Puisi Putrarico14

 


Antara benci dan cinta

Akan kupilih antara keduanya untuk kita

Supaya dan menjadi kata hubung paling damai

Saat kau menarikku menepi berbisik :

“Aku benci mencintaimu!, aniaya paling dungu aku lakukan”

Akan kupilih antara keduanya untuk kita

Supaya cintamu tidak bagian benciku, dan

Supaya bencimu bukan kepada mencintaiku

Saat kau berpapasan denganku di sebuah taman atau pantai

Tempat kita menjelma sepi ufuk barat berganti langit

Akan kupilih antara keduanya untuk kita

Menjadikan kata dan damai yang paling nyaman bersandar senyuman

“Cinta dan benci ialah rasa yang sama meledak,

Saat kasih tidak temui kisahnya

Dua kata tidak saling temu dalam satu waktu”

Lintau, 2020

Ditelepon pacarku

“Besok jemput aku di ujung mimpimu dengan kapal layar besar jam 09.00 WIB.”

“Berdoalah matahari terbit di ufuk Timur mataku untuk itu”

“jika tidak, aku akan tenggelam di lautan dalam, mata airnya dari air mata”

“Jika aku tidak bangun; aku telah kalah oleh waktu dalam menangkan cintamu oleh makhluk paling lemah sekalipun”

Akhirnya, aku terbangun saat matahari di ufuk barat mataku oleh malaikat yang mungkanya mirip pacarku saat marah, matanya merah, menakutkan, memakiku dengan nada tidak asing kudengar.

“Bangsat kau jahanam!”

Lintau, 2020

Ngorok bersama

“Mimpi apa tentangku tadi malam?” ( WA ku masih ceklis )

Ia balas :

“kau sedang berkelakar dengan dunia perebutkan aku”

“Tuhan saja tidak menghalangiku mencintaimu”

“tapi aku lebih senangi dunia beserta isinya” ( aku diam )

Bangun tidur kulihat handphone,

Aku lupa seminggu lalu kuota internetku habis

Lintau, 2020

Luhur Paling Tenang

Kusulam tangis jadi lagu yang rindu

Kasih, Aku luhur paling tenang

Berdiam hening membatu

O, sungguh

Kau hebat selami mutiara lubuk dalam

mencari jalan, kipaskan air menyelam

O, sungguh

Tarian lekuk tubuhmu yang biru

Liuk melamban pada mata tertuju

Seperti jalan dan roda, kendaraan dan angin

Hilir mudik berganti, atas bawah berlaju

Kupastikan pasti kecepatan terhitung,

Satu yang molek tak bisa kuhingga

Berpapasan dan tidak mau singgah

Lintau, 2020


Kita di rantau

Aku sampai dimalam singkat

Kunikmati dingin, hawa panas bisikmu

Aku cemburui nyala api malam itu

Saat kau pagut lutut menepi

Di tempatku kita bertatap

Pelarian dari negerimu, aku lupa kampung sendiri

Kau begitu ragu, spontanmu bisu

Aku begitu bisu, spontanku ragu

Hanya saling percaya bara api malam bertahan sampai pagi

Hidup dan saling menghangat

Lintau, 2020

Biodata Penulis


Putrarico14, lahir 14 Mei 1998 di Koto Panjang, Lintau. Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN IB Padang, bergerak bersama kawan-kawan taman baca Kelinci Sakti dan aktif di sanggar Kaligrafi Islam Al Aqlam padang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri