NEGERI PARA KORUPTOR

 Penulis: Amidia Amanza


Di suatu negeri yang berada di entah berantah terdapat suatu permasalahan yang tak ada habis-habisnya. Sehingga permasalahan tersebut sudah seperti budaya yang mengikat. Korupsi adalah masalah yang harus dihadapi oleh negeri yang baru berusia kurang dari seabad. Pada suatu masa terjadilah tuntutan dari warga negeri bak di dalam dongeng ini, tuntutan rakyat tersebut berhasil menjatuhkan rezim yang telah lama berkuasa. Sang raja jatuh dari takhta lalu perdana menteri naik ke puncak kekuasaan. Peristiwa tersebut melahirkan satu anak kandung yaitu suatu lembaga kerajaan yang berfungsi untuk membasmi koruptor dan tindakan penyelewengan uang kerajaan lainnya.

Hari cukup terik tatkala aku berjalan di negeri ini, sepanjang perjalanan memasuki negeri ini, aku banyak melihat petani di sawah. Aku terheran bagaimana bisa negeri bak sebidang surga yang berada di bumi ini jauh dari kata makmur. Aku bertanya kepada petani yang aku temui ”Kenapa negeri kalian bisa seperti ini?”. Petani yang renta itu menjawab ”Bagaimana kami akan makmur anak muda, jika negeri ini di penuhi oleh para koruptor”. “Bukankah sudah terdapat lembaga korupsi yang mengurusi itu semua?” tanyaku heran. “Lembaga tersebut ada anak muda, tetapi koruptor seperti patah tumbuh hilang berganti” keluh petani. Aku hanya menggelengkan kepala sambil izin melanjutkan perjalanan.

Aku singgah di sebuah kedai untuk mengisi perutku yang mulai berisik. Tak lama setelah pesananku tiba, seseorang di sebelahku berucap ”Apa yang kau cari di negeri ini anak muda?”. Aku terkejut mendengar pertanyaan seorang yang cukup lebih tua daripada diriku ini, lalu aku menjawab ”Aku hanya lewat di negeri ini tuan”. “Kau jangan terkejut dengan keadaan negeri ini di sepanjang jalan yang kau temui” ujar lelaki itu. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan makan siangku.

Sepanjang perjalanan yang aku temui aku melihat pemandangan yang cukup indah dan tak habis pikir keindahan alamnya tidaklah seindah nasib penduduknya. “Apa saja yang di korupsi di negeri ini sehingga kalian tidak mendapat kehidupan yang layak?” tanyaku kepada seorang anak yang aku temui tertidur di jalanan. “Hampir semuanya tuan, hampir semua yang bisa di korupsi mereka ambil untuk keperluan pribadi, sehingga hidup kami luntang lantung tak diperhatikan” ujar anak dengan baju tak layak pakai tersebut. “Kenapa tidak di hukum berat saja para koruptor itu?” tanyaku. Anak tersebut tertawa lalu berkata ”Jangankan hukuman berat, mereka malah dimasukkan ke dalam penjara mewah tuan”. “Sungguh negeri terkutuk negeri ini” ujarku kesal.

***

Aku memutuskan untuk bermalam disalah satu rumah keluarga nelayan yang hidup dengan sederhana. “Aku masih tak terima dengan apa yang aku lihat di negeri ini “ ujarku membuka pembicaraan. “Kami tak bisa berbuat banyak anak muda, selain menanamkan sifat anti Korupsi kepada anak-anak kami” balas nelayan yang hampir separuh hidupnya mencari nafkah di laut. “Bagaimana negeri ini akan maju jika para pejabatnya tidak takut kepada Tuhan dan melanggar sumpahnya” ujarku yang prihatin dengan negeri yang dipenuhi oleh para koruptor ini. “Sudahlah anak muda, lebih baik kau beristirahat agar bisa melanjutkan perjalananmu” nasihat sang nelayan.

Pagi sekali aku telah berangkat melanjutkan perjalananku dengan menumpang pedati yang akan menuju ke pasar untuk menjual hasil tangkapannya. Sepanjang jalan aku banyak mendengar cerita tentang bagaimana kelakuan para koruptor yang membuatku tertawa akan tingkah lucunya. “Kau tahu anak muda, ada koruptor di negeri ini yang mengambil uang pajak dan lari menuju negeri lain” cerita sang nelayan. “Apakah mereka tidak tertangkap tuan?” tanyaku heran. “Koruptor tersebut menyamarkan dirinya agar tidak ketahuan anak muda.” nelayan itu berkata sambil tertawa. Spontan aku yang mendengarkan cerita itu pun ikut tertawa.

Dari sekian banyak cerita tentang para koruptor itu aku terkesan bagaimana kongkalikong yang terjadi antara para koruptor dan penegak hukum di negeri ini. Bahkan, ada koruptor yang berpura-pura sakit bak sebuah drama agar mendapatkan izin keluar penjara. Ada seorang putri kecantikan yang juga terlibat Korupsi dan juga menyeret seorang menteri. Sungguh negeri yang lucu di balik nasib rakyat yang tertindas.

Banyak terlihat tulisan tentang anti korupsi yang tertulis di lembaga pemerintah di negeri ini. Namun, menurutku mungkin itu hanya salah satu trik mengambil hati dan kepercayaan rakyat. Pada kenyataannya, hampir setiap lembaga bermasalah akan tindak Korupsinya.

Aku banyak menemui orang yang memberitahuku tentang keadaan negeri ini dengan kekayaan korupsinya. Aku juga menemui seorang pemuda yang sepertinya terpelajar, ia berpendapat ”Lebih baik lembaga pemberantas korupsi itu dibubarkan saja” ujar sang pemuda. “Kalau dibubarkan tentu akan menambah tindakan korupsi yang terjadi di negeri ini” bantahku. “Hai kawan, menurutku lembaga itu telah gagal memberantas Korupsi di negeri ini”. “kalau aku yang menjadi raja di negeri ini maka akan aku tuntaskan korupsi tidak lebih dari lima tahun” sambungnya. Aku tertawa mendengar tingkat percaya diri pemuda itu, lalu aku memberikan pendapat “Bagaimana jika hukum terhadap para koruptor itu yang lebih diberatkan”. “Percuma kawan, hukum di negeri ini tajam ke bawah lalu tumpul ke atas” ujar sang pemuda. Aku hanya terdiam mendengarkan pemuda itu.

Sungguh nasib yang malang bagi rakyat di negeri ini. Tidak hanya akan menanggung kemiskinan namun mereka juga akan menahan ketidakadilan. Hukum yang seenaknya dipermainkan sudah menjadi kebiasaan di negeri mana pun.

***

Aku masih menyusuri jalan di negeri para koruptor ini. Tak terasa telah berhari-hari aku menapaki jalan dan aku selalu menemui orang-orang yang memberitahukan bagaimana Korupsi merajalela. Ketika aku beristirahat di bawah rindangnya hutan, aku melihat kuda yang mendampingi tahanan tindakan korupsi. Aku terkejut binti heran melihat bagaimana koruptor yang telah ditahan dan akan dibawa ke penjara masih bisa tersenyum dan bersenda gurau. Dasar manusia tak tahu malu batinku.

“Bagaimana seorang koruptor masih bisa tertawa di negeri ini?” tanyaku pada pemilik kedai tempat aku singgah untuk makan. “Kau tidak usah heran begitu tuan, pemandangan seperti itu sudah hal yang wajar untuk dilihat” empunya kedai menjawabku dengan tersenyum. “Malah ada yang terang-terangan minta digantung jika terbukti korupsi, akhirnya dia terbukti korupsi dan tak pernah digantung sampai saat ini” sambungnya. “Dasar gila” sumpahku sambil menggebrak meja dan membuat orang-orang terkejut.

Banyak fakta yang aku dapatkan di negeri ini. Sampai otakku tidak bisa menerima bagaimana kenyataan yang terjadi. Untuk mengobati rasa penasaranku terhadap berapa banyak tindakan korupsi yang dilakukan di negeri ini dalam satu tahun maka aku pun mendatangi lembaga yang berkuasa memberantas Korupsi tersebut.

Memang benar apa yang dikatakan oleh anak yang aku temui tempo hari. Bahwa segala sektor hampir memiliki kasus korupsinya. Aku hanya berjalan sambil menundukkan kepala dengan pikiran yang entah ke mana.

Tak lama sampailah aku di suatu tempat masih di negeri para koruptor. Di tempat ini terdapat gambar para koruptor. Mulai dari gubernur, menteri, pejabat negara, bahkan pegawai kelas rendah bisa Korupsi sekian banyak uang rakyat. Sungguh ironi yang terjadi di negeri sejuta pesona.

Aku masih terus berjalan di bawah sinar rembulan yang malu-malu tertutup oleh awan dan angin malam yang terasa melunakkan tulang. Malam ini aku akan bermalam di tempat seorang penebang hutan. “Apakah hasil dari hutan ini juga akan di korupsi tuan?” tanyaku kepada lelaki yang memiliki badan yang tegap dan otot yang besar. “Mungkin saja jika orang-orang yang tidak bertanggungjawab itu memiliki kesempatan” jawabnya dengan wajah yang lesu. “Aku sudah tak tahu harus berkata apa tuan, sejak aku masuk ke negeri ini banyak hal yang aku lihat” sambungku. “Belum semuanya wahai anak muda, belum semuanya” sambil tersenyum ia berkata demikian. “Semoga saja negeri ini segera baik tuan” pintaku. “Hanya itu yang bisa kami lakukan saat ini anak muda” jawab sang penebang. Tak lama aku pun tertidur dengan pulas karena telah lelah berjalan seharian.

Kali ini aku terbangun agak kesiangan dari biasanya. Setelah aku mengucapkan banyak terima kasih kepada penebang hutan itu, aku pun segera melanjutkan perjalananku. Belum terlalu jauh aku berjalan, aku menemui kerumunan orang. Karena penasaran maka aku mendekati kerumunan tersebut, ternyata ada seorang yang tertangkap mencuri beras. Orang tersebut diikat ke tiang dan ada beberapa yang menghakimi dengan pukulan. “Kenapa orang yang mencuri beras dihakimi seperti ini?” tanyaku kepada seseorang di sebelahku. “Pencuri memang pantas diberlakukan seperti ini” tandasnya geram. “Lalu para koruptor kenapa tidak kalian hakimi seperti ini?” aku terkesan membela pencuri beras tersebut. “Karena koruptor dilindungi oleh para penegak hukum di negeri ini” jawabnya cuek. Aku hanya terdiam sembari melanjutkan perjalananku.

Hari demi hari telah aku lalui sepanjang perjalanan menyusuri negeri yang mempunyai seribu satu persoalan. Negeri yang seharusnya dapat berkembang dengan baik dan penduduknya dapat menikmati hidup dengan makmur. Namun pada kenyataannya, negeri ini dikuasai oleh sebagian orang-orang yang tamak yang haus akan harta dan jabatan. Bukan semuanya pejabat di negeri ini perampok, tapi begitulah kehidupan orang akan lebih ingat terhadap hal yang buruk yang dilakukan.

Aku banyak mendengar tentang betapa maraknya aksi perampokan oleh para pejabat negeri sehingga rakyatnya hidup dalam serba kekurangan. Namun ada beberapa cara para koruptor itu melakukan tindakannya. Aku mendengar itu dari orang-orang yang aku temui di jalan, mereka biasanya menyuap dan disuap, menyelewengkan dana pendapatan pajak, dan mengambil keuntungan dari berbagai hasil negeri.

Dalam perjalanan menuju ke tempat yang aku tuju. Aku banyak singgah dan berbincang dengan rakyat di negeri para koruptor ini. “Jika kegiatan Korupsi ini terus berlanjut apa yang seharusnya rakyat berikan kepada para koruptor itu tuan?” tanyaku kepada pemuka adat di suatu daerah persinggahanku. “Negeri ini telah berulangkali mencoba merubah hukum agar para koruptor ini jera anak muda” ujar pemuka adat itu. “Lantas mengapa seakan tak ada habisnya dan merugikan negeri ini secara terus menerus?” tanyaku dengan kesal kepada pemuka adat yang duduk bersila di depanku. “Itu karena manusia yang memegang jabatan itu sendiri, mereka memiliki kekuasaan dan kesempatan untuk mencuri harta negeri ini untuk kekayaan pribadinya anak muda” jawab pemuka adat dengan bijaksana. Aku tak membalas perkataannya lagi dan hanyut dalam lamunan.

***

Aku hampir sampai di tempat tujuanku dan telah memasuki akhir dari perjalananku di negeri para koruptor ini. Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada rakyat di negeri ini setelah aku melihat bagaimana keadaan dibalik indahnya negeri ini. Pertanyaan ini selalu menggantung di dalam kepalaku. Namun aku merasa belum ada yang menurutku pantas untuk aku tanyakan hal yang demikian.

Ini adalah hari terakhir aku berada menyusuri jalan negeri ini. Jika tak ada hambatan aku akan sampai ke tujuanku pada malam hari. Tadi aku berangkat pagi sekali dari gubuk tak terpakai yang aku gunakan untuk beristirahat. Aku berjalan melewati lebatnya hutan dan di kelilingi oleh pegunungan yang seakan letaknya langsung diatur oleh Tuhan.

“Ke mana hendak kau langkahkan kakimu anak muda?” terdengar suara di belakangku. Segera aku menoleh dan aku dapati seorang berpakaian serba putih. Lalu aku menjawab ”Aku sedang mencari yang bernama keadilan wahai orangtua”. Dia tertawa terbahak-bahak dan setelah ia puas tertawa lalu berkata “Keadilan itu adalah ketidakadilan itu sendiri wahai anak muda”. Lalu aku menjawab “Jika demikian, lalu di mana letaknya hukum yang menjanjikan keadilan?”. “Hukum adalah buatan manusia yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan sebagian tujuannya” ucap sang orang tua itu. “Kenapa orang-orang itu dengan tega memakan uang rakyat di negeri ini? Tanyaku bertubi-tubi. “Kekuasaan” orang tua berjanggut putih itu menjawab. “Di negeri ini kekuasaanlah yang menyebabkan orang-orang itu memakan uang rakyat, karena jika telah terkumpul kekayaan maka ia dapat membeli kekuasaan di negeri ini” sambungnya. Aku hanya terdiam dan batinku berkata aku telah sampai ke tujuanku. Aku telah menemukan orang yang akan aku jadikan guru. Maka berakhirlah perjalananku sampai di sini dan lebih cepat dari perkiraanku.

Aku selalu percaya akan hukum alam yang di mana apa yang bisa diketahui oleh orang lain dan orang tidak akan pernah tidak tahu apa yang diketahui orang lain. Begitulah aku memahami hukum alam, aku telah berjalan menyusuri banyak negeri dan negeri ini yang membuat aku mengerti akan artinya ketamakan manusia. Ada dua kemiskinan didunia ini menurutku, pertama adalah saat kau sedang lapar dan kedua adalah saat kau mempunyai kepemilikan yang berlebihan. Apa lagi harta atau segala yang kau miliki itu berasal dari hasil yang tidak elok.


Biodata Penulis


Amidia Amanza adalah mahasiswa aktif Ilmu Sejarah Universitas Andalas. Memiliki hobi membaca.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri