Selimut untuk Bumi

 Penulis: Ismiyati

Lelaki paruh baya itu lari dengan nafas tersengal, seolah ia sedang dikejar anjing-anjing mavia yang haus darah. Keringat deras menetes dari pori-pori kulitnya, membasahi seluruh tubuh hingga baju biru muda yang dipakainya berubah menjadi warna yang lebih gelap. Ia terus berlari dengan sisa nafas yang tak sempat ia isi ulang layaknya galon air yang tiap minggu habis di rumahnya. Tak bisa lagi ia mempercepat laju kakinya. Entah karena ia lelah atau karena efek kulitnya yang layu dimakan rotasi waktu. Rambutnya terlihat seperti memancarkan kilauan warna perak ketika ditempa sinar mentari yangmenari tepat di atas kepalanya. Ia menuju gang kecil di ujung jalan tata surya, lurus menuju toko coklat tua yang tak setua warnanya. Langkahnya yang cepat itu terhenti. Dia memesan selembar kain hijau tebal. Kenapa hijau? Hanya lelaki itu yang tau.

“Mbak ada kain hijau setebal kulit badak?”
“Setebal kulit badak?”
“Iya...”
“Stok masih kosong pak, tinggal warna hitam dan abu-abu saja. Lagipula sudah lebih dari 50 tahun kain iniada disini, tak ada orang yang mau membelinya. Bagaimana? Bapak mau? Kalau mau, saya berikan secara cuma-cuma untuk bapak.”
“Wah kok habis. Dia pinginnya warna hijau. Kalaupun diberikan gratis saya gak mau mbak, karena ini buat kado spesial”
“Bapak ini orangnya romantis.”
“Gakjuga. Ini hadiah ulang tahun buat dia, mungkin buat yang terakhir. Ya semoga saja endak”
“Oh saya tau, pasti ini untuk bumi.”
“Dari mana bisa tau?”
“Waktu saya ke pasar tadi, bumi sedang jadi buah bibir. Ya katanya mau ulang tahun.”
“Bener,dua minggu lagiulang tahunnya, bantu saya to..”
“Kalau begitu dua minggu lagi bapak datang saja kesini, akan saya carikan selimut yang bapak maksud.”
“Untunglah. Aku bingung mau cari kemana lagi. Sepanjang jalan sudah kususuri semua toko, mulai yang kecil sampai yang besar sekalipun, hasilnya nihil.”
“Saya usahakan sampai dapat pak. Tapi ngomong-ngomong kenapa bapak bilang kalau ini yang terakhir?”
“Entahlah, firasatku bilang begitu.Aku gak tahu kapan aku bisa memijaknya lagi, usiaku yang sudah setua ini mungkin gak akan lama lagi. Atau mungkin bumi yang akan meninggalkanku. Ah entahlah. Lagipula bumi juga sudah bertambah tua. Dia sering batuk dan sakit-sakitan, akhir-akhir ini suhu tubuhnya juga tinggi, panaaas sekali.”
“Dengan keadaannya yang seperti itu kenapa bapak malah ingin memberinya selimut? Bukankah akan membuatnya semakin gerah?”
“Memang benar, tapi ini harus.”
“Kenapa begitu?”

Tiba-tiba ia bercerita panjang dan lebar. Dulu aku dan bumi pernah berjanji akan selalu menjaga satu sama lain. Waktu kami masih sama-sama muda, aku selalu menemaninya di angkasa agar ia tak kesepian. Benar memang kalau disana ada matahari, bulan, bintang, mars, venus, yupiter, dan planet-planet lainnya. Tapi dia bilang tak ada yang mengerti dirinya sebaik aku. Itulah sebabnya kami jadi sangat dekat. Tapi aku bingung musti gimana. Akhir-akhir ini ia sangat sedih, terlihat dari pancaran matanya yang tiba-tiba redup dan sering berair.

Wajar saja dia sedih, makhluk-makluk yang bernaung dalam tubuhnya sekarang sudah lupa padanya. Dulu mereka memuja dan mengagungkan bumi, sekarang saat usianya menua siapa yang peduli? Mereka egois, membangun gedung tinggi-tinggi sampai menghalangi senja kesukaannya yang selalu datang membawakannya bunga. Sampai akhirnyasenja itu tak pernah lagi datang padanya. Gedung itu juga merobek warna kebiruan dan biri-biri putih diatasnya, membuat matahari semakin dekat padanya. Itulah kenapa suhu tubuhnya kini semakin meningkat.

Dua minggu lalu Matahari menghampirinya, dia bilang begini “Jangan dekati senjaku, dia cuma buatku. Kalau masih berani dekati senjaku, bersiaplah ku bakar dirimu”.
“Hey Tari, kau salah paham. Bukankah senja memang milik kita berdua?”
“Tari? Kok Tari pak?, tanya penjaga toko.
“Iya, kan bumi manggilnya Tari, Mentari gitu maksudnya”.
“Oalah, terus gimana pak? Si Tari bilang apa?”
“Ya katanya dia gak mau berbagi”.
“Loh kok aneh ya pak?.”
“Aneh gimana?”
“Ya aneh, padahal jelas-jelas senja lebih suka datangnya ke bumi. Kata bapak juga sering bawain bunga kan?”
“Iya sih, tapi ya gitu. Itu si Tari kayanya cemburu”.
“Ah lha kok bisa loh. Padahal kan senja itu akan terlihat lebih indah kalo sama bumi. Kalo sama matahari ya percuma, kalah dong”.
“Kok kalah?”
“Lha wong sinarnya itu lo pasti menangan dia, panasnya juga.”
“Iya makanya dia minta kado selimut”.
“Biar apa pak?”
“Biar panasnya Tari itu gak sampai ngelukain kita. Nah kurang baik gimana sih bumi? Dirinya terancam, tapi yang dipikir ya kita-kita ini”.
“Jangan bilang siapa-siapa ya...”
“Apa pak?”
“Gak pernah dengar masalah matahari kemarin? Mau menjarah bumi katanya.”
“Ah yang bener pak?”
“Buat apa saya bohong. Sekarang kan daya tahan bumi sudah berkurang, jadi Tari ambil kesempatan. Lihat saja ozonnya, sudah seperti keju dimakan tikus.”
“Prihatin saya sama bumi pak, apa yang bisa saya bantu?”
“Bantu saya saja carikan kado itu, itu sudah termasuk membantu bumi, setidaknya kalian tak merusak juga sudah lebih dari cukup.”
“Sekarang keadaannya begini, sudah panas dan benar-benar panas, pancaran mentari sudah bebas menjarah bumi. Sepertinya sudah jadi dendam kesumat”.
“Malangnya bumiku, semua juga salah manusia”.
“Apa iya?”
“Tentu, kalau saja ada sedikit rasa iba pasti tak akan jadi seperti ini”
“Maksud bapak?”

Mereka tak peduli lagi dengan bumi, benar-benar tak peduli. Sepanjang hari ia menangis tapi tetap saja tiada yang peduli ataupun khawatir. Ya begitulah kadang bumiku meluapkan emosinya dengan tangis dan goncangan, karena mungkin sudah tak sanggup memikul beban berat yang menopangi dirinya. Tapi kadang makhluk-makhluk yang mendiaminya menganggap bahwa itu adalah hal biasa tanpa berpikir bagaimana cara untuk mengurangi beban penderitaan yang menimpanya. Dia bilang dia sakit. Sepanjang hari aku mengembara mecarikan obat untuknya. Namun setiap ulang tahunnya tiba, aku selalu kembali untuk memberinya kado. Hingga di hari ulang tahunnya ini ia memesan sendiri kadonya. Ia menginginkan selimut hijau yang sangat tebal. Entah kenapa dia menginginkannya. Ya mungkin karena...
Tiba-tiba seseorang menyela pembicaraan yang tadinya terdengar sangat serius. Pria muda berdasi dengan perawakan tinggi dan bau wangi yang menyengat. Mungkin dia habis mandi pakai parfum segalon. Rambutnya sedikit acak-acakan. Tapi masih terlihat rapi.

“Heleh masa bodo lah mau mikirin hal ribet gitu. Ngapain buang-buang waktu? Enakan hidup bahagia. Udah gak usah mikir yang lain. Gali aja perut bumi ini. Bumi kan bodoh, bisanya cuma diam hahaha..”, sahutnya dengan nada membanggakan diri.
“Siapa kamu? Maksudmu apa? Sahut penjaga toko dengan tatapan sinis.
“Kenalin dulu, aku ini pengusaha kaya raya sejagad. Pertambangan intan, perak, permata aku semua yang kuasai. Bumi ini kalau perlu akupun bisa beli.”
“Sombong sekali kau ini, rupanya urat malumu sudah putus anak muda. Kacang lupa kulit. Rupanya lupa kamu dapat kekayaan dari mana. Jika Tuhan menghendaki, bahkan saat ini juga kekayaan yang kamu banggakan bisa hilang dalam sekejap. Bahkan untuk makan dan minum pun kamu tak akan sanggup lagi”, sahut lelaki tua dengan nada mengutuk.
“Haha persetan! Apa bisa? Coba buktikan sekarang!”

Layaknya kutukan bundo Malin yang mengutuk anaknya, tiba-tiba bumi mengguncangkan tubuhnya. Mungkin tadi bumi mendengar pembicaraan yang sedikit menyayat hatinya. Bumi selalu tahan dengan keangkuhan mentari. Tapi tidak dengan manusia, adakalanya bumi memberinya pelajaran. Ataukah bumi sudah lelah dengan semua bualan-bualan manusia terkutuk? Muak dengan orang-orang yang hanya mementingkan keegoisan semata. Mereka itu hanya berpikir tentang egonya masing-masing. Melupakan bumi yang selalu memberinya penghidupan. Malangnya nasib sang bumi.

Goncangan bumi semakin kuat hingga semua tanah luluh lantah. Gedung-gedung pencakar langit dengan kuku-kukunya yang tajam pun ikut hancur. Toko kain yang semula berdiri tegak hancur seketika. Bak air mengalir dari seluruh lautan menyatu layaknya perang badar yang memenangkan musuhnya. Tak ada yang tersisa. Nampaknya bumi sangat marah.

“Cepat-cepat beri aku selimut, selimut apapun. Akan kuredakan amarahnya. Stidaknya agar bumi tak menyakiti dirinya sendiri.

Terlambat.... benar benar sudah terlambat. Tanpa sempat memberi bumi sebuah selimut yang bisa meredakan kemarahannya, lelaki tua, penjaga toko, lelaki yang kaya itu serta makhluk-makhluk seisi bumi sudah hilang nyawa. Bumi telah hancur bagai anai-anai beterbangan tanpa menyisakan satu makhluk bernyawa.

Biodata penulis


Ismiyati atau biasa dipanggil Ismi adalah mahasiswa Universitas Islam Malang angkatan 2017 dengan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Lahir di Malang tanggal 27 Maret 1998 merupakan gadis keturunan Jawa Madura. Anak ke-4 dari 5 bersaudara ini pernah menempuh pendidikan di SDN 02 Kebonagung, kemudian melanjutkan ke SMPN 01 Pakisaji, dan juga merupakan lulusan SMK PGRI 7 Singhasari Malang. Saat ini tinggal di Jl. Wayang rt 03 rw 02, desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Memiliki motto hidup “Jangan hakimi kesalahan, jadikan kesalahan sebagai pelajaran berharga dan tidak untuk diulang.”



Komentar

Postingan Populer