Puisi Suyila Lamka

 


Melihat diam


Pada benturan bahasa bunyi

bahasa yang tak lekang oleh waktu

berulang pada tasbih jika dan ketika

menggeluti paham berima kuasa

airmata pada sajak yang lelah

membasahi arti akan cinta itu

hanya kini tersuar padamu

hinggap pada bait pusaka doa.


Pada setiap zaman selalu saja ada

keindahan yang saling bertaut dengan anggun,

hingga saatnya kelak bait-bait menyusun api unggun.

Dengan rapi ketuhanan merebak sepi,

kemudian jiwa rapuh dalam bunyi pada titik puisi.

Pada kita yang sebatas ada, selurus ucap dan dengar.


Kembali adalah bahasa ibu

dalam rahim menyusun rindu

pusara terngiang pada jarak jatuh

mendekat dari terjauh. 


Kopi untukku

Banyak kata menghilang dikesunyian

menggapai pada yang tak sampai

seperti berucap dari pagi menuju siang

menitip lelah pada aroma kopi

melihat sore dalam penat yang bergerak rapi

menuju tubuh sehingga tumbuh

serumpun bunyi berselimut malam

mencari yang datang dalam hilang.


Selamat pagi itu sebentuk kopi yang melarutkan bias kata-kata semalam.


Jangan lagi kau menjerit

dibalik jendela angin

berdesir seperti tabiat dulu.

Berjalanlah dicumbui rasa

berdesakan dalam hampar kerinduan.



Lantunan

Dekatku terlihat sepasang telinga

yang mendengar akan tatapan

sebuah sapa dari binar matamu

membawaku mengoceh degup-degup saksi

menimbun kata-kata jumpa

dihamparan ketelanjangan hati.

Siapakah aku yang terkumpul dari lembaran itu

apakah dari dikau yang memahami rasa

akankah raga disebut bersua

dari cinta yang mengakar tuk binasa

menabuh rindu, menumbuhlah sepi.


Dalam rindu

Materi mengicau sepi

terlihat angin berarah kemuara

rindu berdalih sekali lagi

melangkah mengendap-endap

terbuai alunan basah dan kering

sekali lagi dalam gelisah yang patah

berdosa kita dalam kata

menuju letak umpama.

Meraih hal yang tak lagi berulang

dalam isak yang baru

mengenangku, mengingatmu

adalah hal yang nyata

gaduh pada ujung simpati

menebar sekaligus mendebar.

Membius luka menganga

mengulang kata-kata bisu

tersudut padamu, rindu.


Oleh yang dalam

Diantaramu ada aku yang tak pandai bicara

mengulang berulang pena yang jatuh

pada kerongkongan yang penuh asap

menumbuh tunas yang keliru

dari yang tersapu dijalanan

liang kata takkan mungkin terkubur

oleh sayatan celoteh yang kian mengabur.

Resah ini membiru dalam kosong

mencari isi, memendam sepi

terbungkam kemudian mengembang

yang ada dalam kehilangan

kami bersemayam dalam kiasan

sudah terulang sekian tari

oleh senyum, oleh merampai merah.


Setiap langkah yang tersiram kaki kata-kata

berjuang untuk esok yang meraba-raba

berteduh mengumpul dahan hidup

singgah yang tersanggah dari doa.


Biodata Penulis


Hanya menulis coretan goresan di sudut lingkaran. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri