Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Puisi Putrarico14

Gambar
  Antara benci dan cinta Akan kupilih antara keduanya untuk kita Supaya dan menjadi kata hubung paling damai Saat kau menarikku menepi berbisik : “Aku benci mencintaimu!, aniaya paling dungu aku lakukan” Akan kupilih antara keduanya untuk kita Supaya cintamu tidak bagian benciku, dan Supaya bencimu bukan kepada mencintaiku Saat kau berpapasan denganku di sebuah taman atau pantai Tempat kita menjelma sepi ufuk barat berganti langit Akan kupilih antara keduanya untuk kita Menjadikan kata dan damai yang paling nyaman bersandar senyuman “Cinta dan benci ialah rasa yang sama meledak, Saat kasih tidak temui kisahnya Dua kata tidak saling temu dalam satu waktu” Lintau, 2020 Ditelepon pacarku “Besok jemput aku di ujung mimpimu dengan kapal layar besar jam 09.00 WIB.” “Berdoalah matahari terbit di ufuk Timur mataku untuk itu” “jika tidak, aku akan tenggelam di lautan dalam, mata airnya dari air mata” “Jika aku tidak bangun; aku telah kalah oleh waktu dalam menangkan cintamu oleh makhluk pa

Cara Bahagia Menjadi Susah

Gambar
 Penulis: Fikih Alwi Pada malam yang sepi semua mati kecuali Sapardi--lelaki malang yang ditinggal mati anak dan istri. Seorang diri di rumah kumuh yang terimpit gedung pencakar langit, tidur beralaskan tikar yang didapatnya dari tempat sampah milik tetangganya sendiri, menjadi pemulung tidak membuatnya berkecil hati, daripada tertidur pulas hasil dari memakan duit negaranya sendiri. Sapardi menjadi gembel yang jarang mandi, pakaiannya yang jelek dan kusam membuat siapa saja yang melihatnya merasa risi, belum lagi bau badan yang tidak sedap bagi hidung siapa saja yang berada dekat dengan Sapardi, wajar saja dia terakhir mandi tiga bulan lalu di tempat pemandian umum, badannya terbasuh air namun tetap saja daki di badannya tidak langsung pergi, paling tidak mengobati rindunya untuk mandi. Pada jarang kesempatan dirinya dikenali, ada yang memberi nasi, air dalam botol, yang lebih sering memberikan doa untuk umurnya yang sudah menginjak kepala tujuh. Setiap jam istirahat kantor biasanya S

Puisi Yosi Adi Setiawan

Gambar
  Mata Waktu Tiap hari mata ponsel bertengkar dengan mataku untuk memastikan tatapan siapa yang paling tahan lama. "Makin lama kok makin gawat saja." Waktu menggerutu. Ia menggelinding pelan dan bosan menunggu siapa yang akan menyerah duluan. Hujan datang menjelang subuh dan waktu tak perlu lagi menunggu. "Selamat istirahat." Ucap mata ponsel berat. "Selamat tidur, besok kita lanjutkan lagi!" Jawab mataku yang seakan kehilangan warna. Tahu tak lagi menunggu, waktu terbang dan melayang meninggalkan sepi dan sunyi bertengkar di kamar mimpi. Padang, 2020.   Malam Sepi yang Telah Abadi Malam yang rindu sedang memeluk waktu, menidurkan sepi yang setengah jadi. Malam sepi yang telah abadi. Malam yang tua sedang menyusun doa, memupuk kenangan di antara remang-remang. "Aku ingin tidur lelap di matamu; menyepi dan menghilang." Ketika itu ia pejamkan matanya sambil mengucap pelan: "Selamat tidur, malam sepi yang abadi." (2020) Hilan

Puisi Suyila Lamka

Gambar
  Melihat diam Pada benturan bahasa bunyi bahasa yang tak lekang oleh waktu berulang pada tasbih jika dan ketika menggeluti paham berima kuasa airmata pada sajak yang lelah membasahi arti akan cinta itu hanya kini tersuar padamu hinggap pada bait pusaka doa. Pada setiap zaman selalu saja ada keindahan yang saling bertaut dengan anggun, hingga saatnya kelak bait-bait menyusun api unggun. Dengan rapi ketuhanan merebak sepi, kemudian jiwa rapuh dalam bunyi pada titik puisi. Pada kita yang sebatas ada, selurus ucap dan dengar. Kembali adalah bahasa ibu dalam rahim menyusun rindu pusara terngiang pada jarak jatuh mendekat dari terjauh.  Kopi untukku Banyak kata menghilang dikesunyian menggapai pada yang tak sampai seperti berucap dari pagi menuju siang menitip lelah pada aroma kopi melihat sore dalam penat yang bergerak rapi menuju tubuh sehingga tumbuh serumpun bunyi berselimut malam mencari yang datang dalam hilang. Selamat pagi itu sebentuk kopi yang melarutkan bias kata-kata semalam. J

Puisi Apriwanto

Gambar
  RINDU LINGKARAN  Saat semuanya saling sapa Saling bahagia Berbagi tanpa kenal nama Laksana penyu dengan cangkangnya Saat semuanya menemukan manisnya ukhwah Laksana semut dengan gula Saat semuanya telah berubah pada zonanya Laksana kopi tanpa gula hingga hitam semu semata Padang, 2020 DOA SEORANG HAMBA Malam telah datang Pagi segera bercahaya Sementar aku terlentang dalam selimut pagi Pikiran tak tentu arah Tujuan mana yang akan singgah Mata memandang bukan haknya Nafsu senantiasa membara Membakar hingga panas terasa Setan gembira ria Sudah terperangkap jeratnya? Padang, 2020 HIDUP SEKALI Hidup seperti lebah Tidak merugikan manusia Bermanfaat bagi sesama Berbekas hingga ke surge  Hidup bukan sekedar singgah Hidup perantauan sementara Gelombang dahsyat didepan mata Kayuh erat dengan iman taqwa Hidup adalah perjuangan Bukan pertolongan Bukan mengemis di jalanan Usaha akan terbuka jalan Hidup adalah proses Bekal panjang dalam sanubari Surag imian dihati Padang, 2020 RI

Vodka

Gambar
Penulis: AFIRA JULIANA  “Aaaa... mama……mama,” teriak anak kecil itu. Tak ada sedikit pun niat jahat, aku hanya mau bermain dan meminta sedikit makanannya, tapi ia mengambil kembali makanan yang telah ia berikan di dalam mulutku dan menendang serta menginjak ekorku. “husss…hus…sana dasar jelek, kotor, pergi sana huss…hus,” bentak wanita yang baru datang tak lupa ia menendangku dengan keras. Sepertinya wanita itu ibu dari anak kecil yang tadi tak sengaja ku gigit. Kini semua badanku terasa sakit, tak kalah sakit ekorku yang diinjak anak kecil tadi dengan sepatunya yang keras, “sungguh sial hari ini,” batinku. Perut terasa sangat lapar, tapi kemana lagi aku harus mencari makan, semua tempat sampah sudah ada yang berkuasa dan jika aku nekat mencari makan di situ nyawaku taruhannya. Aku hanyalah seekor kucing kampung berwarna putih kumal yang selalu di pandang sebelah mata oleh orang-orang yang berlalu lalang di pasar ini. Orang-orang tak menganggapku ada, bahkan tak sedikit dari mereka ya

Buaya Lenggang

Gambar
 Penulis: Bahrul Ulum Keadaan wanita itu semakin memburuk saja sejak pertama ditemukan oleh warga di pinggiran sungai Lenggang, sebuah sungai yang memang memiliki cerita-cerita mengerikan namun betul-betul terjadi. Sungai ini merupakan sungai yang memisahkan Kecamatan Gantung dan Kecamatan Manggar yang hanya dihubungkan oleh sebuah jembatan yang lumayan besar, sungai ini pula sebetulnya menjadi rumah bagi hewan-hewan khas pulau Belitong. Sungai Lenggang sudah sejak dulu menjadi solusi bagi warga Gantung dan sekitarnya untuk mencuci badan, pakaian bahkan untuk sekedar membuat dapur mereka kembali ngebul. Nyaris seluruh aktivitas warga dilakukan di sungai ini, mulai dari memancing, menimba air untuk kebutuhan memasak dan mencuci, bahkan arena artaksi anak-anak kecil beradu lompat indah dari atas jembatan. Kembali ke nasib wanita tadi, dia Seripa, seorang wanita paruh baya yang sampai saat ini masih ketakutan akan kejadian yang telah menimpanya. Terlihat dari raut wajahnya yang seolah me

Puisi Tuti Masda Yani

Gambar
  Saudara Kita lahir dirahim yang sama Memiliki perawakan serupa tak terpisah Ibarat pinang dibelah dua Kau ada sebelum aku berkunjung ke bumi ini Impian Ibu adalah agar kita selalu hidup rukun Saling membantu bukan membenci Kau adalah saudaraku Tempat berkisah yang tak jenuh mendengar Tetaplah beriringan walau di jalan yang berbeda Hidup yang bahagia adalah impian kita Meski suatu hari nanti kita akan menjalani kehidupan yang berbeda Balai Selasa, 2020 Sepasang Sepatu Kaca Tak sengajaku lihat sepasang sepatu kaca Tergeletak di sudut jendela toko tua Amat indah kala mata memandang Hei sepasang sepatu kaca Bolehkah aku menjadi Tuanmu Aku ingin memilikimu Kau tampak anggun jika dikakiku Aku ingin menari bersamamu Melompat tinggi ke angkasa Seakan tidak ada beban dibenakku Melepas semua rasa letih Alangkah indah jika semua itu kulakukan bersamamu Wahai sepasang sepatu kaca Balai Selasa, 2020 Pelangi Indah di mata Ibu Ibu Aku tak ingin kau tampak gundah Kepergianku ke kota han

Puisi Epi Muda

Gambar
Senja Di Kedai Kopi Ada kidung yang terus berkidung menyiram rindu yang masih melekat dalam dada Dengan sepotong mimpi merekah dalam terkaan sunyi Selepas itu, mata tak sanggup memebendung derita Di ujung bibirnya melekat beribu tanya lantaran bibirnya mengandung racun mematikan Kedua telapak tangannya mengusap debuh tanah yang melekat pada keningnya Akasara senja menyibakan puluhan kenangan Selepas puisinya mati di ujung waktu petang itu bersama segelas kopi buatan tangan tuan rindu Kedai kopi yang ia singgah setiap senja mencabik rindu menyulam derita Sebelum pria yang dicintainya tertidur pada ceruk matanya Dalam ingatannya ada setengah dari jejak langkah meletup  Dan selalu menamakan dirinya pengemis senja Memilah kata di tengah aroma kopi itu adalah rindunya akan penantian yang tak berujung Unit Gabriel, 2020 Di bawah catatan akhir Pada lembaran akhir buku kita adalah kuli waktu tentang segala remah-remah rindu selama kita menemukan garis awal awal dan akhir di setiap waktu Apakah

Mimpi Para Bedebah

Gambar
 Penulis: Indah Wulandari Pulungan Malam ini, salah satu rumah di kampung Pesisir kembali dibobol oleh pencuri. Anehnya, tidak ada barang-barang berharga yang diambil oleh pencuri itu. Hanya dua karung beras yang hilang dari tumpukan stok beras di rumah itu. Walaupun begitu, pemilik rumah tetap merasa waswas dan ketakutan. Menurut pemilik rumah, tidak ada jejak yang tertinggal dari pencuri yang masuk ke rumah mereka, bahkan pintu dan jendela pun tidak ada yang dirusak oleh pencuri itu. Kasus pencurian di kampung Pesisir membuat para warga semakin khawatir. Pencurian ini hampir setiap malam terjadi. Hal yang semakin membuat takut para warga adalah, karena tidak adanya barang-barang berharga yang diambil oleh pencuri itu. Selama satu minggu belakangan ini, sudah 5 rumah yang dibobol oleh pencuri itu. Namun, pencuri itu hanya mengambil stok-stok beras pada setiap rumah yang dimasukinya. Rumah pak Salman sudah dua kali dibobol oleh pencuri. Dua hari berturut-turut, pencuri itu hanya menc

Melamar Haifi di Hari Bahagianya

Gambar
 Penulis: Ahmad Zul Hilmi Hari yang paling memberikan senyum semringah. Sebuah cincin dengan lazuardi yang membuat mata menjadi terpana. Sebuah kalung juga telah dipersiapkan. Perjuangan yang berawal lengkara. Hingga fatamorgana jingga memberi luka olesan bahagia.  Haifi, apakah kau menyukai kembang?. Haifi apakah kau menyukai kuaci?. Mungkin kau suka yang ini, sebuah cincin yang sudah kupersiapkan untuk melamarmu di hari bahagiamu pada tanggal 7 november yang ke 24 tahun. Aku pikir, usiamu juga sudah cukup matang jika aku lamar dan aku nikahi. Sebelum aku mengutarakan semua yang berkemul di hatiku. Aku catat dulu di sebuah kertas. Semua itu aku lakukan bukan tanpa alasan. Aku ingin semuanya lancar. Maklum saja, aku orangnya sangat gagap dalam retorika, jadi semua harus dihafal agar tidak terjadi insiden berbahaya.  Reuni sekolah membuat aku sedikit terperenyak. Semua orang sudah datang dengan partnernya. Akan tetapi aku belum masih ada kejelasan akan pasangan. Semoga ada satu yang

Rindu dari Kota yang Jauh

Gambar
 Penulis: M.Z. Billal  Meski hari Minggu, tapi ia tidak libur. Sebab ia bukan pegawai kantor. Ia hanya seorang pegawai toko sepatu. Jika akhir pekan kali ini ia tampak bermalas-malasan untuk pergi bekerja, itu bukan karena sakit atau ingin minta libur pada bos tempat ia bekerja. Apa lagi beralasan kalau ia berencana ingin berhenti. Itu jelas tidak mungkin. Rasa malas itu mendera karena di dadanya terapung perasaan yang menyesakkan sampai menimbulkan arus deras yang membuat perasaannya seperti perahu yang terombang-ambing dan menghantam bebatuan. Tentu saja perasaan itu mulai melemahkan semangatnya.  Ia melangkah ke luar pintu, menuju bangku kayu yang ditanam di sebelah pohon kersen yang kemarin sore baru ia pangkas beberapa dahannya, karena sudah melewati rentangan kabel listrik yang melintang di atasnya.  Kemudian ia berhenti dan memejam sebentar sembari menghirup udara pagi sedalam-dalamnya. Mengisi dadanya hingga penuh. Setelah itu barulah ia buka matanya, duduk dan menatap jauh.

Puisi Nurmansyah Triagus Maulana

Gambar
  ODGJ Seseorang tengah nikmat di kursi panjang Di sebelah orang sedang mengujar keras Anda tahu? Gusti Allah Maha Rahman dan Rahim Saya kalau jadi pejabat sebagai perantara Tuhan Saya kasih tahu haah, kusiapkan uang untuk kalian Mobil? Sepeda motor? Kulkas? Atau apa haah? Fleksibel bukan? Orang di kursi bangun barangkali itu sesuatu yang bagus Keras, lantang, dan bijaksana dari ruang sebelah Dilihatnya orang kumal berbaju sobek-sobek Kali ini berteriak keras “Ternyata ODGJ” ia kembali dengan kekosongan Pemalang, Oktober 2020 Jalan-jalan di Batas Kota Cemara telah menerbangkan sesuatu Jalanan tidak menjejak apa pun tentang dirimu Apalagi angin sengaja melupaku dan dirimu Kemarin baru saja ada lelah di sini Sekaligus riang kini menjadi siluet Kemudian menjadi sepi Nyaman saja berjalan dengan kenang Seraya kau sudahi kenangan ini Antara kotaku dan kotamu Pemalang-Purbalingga, Oktober 2020 Rasa-rasa Hari Ini Di lalu lintas orang mengenal makna Berjalan di kala merah dan tetap ja

Puisi Putrarico14

Gambar
Berpikir Aku telah putuskan berakhir Saat mereka memulai awalnya Lintau, 2020 Berbijak Menyenangi musim gugur tiba Memungut guguran daun, membakarnya jadi debu “Kompos untuk tunas baru bersemi” Lintau, 2020 Berpuisi Malam, hujan dan saya Sama halnya di meja itu Rokok, kopi, dan korek api Tiada lain antara kami, selain cinta! Bukan? Lintau, 2020 Bekerja Selesaikan layaknya deadline “Dimabuk waktu” Maksimalkan bak berjudi “Dinilai Tuhan” Sidimpuan, 2020 Berbenah Setiap orang bisa sukses dan berhak memilikinya Tapi tidak kepada Survive Bertele dan ribet termasuk penghalangnya Sidimpuan, 2020 Biodata penulis Putrarico14, lahir 14 Mei 1998 di Koto Panjang, Lintau. Mahasiswa Filsafat Islam UIN IB Padang, bergerak bersama kawan-kawan taman baca Kelinci Sakti dan aktif di sanggar Kaligrafi Islam Al Aqlam padang.

NEGERI PARA KORUPTOR

Gambar
 Penulis: Amidia Amanza Di suatu negeri yang berada di entah berantah terdapat suatu permasalahan yang tak ada habis-habisnya. Sehingga permasalahan tersebut sudah seperti budaya yang mengikat. Korupsi adalah masalah yang harus dihadapi oleh negeri yang baru berusia kurang dari seabad. Pada suatu masa terjadilah tuntutan dari warga negeri bak di dalam dongeng ini, tuntutan rakyat tersebut berhasil menjatuhkan rezim yang telah lama berkuasa. Sang raja jatuh dari takhta lalu perdana menteri naik ke puncak kekuasaan. Peristiwa tersebut melahirkan satu anak kandung yaitu suatu lembaga kerajaan yang berfungsi untuk membasmi koruptor dan tindakan penyelewengan uang kerajaan lainnya. Hari cukup terik tatkala aku berjalan di negeri ini, sepanjang perjalanan memasuki negeri ini, aku banyak melihat petani di sawah. Aku terheran bagaimana bisa negeri bak sebidang surga yang berada di bumi ini jauh dari kata makmur. Aku bertanya kepada petani yang aku temui ”Kenapa negeri kalian bisa seperti ini?”