bukit itu. Ia pikir, membesar-besarkan harapannya sendiri, bahwa di balik bukit itu adalah kampung halamannya dan seseorang yang paling ia kasihi sedang menunggu kepulangannya. Walaupun jika ia tempuh perjalanan untuk sampai ke balik bukit itu ia tidak akan bertemu siapa-siapa di sana. Karena sesungguhnya jarak tempat ia tinggal saat ini dengan kampung halamannya ratusan kilometer dan ada begitu banyak bukit yang menghalanginya. Semua imajinasinya hanyalah sebuah usaha kecil untuk menenangkan kerinduannya yang semakin tidak tertahankan. Rasa rindunya pada sang ibu, yang terbiasa menunggunya pulang tiap menjelang perayaan Idul Fitri. Sebab setelah berbulan-bulan setelah Ramadan pun ia tak kunjung bisa punya kesempatan untuk pulang.

 Namun sekarang ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa memendam perasaan itu sementara waktu dan bersikap patuh. Terjebak berbulan-bulan lamanya di kota karena aturan pemerintah yang melarang keras para perantau untuk mudik ke kampung halaman bukan hal sulit untuk dilalui. Melainkan melawan perasaan ingin pulanglah yang sulit ditakhlukan. Pandemi Virus Covid-19 telah merusak segala yang sudah ia rencanakan. Kendati bisa saja ia pulang diam-diam, tak peduli pada aturan pemerintah, tapi ia mencoba berpikir sehat. Mungkin ia sampai di kampung halaman dengan selamat, tapi bagaimana jika dirinya telah membawa pulang virus corona dan menyebarkan virus itu di kampung halamannya yang tenang? Tentu saja ia tidak ingin itu terjadi.

 Ia mengembuskan napas dan mulai menyusun semangatnya untuk pergi bekerja. Namun sebelum ia beranjak untuk kembali masuk ke dalam rumah kontrakannya, tiba-tiba terdengar seseorang menyapanya.

 “Hei, Kawan! Kenapa pagi-pagi begini sudah melamun? Tidur sangat larutkah semalam?”

 Suara itu berasal dari seorang pemuda sebayanya yang tinggal tepat di samping kontrakannya yang hanya dibatasi pagar besi rendah. Namanya Felix. Seorang Nasrani yang tidak hanya taat beribadah, tapi juga sangat ramah dan bersikap sangat baik kepadanya. Meski mereka berbeda keyakinan.

 “Tidak. Aku tidur tepat waktu. Hanya kurang semangat saja, Kawan!”

 Kemudian temannya yang berdarah Indonesia Timur itu berjalan ke luar pekarangannya, menuju dirinya yang masih duduk di bangku kayu.

 “Hari ini liburkah?”

 “Tidak. Aku cuma mau duduk-duduk di sini saja menikmati udara pagi.”

 “O begitu,” balas Felix sambil duduk di sebelahnya. “Tapi aku tahu, Kawan. Kau pasti rindu kampung halamanmu, kan?”

 Ia terdiam sejenak, tidak semangat menjawab tapi berusaha untuk tetap tersenyum. Sejak bekerja di kota ini satu tahun yang lalu dan hidup berdampingan dengan keluarga Felix, ia memilih bersikap terbuka dengan teman barunya itu.

 “Begitulah,” jawabnya. “Aku ingin pulang, Felix. Tapi aku tidak mau kepulanganku malah membahayakan keluargaku.”

 “Aku bisa mengerti perasaanmu, Kawan. Tidak mudah melawan rasa rindu pada kampung halaman. Sebab kita sama. Aku dan keluargaku juga sudah lama sekali tidak pulang. Kami tidak pernah lagi melewati Natal di kampung. Bahkan sampai akhirnya kami memilih jadi penduduk kota ini.” Felix mencoba menenangkan perasaannya. “Tapi saranku lebih baik tidak melawan aturan, Kawan. Apa lagi pandemi virus corona tidak bisa kita sepelekan dampaknya. Aku yakin akan ada waktunya kau pulang dengan perasaan yang lebih gembira daripada sekarang ini. Yang penting sekarang, kau masih bekerja dan mengirimi ibumu uang untuk keperluannya di sana. Jadi tetaplah berdoa kepada Tuhan dan semangat!”

 “Kau benar, Felix. Aku harus tetap semangat. Terima kasih ya untuk nasihatnya.”

 Mendengar saran damai dari kawannya itu, dadanya terasa lebih longgar. Felix betul-betul calon pendeta yang taat, baik hati dan tahu bagaimana cara memeluk orang yang sedang sedih.

 “Jika kau masih punya waktu, lebih baik kau ceritakan padaku, bagaimana situasi kampungmu. Apa saja yang biasanya orang-orang muslim lakukan di sana. Setidaknya rasa rindumu bisa lepas.”

 “Hehe.” Ia terkekeh dan sungguh senang mendengar permintaan kawannya itu. “Baiklah, Felix. Kau betul-betul teman sekaligus tetangga yang sangat baik dan peduli. Jika kau pun masih punya waktu, akan aku ceritakan padamu tentang kampung halamanku.”

 Kemudian ia pun mulai berbagi cerita soal kampung halamannya. Mulai dari cerita umum, beberapa hal lucu, bahkan kisah misteri. Apa saja yang bisa ia ingat dan siap dibagikan kepada kawannya itu. Sementara Felix tetap dengan dirinya yang penuh pertanyaan dan lelucon khas Orang Timur. Sesekali ia merasa takjub dan kagum dengan kebiasaan orang-orang muslim.

 “Oh iya, Salim.” Kata Felix tiba-tiba

 “Iya, ada apa?”

 “Bagaimana jika kau menelepon ibumu sekarang? Video Call. Kau bilang rindu padanya dan kenalkan aku pada ibumu sekalian. Bilang padanya, bahwa kau baik-baik saja. Tidak perlu cemas dan tidak perlu sedih saat kau dan ibumu belum bisa bertemu meski hari raya sudah jauh berlalu. Aku pun jadi ingin sekali berbincang pada ibumu.”

 “Masya Allah, ide bagus sekali itu!” Ia berseru. “Baiklah. Sebentar aku ambil ponselku. Sekali lagi terima kasih banyak, Felix. Kau sudah sangat peduli padaku. Akan aku kenalkan kau pada ibuku. Aku yakin beliau pasti sangat menyukaimu.”

 Ia bergegas mengambil ponselnya di dalam rumah. Kini perasaannya jauh lebih ringan. Ia berjanji akan pergi bekerja dengan penuh semangat. Karena perasaan rindu kampung halaman dan ingin pulang ke pelukan ibu bukan hanya mendera dirinya saja. Ada banyak perantau di kota ini yang terperangkap dalam situasi yang serupa. Bahkan Felix pun demikian, meski ia bukan seorang muslim. Setidaknya di kota ini, ia hanya perlu bertahan sampai semuanya kembali baik-baik saja. Bertahan dengan rindu yang harus membuat ia semakin kuat.

***

Biodata penulis


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media seperti Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, Riau Pos, Fajar Makassar, Banjarmasin Post, Magelang Ekspres, Radar Cirebon, Kedaulatan Rakyat, Medan Pos, Radar Malang, Radar Tasikmalaya, Bangka Pos, Radar Bekasi, Tanjung Pinang Pos, Bhirawa, Merapi, Cakra Bangsa, Lampung News, dll. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER), Komunitas Pembatas Buku Jakarta, dan Kelas Puisi Alit.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri