Melamar Haifi di Hari Bahagianya

 Penulis: Ahmad Zul Hilmi


Hari yang paling memberikan senyum semringah. Sebuah cincin dengan lazuardi yang membuat mata menjadi terpana. Sebuah kalung juga telah dipersiapkan. Perjuangan yang berawal lengkara. Hingga fatamorgana jingga memberi luka olesan bahagia.

 Haifi, apakah kau menyukai kembang?. Haifi apakah kau menyukai kuaci?. Mungkin kau suka yang ini, sebuah cincin yang sudah kupersiapkan untuk melamarmu di hari bahagiamu pada tanggal 7 november yang ke 24 tahun. Aku pikir, usiamu juga sudah cukup matang jika aku lamar dan aku nikahi. Sebelum aku mengutarakan semua yang berkemul di hatiku. Aku catat dulu di sebuah kertas. Semua itu aku lakukan bukan tanpa alasan. Aku ingin semuanya lancar. Maklum saja, aku orangnya sangat gagap dalam retorika, jadi semua harus dihafal agar tidak terjadi insiden berbahaya.

 Reuni sekolah membuat aku sedikit terperenyak. Semua orang sudah datang dengan partnernya. Akan tetapi aku belum masih ada kejelasan akan pasangan. Semoga ada satu yang tersangkut mata kail.

 Raga bukan tak menemukan dan tak menginginkan cinta. Apa dikata, jika rasa tak bisa menjadi sebuah realita. Rasa yang hanya mengudara terpana tanpa ada pola seksama yang berakhir bahagia.

 Haifi. Kau termasuk wanita yang bisa membuatku sangat nyaman. Akan tetapi kenyamanan itu tak sesuai dengan yang aku harapkan. Aku sadar aku memang bukan orang yang kau cari. Bagaimanapun itu, aku akan terus mengusahakan sampai aku benar-benar kau tolak saat jari manismu menolak cincin pemberian dariku.

 Sudah terlalu panjang narasi yang aku persiapkan. Sampai-sampai aku lupa, kalau raga sedang berada pada acara reunian SMA. Aku mengajakmu ke acara ini dengan penawaran yang sangat alot. Kau mengajak temanmu, karena kau tak ingin orang berpandangan jika kau adalah kekasihku. Sebab itu wajar, karena kau memang bukanlah kekasihku.

 Sebelum aku melanjutkan cerita di acara reunian. Aku ingin mundur kebelakang. Bukan aku, hanya ceritanya aku ingatkan pada masa lalu.

Haifi

Ditemukan

Perjalanan menuju lorong kegelapan

Membuat berhenti

Mengubah tujuan

Yang tampil natural

Tak ingin dijadikan ratu

Perjalanan awal pertemuan

Haifi…

Menjadi pembasuh luka

Mawar di taman mekar kembali

Kecerahan di pagi hari

Menyinari di malam hari

Tak ada balasan yang diminta

Membuat hari-hari penuh warna

Menjadi intan berlian

Kerang dalam lautan

Yang menjadi teman dalam kesendirian

Padang, 19 September 2016

 Aku ingin sedikit bercerita tentang puisi sederhana itu. Meskipun setelah 4 tahun, aku merasa jika itu bukanlah sebuah puisi, akan tetapi beberapa kata ungkapan rasaku kepadamu. Mungkin banyak yang berkata, kenapa tidak aku ubah saja diksinya menjadi lebih indah. Mengubah itu bukan persoalan indah. Lihat dulu sejarahnya, baru lihat keindahan diksinya. Puisi yang berjudul “Haifi” adalah puisi pertama untukmu yang bisa dibaca banyak orang. Kenapa aku bisa berkata untuk banyak orang. Sebab, puisi itu juga telah dicetak di dalam antologi puisi yang berjudul “Pelangi senja” pada tahun 2016. Sesekali aku boleh sedikit mengenang, sebelum nanti aku akan memberikan sebuah undangan ke rumahmu.

Haifi, sebuah singkatan yang aku pikir cocok untuk penyebutan di setiap karya yang aku buat. Sebab, setiap aku buat judul “Haifi” orang pasti tahu jika itu aku persembahkan untukmu.

Sebelum aku kembali pada niatan melamarmu pada acara reunian. Aku ingin memperlihatkan satu lagi puisi untukmu. Meskipun itu tidak sebanding dengan banyak puisi yang aku buat untukmu. Seperti lagu Jikustik yang berjudul puisi. Seperti itulah yang pernah aku rasakan, saat raga kita saling berhadap punggung.

Senja Bertandang Badai

:Untuk Haifi

Aku cemburu menatap badai

Dibelai angin dicumbui hujan

Memuja bintang berharap gelap

Bibir hilang derap

Hendak jadi pandiam tongkat

Sawah dalam pelukan piring

Kuterima apapun dengan tangan menengadah

Masih di sudut kamar

Diiringi lagu perjalanan yang telah selesai

Denganmu aku berdiri

Tanpamu aku berlari

Senja bertandang badai

Bertandang dalam sunyi

Diteguk harap kecil kereke

Siasat menebar benih

Nyata memotong sayap

Sunyi

Kau Pergi

Aku berkawan burung dikutuk ayam

  Semua sudah menikmati alunan lagu dari band yang tampil. “Mungkinkah kita selalu bersama walau terbentang jarak antara kita”. Lagu dari band dipopulerkan oleh stinky. Semua seperti kembali akan masa sekolah dulu. sepertinya mereka teringat berpacaran di dalam kelas, bercanda dengan guru-guru muda, sampai-sampai memanjat pagar belakang sekolah untuk menghindar agar tidak dihukum kepala sekolah karena terlambat.

 Sebelum lanjut, aku sedikit bercerita tentang puisi yang berjudul “Senja bertandang sepi” puisi yang dibuat pada bulan februari dan satu hal yang membuat puisi ini menjadi sedikit teringat. Puisi ini pernah dimuat di koran Pontianak Post pada bulan Juni 2020. Saat itu, raga seperti terperanjat saat pertama kali puisi dimuat di luar tanah kelahiran dan judulnya teruntuk Haifi. Sudah itu saja, kembali pada kisah reunian.

 Haifi hanya duduk di kursi yang disediakan. Ia sepertinya tidak menikmati suasana. Jika dilihat dari gelagatnya, sepertinya ia takut jika aku nekad akan melamarnya di acara reunian. Sepertinya iya juga segan dengan orang tuaku. Sebab, jika ia menolak, pasti tak enak hati. Selain di sini ramai dan orang tua menjadi alasannya.

 Haifi mulai beranjak dari kursinya. Semua itu karena aku sudah mulai beranjak menuju ke atas panggung. Haifi seperti merasakan keanehan pada dirinya. Ia masih saja mondar-mandir mencari posisi terenak.

 “Haifi.”

 Aku menyebut namanya. Semua teman-teman juga terdiam dan fokus menghadap kepadaku.

 “Sudah lama kita saling mengenal. Aku juga telah lama nyaman kepadamu, aku sayang, aku cinta kepadamu. Aku tahu, jika kau mencintaiku itu lengkara. Tapi tak salahnya aku mencoba untuk terakhir kalinya. Will You Marry Me, sembari aku sodorkan sebuah cincin.”

 “I Want to marry you”, Haifi akhirnya menjawab dengan tegas. Meskipun aku tahu ini adalah jawaban keraguan dan jawab keseganan. Tapi tak apa, cinta tumbuh karena waktu.

 Selepas itu, aku mengantarkan Haifi pulang ke rumahnya. Dengan keraguan, Haifi menerimaku. Aku sangat tahu itu. Sampai satu tahun.

 Kita saling menjalani hubungan dengan keterpaksaan itu. Haifi berkata serius kepadaku. Jika ia telah nyaman denganku. Ia baru sadar, jika cinta tidak bisa muncul jika tidak dirasakan seperti dahulu. Haifi telah nyaman dan ingin berkata “Aku sudah siap untuk melangsungkan resepsi pernikahan.”

 “Sah, Alhamdulilah.” Semua tamu berdoa setelah ijab Kabul. Haifi tersadar, ia baru sadar jika ia sedang melamun di resepsi pernikahanku.

 Aku telah sah menikah dengan Safara, wanita yang bisa menggantikan Haifi di hatiku. Aku mendoakan semoga Haifi bahagia, dan mengundangku. Aku akan nyanyikan satu tembang lagu jikustik “aku yang pernah engkau kuatkan, aku yang pernah kau beri rasa.”

 Ada yang merusak pemandanganku. Seorang pria dengan kumis lebat. Aaah Risang kumis mengganggu tidur.

“Haifi”. Bagaimanapun kita saat ini dan di kemudian hari. Ingatlah, bahwa kita pernah sedekat nadi dan pernah juga sejauh lantai dengan matahari. Salam rindu. Jika nanti, namamu sudah jarang aku tulis pada setiap tulisanku. Itu adalah tanda jika kau sudah bahagia dengan pilihanmu, dan jika namamu masih kau temukan, itu tanda aku sedang mendoakan yang terbaik untukmu.

 Selamat 7 yang ke 24 Haifi!!


Biodata penulis


Ahmad Zul Hilmi, lahir di Padang 06 April 1997. Alumni Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Tulisanya pernah dimuat di Padang Ekspres, Haluan, Singgalang, Radar Jombang, Pontianak Post, Bangka Pos, Medan Pos, Analisa Medan, Kabar Madura, Rakyat Sumbar, Utusan Borneo (Sabah, Malaysia), BMR Fox, Medan Pos, Media Cakra Bangsa, Diksi Jombang, dan lainnya. Buku yang sudah terbit berjudul “Bukan Hanya Sepatu Kanan” pada tahun 2019. Antologi puisi dan cerpen “Hujan” pada tahun 2017. Kumpulan cerpen dalam proses “Pertumbuhan Kumis Risang di Masa Pandemi”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri