Penulisan Konjungsi

Penulis: Wahyuni Fitri

(Ilustrator: Joyken)

Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Meskipun pemilihan kata-kata dalam puisi bebas, tetap harus memperhatikan tatabahasa, ejaan, dan tanda baca. Akhir-akhir ini banyak puisi yang tidak menerapkan kaedah bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti kesalahan penulisan konjungsi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konjungsi adalah kata atau ungkapan penghubung antar kata, antar frasa, antar klausa, dan antar kalimat. Kata penghubung disebut juga konjungsi atau kata sambung, yang berarti kata tugas yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa (Hasan Alwi, dkk., 2003: 296). Dalam pengertian lainnya, konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi (Harimurti, 2007: 102). Dengan demikian, konjungsi adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa, baik kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat.

Konjungsi terdiri dari berbagai jenis. Berdasarkan kedudukannya, konjungsi dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu (1) konjungsi koordinatif, (2) konjungsi korelatif, (3) konjungsi subordinatif, dan (4) konjungsi antar kalimat. Masing-masing jenis tersebut berbeda cara penulisannya dalam kalimat.

Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara (Abdul Chaer, 2008: 98). Konjungsi ini tidak dapat diletakkan pada awal kalimat. Bentuk konjungsi, seperti dan, atau, tetapi, dan sedangkan. Dan merupakan penanda hubungan penambahan, atau merupakan penanda hubungan pemilihan, tetapi penanda hubungan perlawanan, dan sedangkan penanda hubungan pertentangan. Penulisan dan dan atau jika menggabungkan lebih dari dua unsur kata diberi tanda koma sebelum konjungsi tersebut. Untuk tetapi dan sedangkan harus menggunakan tanda koma sebelumnya. Ini sesuai dengan aturan dalam PUEBI, yaitu tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan dan tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).
Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan bagian kalimat bertingkat. Konjungsi subordinatif dapat diletakkan pada awal kalimat. Bentuk konjungsi subordinatif, yaitu karena, jika, dengan, dan sehingga. Karena merupakan konjungsi subordinatif sebab, jika merupakan konjungsi subordinatif syarat, dengan merupakan konjungsi subordinatif alat atau cara, dan sehingga merupakan konjungsi subordinatif hasil. Penulisan konjungsi subordinatif dalam PUEBI adalah dengan memberi tanda koma untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.

Konjungsi korelatif atau berpasangan adalah konjungsi yang berfungsi menghubungkan bagian kalimat setara dengan berpasangan. Konjungsi korelatif terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh salah satu kata, frasa, atau klausa yang dihubungkan. Bentuk konjungsi korelatif, seperti bukan … ,melainkan. Jika terdapat konjungsi korelatif seperti itu maka diberi tanda koma untuk menegaskan kalimat sesudahnya. Bentuk lain konjungsi korelatif, seperti baik … maupun, maka tidak perlu diberi tanda koma dalam penulisannya.
 Konjungsi antar kalimat adalah konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat lain yang berada dalam satu paragraf. Bentuk konjungsi korelatif, yaitu namun, oleh sebab itu, dengan demikian, dan selanjutnya. Biasanya konjungsi korelatif terletak di awal kalimat dan dipisahkan dengan tanda koma dengan bagian kalimat lain pada kalimat. Contoh: Saya tidak setuju. Namun, saya tidak melarang.

Dari paparan di atas dapat dilihat begitu banyak jenis konjungsi dan aturan penulisannya dalam PUEBI. Dari setiap jenis konjungsi akan berbeda pula cara penulisan dan tanda baca yang mengikutinya. Kesalahan dalam penulisan konjungsi dapat terjadi karena beberapa faktor. Pertama, kurangnya pengetahuan penulis mengenai ilmu bahasa atau linguistik, seperti konjungsi yang dipelajari secara mendalam dalam morfologi. Kedua, penulis tidak menguasai PUEBI. Faktor ketiga, penulis sudah memahami bidang ilmu morfologi serta sudah menguasai PUEBI, tetapi kurang berhati-hati dalam membuat sebuah karya sehingga tetap terdapat kesalahan pada karya yang dihasilkannya.

Sebelum menciptakan sebuah karya alangkah baiknya kita memahami kaedah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta memeriksa kembali karya yang dibuat untuk meminimalisir kesalahan. Dengan demikian, karya yang kita hasilkan berkualitas. Baik dari sepi keindahan, maupun dari segi kebahasaan. Inilah harapan kita sebagai generasi muda untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

Biodata penulis

 Penulis bernama Wahyuni Fitri. Anak kedua dari empat bersaudara. Mahasiswi dari jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Tulisan yang dihasilkan penulis banyak untuk keperluan pribadi saja. Hasil tulisan yang diterbitkan berupa puisi yang dicetak dalam satu buku antologi puisi tugas perkuliahan. Selain itu, hasil tulisan penulis lainnya berupa puisi, cerpen, dan esai yang dimasukkan ke laman blog pribadi penulis.

Komentar

Postingan Populer