Buaya Lenggang

 Penulis: Bahrul Ulum


Keadaan wanita itu semakin memburuk saja sejak pertama ditemukan oleh warga di pinggiran sungai Lenggang, sebuah sungai yang memang memiliki cerita-cerita mengerikan namun betul-betul terjadi.

Sungai ini merupakan sungai yang memisahkan Kecamatan Gantung dan Kecamatan Manggar yang hanya dihubungkan oleh sebuah jembatan yang lumayan besar, sungai ini pula sebetulnya menjadi rumah bagi hewan-hewan khas pulau Belitong.

Sungai Lenggang sudah sejak dulu menjadi solusi bagi warga Gantung dan sekitarnya untuk mencuci badan, pakaian bahkan untuk sekedar membuat dapur mereka kembali ngebul.

Nyaris seluruh aktivitas warga dilakukan di sungai ini, mulai dari memancing, menimba air untuk kebutuhan memasak dan mencuci, bahkan arena artaksi anak-anak kecil beradu lompat indah dari atas jembatan.

Kembali ke nasib wanita tadi, dia Seripa, seorang wanita paruh baya yang sampai saat ini masih ketakutan akan kejadian yang telah menimpanya.

Terlihat dari raut wajahnya yang seolah menganggap warga adalah malaikat dari alam kubur yang siap memberi hukuman dan pertanyaan layaknya ujian nasional.

Wanita itu harus rela atas hilangnya sebagian dari kaki kanannya yang sudah menjadi santapan makan malam buaya muara.

Semua itu terjadi saat tengah malam ketika dia merasakan aktivitas hebat di usus besarnya dan tanpa pikir panjang dia segera menuju pinggir sungai, desain rumah warga setempat memang tidak menyediakan kakus.

Urusan buang hajat biasa dilakukan di belakang rumah dengan menggali lubang bahkan beberapa warga buang air secara langsung di pinggiran sunggai.

Ditengah proses pembersihan usus besarnya, Seripa mendapat serangan mendadak dari seekor buaya muara yang panjangnya sekitar tiga meter. Seripa menatap ketakutan ke arah wajah sang buaya berharap dia tidak menjadi santapannya. Suasanya saat itu seperti sebuah negosiasi antara hidup dan mati antara seorang wanita dan seekor buaya muara.

Nyawa Seripa memang selamat tapi malam itu menjadi cerita akhir dari kaki kanannya dan menjadi awal dari ketakutannya terhadap sungai. Setelah kejadian itu seluruh warga desa berkumpul pada malam hari, berembuk untuk mengatasi masalah darurat ini.

Suasana di lokasi rapat pada saat itu dipenuhi kecemasan, takut akan menjadi korban selanjutnya dari buaya muara itu.

"Mari silahkan, Apa ada usulan dari bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian perihal keresahan kita saat ini." Kata pemimpin rapat pada saat itu.

"Ini tidak pernah terjadi selama aku tinggal di kampung ini, ini adalah musibah yang baru." Seorang tetua kampung menanggapi.

Semua warga mengungkapkan kecemasannya kepada pimpinan rapat, susasana menjadi riuh dilanda kecemasan.

"Tenang, semuanya harap tenang, kita harus bepikir tenang saudaraku, ini pasti ada sababnya karena tidak mungkin ada asap tanpa adanya api, sekarang kita pikirkan bagaimana caranya membuat buaya itu pegi dari sungai lenggang ini."

Setelah diskusi yang panjang akhirnya diputuskan bahwa warga harus menambah aktifitas lalu lintas kapal di sungai tersebut agar buaya itu terusik dan pergi dari sungai.

Hari demi hari berjalan, aktifitas warga di sungai kini kian meningkat. Tetapi beberapa hari setelah padatnya aktifitas di sungai lenggang, terjadi kembali kasus penyerangan dan kali ini memakan korban nyawa seorang anak kecil.

Warga kembali berkumpul dan berdiskusi.

"Sepertinya rencana bapak telah gagal, bagaimana ini? Bukan cuman kaki pak, tapi sudah sampai menghilangkan nyawa." Jawab seorang bapak-bapak meluapkan emosinya.

Suasana rapat kali ini lebih menegangkan dari rapat di hari yang lalu, karena mereka bukan lagi membayangkan kaki tapi sudah membayangkan seluruh badan mereka menjadi santapan makan malam buaya.

"Ah!!! Pak...aku punya ide!" Teriakan dari luar gedung balai itu memecah suasana ketakutan.

" Ah Boi...apa rencanamu Boi?seberapa yakin kau rencanamu akan berhasil?" Balas pimpinan rapat dengan nada agak meremehkan,

"Aku yakin seyakin-yakinnya pak." Tegas anak muda itu kepada pimpinan rapat.

Pemuda itu menjelaskan rencana agar mereka membuat sebuah danau kecil yang menyambung kepada sungai lenggang, lalu setelah itu mereka beri umpan daging agar buaya itu terjebak ke arah kolam tersebut, dimana nantinya beberapa warga sudah menunggu untuk menombak kepala buaya tersebut.

"Ide yang cemerlang Boi...baik kalau begitu, kita laksanakan besok pagi dan kau yang memimpin." Kata pimpinan rapat dan diikuti persetujuan seluruh peserta rapat.

Keesokan harinya rencana dilaksanakan, seluruh warga desa bergotong-royong menggali sebuah kolam buatan untuk jebakan buaya tersebut.

Ditengah-tengah penggalian cangkul seorang warga membentur sebuah batu keras yang ternyata itu biji timah yang konon sangat dicari oleh pedagang-pedagang luar pulau dan dihargai sangat tinggi.

Pemuda yang memimpin pekerjaan besar itu pun punya akal.

"Bagaimana kalau kita mencari timah saja sebanyak-banyaknya.”

“Karena kalau kita mencari timah di dekat sungai ini, buaya itu akan merasa terganggu dengan aktifitas tambang dan kita pun dapat penghasilan banyak untuk menyejahterakan kampung ini."

Ide pemuda tersebut kemudian diterima oleh warga dan kegiatan penambangan di sekitar sungai lenggang berlanjut, sehingga kampung sekitar sungai lenggang terbentuk banyak sekali danau-danau kecil berwarna-warni bekas tambang.

Dan seluruh limbah tambang selalu dibuang warga ke aliran sungai lenggang.

***

Sebulan kemudian warga terkejut dengan buaya muara, yang dulu menjadi teror bagi warga kampung ditemukan sudah mati tersedak bongkahan biji timah di mulutnya.

Biodata penulis


Bahrul Ulum, jangan dipanggi sayang atau kasih. Kelahiran Belitung Timur 20 Mei 1999, tinggal di sana tidak terlalu jauh dengan Andrea Hirata tapi hubungan kami hanya sebatas tetangga. Tidak lebih.

Bersemayam di Yogyakarta, di mana puisi-puisi lahir selalu mengundang rindu. Saya merupakan pengajar aktif di Excellencia Indonesia di bidang kepenulisan. Menjadi mentor menulis untuk para ASN, mahasiswa hingga dosen. Selain itu juga giat menjadi kontributor buku ilmiah (bukan buku antologi yang dijadikan lomba para “penerbit indie”).

Sudah memiliki beberapa buku kumpulan puisi berjudul SARU (Radit Teens 2019), Dialog (Pohon Tua Pustaka 2019), Di Sini Kita Bertemu (Guepedia 2020). Jika dirasa kurang puas silakan singgah ke instagram @katapohon, liat-liat aja tidak apa tapi jika ingin menetap, maaf saya sudah menjadi seorang abah.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kirim Tulisan

Kontributor Gokenje.id

Puisi Ridho Alsyukri