Puisi Epi Muda


Senja Di Kedai Kopi

Ada kidung yang terus berkidung menyiram rindu yang masih melekat dalam dada
Dengan sepotong mimpi merekah dalam terkaan sunyi
Selepas itu, mata tak sanggup memebendung derita
Di ujung bibirnya melekat beribu tanya lantaran bibirnya mengandung racun mematikan
Kedua telapak tangannya mengusap debuh tanah yang melekat pada keningnya
Akasara senja menyibakan puluhan kenangan
Selepas puisinya mati di ujung waktu petang itu bersama segelas kopi buatan tangan tuan rindu

Kedai kopi yang ia singgah setiap senja mencabik rindu menyulam derita
Sebelum pria yang dicintainya tertidur pada ceruk matanya
Dalam ingatannya ada setengah dari jejak langkah meletup 
Dan selalu menamakan dirinya pengemis senja
Memilah kata di tengah aroma kopi itu adalah rindunya akan penantian yang tak berujung

Unit Gabriel, 2020




Di bawah catatan akhir

Pada lembaran akhir buku
kita adalah kuli waktu tentang segala remah-remah rindu
selama kita menemukan garis awal awal dan akhir di setiap waktu

Apakah kita masih berdiri lemah kemarin?
mari kita mulai hari yang baru dengan senyum yang tegar.

Kamar Tidur, 2020



Kopi Buatan Tangan Ibu

Pagi yang lusuh, di sudut mata ibu ada deretan namaku yang sungguh menjinakan pikiranku
Berangkat dari sebuah ilustrasi, aku sempat mampir dan diam sejenak
Pada ceruk matanya kemarin senja aku begitu merasa tenang ketika mendulang kisah pada ceruk matanya.

Ternyata senja yang muram ada kabar yang selalu mengepul bersama aroma kopi yang
aduhai nikmatnya bukan main.

Setelah kesekian kalinya kopi buatan ibu kembali disuguhakn bukan untukku lagi 
Selebihnya untuk tuan yang duduk manis pada balkon surga.
Di saat itu, ibu dengan sekelumit senyum menjinakan aku dan senja dengan buaian 
kata-kata manis perihal sajak yang mati di persimpangan jalan
Sebelum langit menutup mata  dan menjulur ujung lidahnya untuk menjilat bangkai yang ada pada punggungku.

Aku tak sekadar kemarin sebelum mencium aroma kopi buatan ibu,
Aku adalah hari ini yang sedang bersandiwara memeluk rindu pada sebuah ranting sunyi.
Selebihnya tuan yang duduk manis di balkon surga memutar kopi untukku
Setiap saat aku membutuhkan tenaga dan senyumnya untuk mendaki lereng panggilanku.

Unit Gabriel, 2020


Surat untuk Mantan

Kita beradu pada persimpangan waktu
menyeruput habis kedegilan dalam hati
adakah cintamu selalu menetes
membasahi sunyi pada lembaran
urat nadimu yang kendur

Atau
kau sudah menjadi mantan
yang selalu mantap
di atas bola matamu yang empuk

Unit Gabriel, 2020



Perempuan dalam Ingatan

Perjalanan ini sungguh mengandung luka, batu-batu cadas terus kulalui dengan jeritan rasa sakit. Ribuan kisah terus mengusap rindu dalam dada. Aku tak segan-segan  untuk mencicip aroma bau badanmu yang masih melekat pada  bajumu, hadia ulangtahunku darimu. Ternyata baju itu bekas kau memakainya. Barangkali aroma bau badanmu menjadi tanda baru untukku, agar aku tetap memeluk namamu. 
Itu adalah caramu yang sungguh menjinakan ribuan wanita yang tumbuh berhimpitan dalam keningku. Rasa sepi dalam dadaku terus melacak untaian desah nafasmu ketika namaku disebut dengan tergesah-gesah pada suatu subuh. 
Selebihnya aku hanya menggigit jari untuk mereasakan manisnya namamu pada jari telunjukku, karena ada namamu yang melekat pada jari tanganku. Resah yang kian bergejolak selalu menarik sekujur tubuhmu untuk terus bernaung dan tidur dalam ingatanku. 
Tapi diujung tangisan sendu ada sehelai rambutmu mengikat lidahku untuk tidak terlalu ngomel ketika kau berlangkah untuk menjahit cinta pada nama yang lebih rindu dalam ingatanmu. Aku paham semuanya itu, aku hanya membatasi dirimu dengan luasnya kertas usang yang ada dalam ingatanku. 
Itulah kerinduanku untuk selalu menjagamu dari jarak. Dan setiap kisah dan belaian rindumu menjadi catatan akhir yang melekat di keningku.

Unit Gabriel, 2020




Biodata penulis


Penulis Epi Muda, Mahasiswa STFK Ledalero. Penulis sekarang tinggal di Unit Gabriel. Penulis termasuk dalam anggota Sastra Kotak Sampah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri