Cara Bahagia Menjadi Susah

 Penulis: Fikih Alwi


Pada malam yang sepi semua mati kecuali Sapardi--lelaki malang yang ditinggal mati anak dan istri. Seorang diri di rumah kumuh yang terimpit gedung pencakar langit, tidur beralaskan tikar yang didapatnya dari tempat sampah milik tetangganya sendiri, menjadi pemulung tidak membuatnya berkecil hati, daripada tertidur pulas hasil dari memakan duit negaranya sendiri.

Sapardi menjadi gembel yang jarang mandi, pakaiannya yang jelek dan kusam membuat siapa saja yang melihatnya merasa risi, belum lagi bau badan yang tidak sedap bagi hidung siapa saja yang berada dekat dengan Sapardi, wajar saja dia terakhir mandi tiga bulan lalu di tempat pemandian umum, badannya terbasuh air namun tetap saja daki di badannya tidak langsung pergi, paling tidak mengobati rindunya untuk mandi.

Pada jarang kesempatan dirinya dikenali, ada yang memberi nasi, air dalam botol, yang lebih sering memberikan doa untuk umurnya yang sudah menginjak kepala tujuh.

Setiap jam istirahat kantor biasanya Sapardi duduk di emperan toko sembari beristirahat, memeluk dengkul yang juga sesekali mengantuk.

“Bos, ada orang gila di teras toko.” sembari menunjuk Sapardi.

“Usir sana!” nada tinggi dari meja kerja di dalam toko.

“Merusak pemandangan!” sambung pemilik toko yang berkulit putih dan matanya yang sipit.

Sapardi yang setengah pulas dengan kepala yang ditempel pada dengkulnya yang kurus tersentak bangun.

“Maaf Pak, saya hanya beristirahat sebentar.”

“Tapi orang-orang takut melihat penampilan bapak yang kumel,”

“Saya rasa juga bapak tidak waras!” sambung karyawan toko itu.

Keduanya berbeda dalam berpenampilan, karyawan toko yang berpakaian rapi dengan sepatu hitam bersih dan juga wangi, berbeda dengan Sapardi yang kurus dan tidak menarik.

Orang pikir jika berpakaian rapi membuat semuanya terlihat baik sedangkan orang yang kotor dan tidak menarik menjadikan orang itu tidak memiliki akal dan nurani. Padahal semuanya tidak seperti itu jika kau membandingkan Pak Menteri dengan Buruh Tani, kau bisa melihat siapa yang paling bersih dalam membangun negeri.

Sapardi angkat kaki dari toko peristirahatannya, kembali memanggul karung berisi rongsokan dengan sepenuh tenaga yang akan dijualnya untuk membeli makan dan sabun mandi, barangkali menjadi manusia yang lebih menarik akan membuatnya lebih dihargai.

***

Pada hari berikutnya, Sapardi mengunjungi pasar yang sedang ramai pembeli, dia melihat-lihat orang dengan segala profesi mulai dari tukang ikan hingga tukang becak yang tidak dia kenali, semuanya terlihat baik tidak ada yang mengusirnya pergi, tidak seperti di toko kemarin.

Sifat seseorang bisa dilihat dari lain tempat. Hanya karena saya seorang pemulung, sebab dari tidak dihargainya saya di emperan toko? pikir Sapardi, mengingat kejadian kemarin.

Padahal jika kita telaah lagi, semua orang tetap baik apa pun pekerjaan yang mereka jalani, hanya aja ada segelintir orang yang tega menghakimi dan mengatakan buruk pada pekerjaan yang tidak mereka tekuni.

Sapardi mengais sisa bekas botol, menyusuri lapak pedagang di mulut pasar.

“Sudah makan, Pak?” tanya tukang bubur pada Sapardi.

“Belum, nanti sore saja setelah saya jual rongsokan ini.”

“Bapak duduk saja di sini, saya buatkan satu mangkuk gratis.” kursi plastik ditempatkan tepat di samping Sapardi.

“Terima kasih, Pak. Apa bapak tidak rugi jika memberikan saya bubur secara gratis?” kini dirinya tepat sejajar dengan kursi yang menunggu dirinya untuk ditempati.

“Tidak akan ada rugi jika kita berbuat baik!” seraya menata bubur yang dituang dalam mangkuk.

Mendengar pernyataan tadi membuat Sapardi menerima tawarannya dan terduduk menunggu bubur gratis untuk mengisi perutnya yang tidak diisi selama dua belas jam terakhir.

“Terima kasih, Pak.”

“Semoga menjadi berkah buat bapak dan keluarga.” ucap Sapardi menjelma doa.

Sepuluh menit menghabiskan bubur yang diterimanya tadi, bertepatan dengan mangkuk kosong yang masih di pegangnya--Sapardi melihat anak muda yang menjadi tukang panggul di pasar, lantas mengingat anaknya yang mati dua puluh lima tahun lalu yang juga berbarengan dengan istrinya itu, keduanya di tabrak mobil yang mengalami rem blong, saat keduanya sepulang menjenguk neneknya yang sedang sakit di kampung.

Setelah menerima segelas air putih lantas berterima kasih dan tetap di kursi plastik. Sapardi memandanginya dari kejauhan, anak itu memakai baju biru dengan celana pendek hitam, berkeringat dan memanggul kardus yang sepertinya berat, anak itu menyusuri pasar dengan gagahnya dan seketika hilang ditelan keramaian.

Sapardi pamit dari tempat dia menikmati bubur pemberian pedagang yang berbaik hati, kembali berjalan tak tentu arah dan berharap bertemu lagi dengan bocah tadi.

Dia kehilangan jejak bocah itu, dan tak sadar sudah berjalan menyusuri aspal jalanan sejauh seribu meter, matahari sudah di ufuk barat perlahan mengganti warna menjadi biru kegelapan. Sapardi bergegas ke rumah petaknya, menanggul hasil buruannya yang tidak seberapa.

Pada malam--Sapardi sampai di rumah, merapikan tempat tidurnya, merebahkan badan setelah lelah dalam perjalanan, menatap langit-langit yang tembus pandang, sesekali dia berdoa pada semesta agar kelak hidupnya layak.

“Semoga saja orang-orang baik di luar sana bisa hidup bahagia, tidak merasakan susah seperti saja.” ucapnya pada malam menjelang pulas.

Menjadi tua memang menyebalkan apalagi tidak ada orang tersayang di samping kita, terus hidup menjadi manusia yang tidak merugikan sesama adalah satu cara membuat panjang umur untuk membahagiakan diri sendiri yang malang.

Malam telah larut namun bising kota tak pernah surut, Sapardi berselimut dengan rasa haru Tuhan yang senantiasa menjaga tidurnya hingga fajar terbit dan dia kembali memulai petualangannya lagi.

Hari ini Sapardi kembali menyusuri jejak yang sering dia lalui, mengulang kembali hari-hari yang penuh misteri. Siapa yang tahu nasib seseorang, hari ini seorang pejabat mungkin esok akan jadi tukang becak, kemarin jadi tukang ojek, esok lusa bisa jadi presiden.

Sapardi tidak menyerah pada keadaan, menjadi miskin tidak membuatnya panjang tangan, percuma jika hidup kaya raya hasil merampas, punya mobil mewah dari korupsi kantor tempatnya bekerja

 Pagi-pagi sekali Sapardi mendatangi pasar untuk yang kedua kali, mencoba mengadu nasib bertemu tukang panggul berbaju biru yang dilihatnya kemarin. Dia tidak berniat banting setir, hanya ingin mengamati orang-orang yang ramai ini. Di tempat ramai seperti pasar semuanya bisa dia temui, jual-beli antar pendatang dan pedagang, penawaran jasa yang ditawarkan bisa ditemui pada tempat seperti ini.

Sapardi melihat bocah itu lagi, dia tetap sama memakai baju biru dan celana hitam, Sapardi menghampiri bocah itu yang sedang menunggu peminat untuk menggunakan tenaganya, Sapardi semakin mendekat ke mulut pasar, menghampiri bocah yang lebih muda jika dibandingkan anaknya yang mati.

“Sedang nunggu apa kamu, Nak?” Sapardi memecahkan keheningan di tengah keramaian pasar.

“Eh, Pak.” bocah itu tersentak dari tempatnya bersandar. “Nunggu yang mau saya bawakan barang belanjanya, Pak.”

“Siapa namamu, Nak?”

“Kamu kuli panggul?”

“Budi, Pak. Kalau enggak kerja begini saya enggak bisa makan.”

Belum sempat lebih dalam lagi percakapan di antara keduanya, Budi pergi meninggalkan Sapardi, untuk menjemput barang yang akan di panggulnya sendiri.

Sementara Sapardi menjadi asing di antara sekitarnya dan kembali memungut botol bekas yang berada di dekatnya.

Keduanya hilang dengan kesibukan yang dilakukan, Sapardi menyusuri jalan yang tidak asing di laluinya--seperti hari biasanya, yang sudah hafal dengan jejak kakinya sebelum petang dia kembali pulang melewati jalan yang sama untuk kembali menuju rumah.

***

Mantranya malam ini sedikit berbeda, dia tidak meminta hidup layak, kembali pada langit-langit yang menembus ke langit luas, Sapardi melemparkan tanya;

Jika manusia harus bekerja keras hanya untuk makan, mengapa binatang dan tumbuhan tidak bekerja untuk itu semua?

Tidak satu pun yang dapat menjawabnya, hilang digilas laju perbatasan dan kembali menerima, Sapardi tertidur dengan tanyanya yang pupus menembus langit-langit dan menjadi santapan nyamuk yang bernyanyi di kepalanya.

Detik malam kian mencengkam, namun Sapardi tetap pada tidurnya, dia akan terbangun dengan suara azan yang menyelinap masuk ke mimpinya.

Gema azan berkumandang pertanda pagi telah datang, Sapardi terbangun dari rehatnya, sedikit melamun dengan nasib yang dideritanya. Namun penyesalan tidak akan mengubah apa pun juga jika tanpa usaha dan seizin Tuhan.

Merasa tenaganya telah kembali utuh, dia bangkit dari lamunan panjangnya, bergegas menuju karung yang hampir penuh. Tanpa sarapan dan makan malam sebelumnya, perutnya terasa lapar, sebab kemarin pengepul tempatnya dia menjual rongsokannya tutup, pagi ini harus terjual dan dia bergegas mendatanginya, perutnya yang semakin riuh membuatnya harus lebih cepat berjalan untuk sampai tujuan.

“Delapan kilo, saya bayar dua puluh ribu.”

“Baik, terima kasih, Pak.” Sapardi menerima hasil penjualan rongsokannya.

Dua hari memulung mendapat hasil dua puluh ribu, membuat Sapardi harus pintar-pintar dalam membagi duitnya sendiri, membeli makan untuk perutnya yang sudah meng-kempis, dan sisanya untuk keperluan lain yang lebih penting.

Sembari kembali membawa karung yang sudah tidak berisi, dia menuju tempat penjual nasi, tidak jauh dari pasar tempat bocah itu mengadu nasib, memang sudah takdir atau memang kebetulan, Budi terduduk sedang menikmati sepiring nasi dengan lauk telur mata sapi, keduanya lantas mengenali--hanya melempar senyum tanpa kata.

Sapardi memesan nasi dengan lauk tempe goreng dan telur bulat yang dimasak dengan sambal, kini Budi sudah selesai makan, lantas menarik duit dari kantor celana dan membayar. Sedang Sapardi menunggu pesanannya selesai dibungkus dengan kertas, dia tidak ingin mengganggu selera makan pengunjung di warteg tempat dia membeli makan, lantas membawanya pergi dan mencari tempat untuk menikmati makanannya sendirian.

Sapardi keluar dari tempat dia berdiri--membawa sebungkus nasi. Budi telah menunggunya di pinggir kedai kopi yang tidak jauh dari warteg tadi.

“Maaf, Pak. Kemarin saya harus pergi memanggul barang orang lain.” sembari menggapai tangan Sapardi lalu diciumnya.

“Tidak apa, itu kan memang pekerjaanmu.”

“Kita cari tempat untuk mengobrol sebentar--mari Pak.”

Keduanya menuju pohon mangga yang rimbun dengan daunnya, Sapardi membuka kantong nasi yang dibawanya, Budi membuka percakapan dengan perkenalan siapa dirinya-mereka larut dalam cakap yang seakan sudah lama tidak dilakukan, haus akan orang yang dapat mendengar tanpa menghakimi di antara keduanya.

“Saya enggak punya siapa-siapa, Pak.”

“Ibu-Bapak saya cerai, dan gak tahu sekarang mereka ada di mana.”

“Rumah saja di pinggir rel kereta dekat pasar, yang cuma berdinding papan.” keluh-kesah Budi seakan ditumpahkan pada Sapardi.

Sapardi menjadi pendengar yang sesekali menatapnya sendu.

Keduanya bernasib kurang beruntung, tidak memiliki hidup layak seperti orang lain yang berkecukupan dalam menjalani hidup.

Semesta mempertemukan keduanya, dua orang yang tidak menyerah pada keadaan, mempertahankan kejujuran ketimbang harus berbuat jahat di jalanan. Budi merasa beruntung mengenal Sapardi yang menjelma ayahnya sendiri, yang menasihatinya untuk tetap berbuat baik. Begitu pun dengan Sapardi, mengenal sosok Budi adalah jawaban dari doa-doanya pada malam setelah dia tidak tahu ke mana untuk bercerita selain pada Tuhan yang maha kuasa.

Jika keduanya bisa menukar nasib pada siapa saja yang mereka kehendaki, mereka hanya ingin orang terkasihnya kembali, tidak mesti punya rumah mewah dan mobil mahal untuk membuat mereka bahagia, kasih sayang orangtua dan sayangnya bapak kepada anak sudah lebih dari cukup untuk merasakan bahagia disisa hidup.


Penulis




Komentar

  1. bagus kak..
    🙂 rasanya ngena banget...
    moga tambah sukses ka😇

    BalasHapus
  2. Ceritanya bagus sangat berkesan semangat terus.kak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri