Mimpi Para Bedebah

 Penulis: Indah Wulandari Pulungan


Malam ini, salah satu rumah di kampung Pesisir kembali dibobol oleh pencuri. Anehnya, tidak ada barang-barang berharga yang diambil oleh pencuri itu. Hanya dua karung beras yang hilang dari tumpukan stok beras di rumah itu. Walaupun begitu, pemilik rumah tetap merasa waswas dan ketakutan. Menurut pemilik rumah, tidak ada jejak yang tertinggal dari pencuri yang masuk ke rumah mereka, bahkan pintu dan jendela pun tidak ada yang dirusak oleh pencuri itu.

Kasus pencurian di kampung Pesisir membuat para warga semakin khawatir. Pencurian ini hampir setiap malam terjadi. Hal yang semakin membuat takut para warga adalah, karena tidak adanya barang-barang berharga yang diambil oleh pencuri itu. Selama satu minggu belakangan ini, sudah 5 rumah yang dibobol oleh pencuri itu. Namun, pencuri itu hanya mengambil stok-stok beras pada setiap rumah yang dimasukinya.

Rumah pak Salman sudah dua kali dibobol oleh pencuri. Dua hari berturut-turut, pencuri itu hanya mencuri stok beras pak Salman. Pada hari pertama, 3 karung beras lolos berada di tangan si pencuri dan pada hari kedua 5 karung beras pun kembali lenyap.

Pak Salman semakin geram melihat pencuri yang tak kunjung tertangkap itu. Ia berkunjung ke rumah pak Azhar, kepala desa kampung pesisir untuk membicarakan perihal kasus pencurian yang terjadi di kampungnya. Mereka bersepakat untuk memperketat jaga malam. Para pemuda desa dikumpulkan untuk membuat jadwal ronda setiap malamnya.

“Menurut pak Azhar, mengapa pencuri yang sudah merisaukan warga kampung kita ini hanya mencuri stok-stok beras warga saja. Mengapa mereka tidak mengambil barang-barang berharga milik warga, jika mereka sudah berhasil menerobos masuk ke dalam rumah?” Tanya pak Salman pada pak Azhar.

“Itu yang masih membuat saya bingung. Saya takut nyawa warga saya terancam akibat kasus pencurian ini. Bisa saja mereka hanya mengambil beras pada awalnya, setelah itu mereka kembali menerobos rumah warga dan siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh pencuri itu. Pihak kepolisian juga sudah berusaha keras mencium jejak pencuri ini, namun sampai sekarang belum terlihat hasilnya” Tukas pak Azhar.

“Saya kira pencuri ini adalah warga kita juga, yang sudah mengenal betul keadaan rumah yang dibobolnya. Buktinya, saat pencuri itu masuk ke rumah saya. Tidak ada jejak sedikit pun. Jendela dan pintu rumah saya dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada bekas seseorang yang menerobos masuk. Pastinya pencuri ini sangat ahli dan sudah mempersiapkan taktik pencurinya dengan matang, hingga tidak bisa terendus oleh siapa pun.” Desis pak Salman.

Pada pagi hari, saat pak Salman hendak membuka toko kelontong miliknya, ia mendapati karung beras dagangannya kembali lenyap. Kali ini 10 karung beras lenyap begitu saja dari rumahnya. Padahal tadi malam, saat ia menutup toko kelontongnya, ia ingat betul jumlah dari karung-karung beras itu. Kemarahan pak Salman semakin memuncak. Ia memaki-maki pencuri yang belum diketahui sosoknya itu.

“Bowo, kamu ke mana saja tadi malam. Bukannya bapak sudah bilang, agar kamu tetap terjaga. 10 karung beras kita sudah lenyap dicuri. Apa kau tidak melihat ada pencuri yang masuk ke dalam rumah kita tadi malam?” Bentak pak Salman kepada Bowo, anak mudanya.

“Tadi malam aku tetap terjaga pak. Tapi aku tidak melihat dan mendengar ada orang yang masuk ke dalam rumah kita pak.” Jawab Bowo pada bapaknya.

“Lalu bagaimana bisa 10 karung beras kita lenyap begitu saja. Tidak mungkin para tuyul yang mengangkut karung-karung beras itu.” Tukas pak Salman kasar pada anaknya.

“Sudahlah pak. Pencuri itu hanya mencuri stok beras bapak saja. Ia tidak mencuri uang atau perhiasan milik ibu. Anggap saja sebagai sedekah dari bapak.” Jawab Bowo dengan polos.

“Apa katamu, sedekah? Kau sudah gila. Untuk apa kau bersedekah kepada pencuri.” Bentak pak Salman kepada anaknya itu.

Kasus pencurian di kampung Pesisir itu semakin membuat resah para warga. Para warga menganggap pencurian yang ada di kampung mereka sebagai sebuah karma. Selama ini mereka menganggap jika pencuri itu tidak mengambil barang-barang yang berharga dari rumah yang dimasukinya. Namun, setelah para warga itu berunding dan memahami kasus yang menimpa kampungnya. Barulah mereka sadar, bahwa beras adalah barang yang sangat berharga bagi pencuri itu. Hingga ia hanya mencuri stok-stok beras para warga saja dan tidak mengambil barang-barang berharga lainnya.

Pak Azhar semakin giat menelusuri jejak pencuri ini bersama para warganya. Mereka baru mendengar kabar dari kampung sebelah, bahwa setiap hari ada beberapa pemuda yang membagikan beras ke setiap rumah di kampung itu. Pak Azhar mulai memahami kejadian yang menimpa kampungnya. Ia bersama pak Salman dan beberapa pemuda kampungnya pergi menyusuri kampung sebelah. Untuk mencari tahu info mengenai para pemuda yang membagikan beras itu.

“Kurang ajar sekali mereka, berani-beraninya mencurinya beras di kampung kita dan membagikannya secara suka ria di kampung mereka.” Tukas pak Salman.

“Jangan asal bicara dulu pak Salman. Kita masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini bisa saja terjadi karena kita kurang peduli terhadap nasib para tetangga kita di kampung sebelah. Seperti yang kita tahu, keadaan warga kampung itu sangat miris sekali. Banyak warga yang kelaparan, akibat tidak adanya hasil alam yang bisa mereka olah. Tanah tandus tidak bisa untuk mereka bercocok tanam, hasil pergi melaut pun tak seberapa banyak.” Jawab pak Azhar

“Saya tetap tidak terima para pecundang itu masuk dan mencuri di kampung kita. Mereka adalah pecundang yang malu untuk meminta bantuan, hingga harus mencuri ke kampung kita.” Cakap pak Salman

 Sesampainya di kampung Suka Miskin, kampung tetangga dari kampung Pesisir. Pak Azhar dan Pak Salman di sambut oleh para warga di kampung itu. Mereka berterima kasih kepada kampung Pesisir yang sudah memberikan bantuan berupa beras pada kampung mereka.

Saat itu, Bowo, anaknya pak Salman tengah membagikan beras pada warga Suka Miskin. Bowo bersama dua temannya, Bayu dan Bambang begitu cekatan membagikan beras-beras itu. Mereka tahu, bahwa warga kampung Suka Miskin sangat membutuhkan bantuan mereka.

Melihat hal itu, Pak Azhar dan Pak Salman merasa terpukul. Mereka telah bersalah karena tidak memerhatikan keadaan kampung tetangganya yang sangat membutuhkan bantuan mereka. Berkat Bowo dan dua temannya, nama kampung Pesisir menjadi bersinar di mata warga Suka Miskin.

“Maafkan Bowo, Pak. Selama ini, Bowo dan teman-teman Bowo yang mencuri beras-beras warga di kampung kita. Beras-beras itu Bowo bagikan kepada para warga kampung ini Pak. Bowo memang pecundang yang tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu para warga yang membutuhkan bantuan. Bowo dan teman-teman Bowo tidak ingin melihat ada orang yang kelaparan, sementara di luar sana masih banyak orang-orang yang makanannya berlebih-lebih. Bowo siap menerima hukuman pak.” Desis Bowo pada pak Salman dan pak Azhar sambil menitikkan air mata.

“Saya sebagai kepala desa merasa malu pada diri saya sendiri. Saya tidak peka dengan keadaan orang-orang di sekitar saya. Terima kasih Bowo, kau sudah membuka mata saya.” Sesal Pak Azhar.

Pada akhirnya, warga kampung Pesisir memberikan bantuan kepada warga kampung Suka Miskin yang membutuhkannya. Pak Azhar juga bekerja sama dengan kepala desa Suka Miskin untuk mencari solusi terkait dengan mata pencaharian yang dapat ditekuni oleh para warga kampung Suka Miskin, agar tidak terjadi lagi kelaparan yang melanda warga kampungnya.


Biodata penulis


Indah Wulandari Pulungan adalah mahasiswi aktif Sastra Indonesia Universitas Andalas. Penulis antologi puisi Lelaki Wanitaku dan kitab cerpen Titian Senja ini lahir di Kota Sibolga, pada tanggal 30 Oktober tahun 2000. Saat ini, ia aktif berkegiatan di komunitas literasi Lapak Baca Pojok Harapan. Karya-karyanya telah dimuat di beberapa media massa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri