Oetimu: Sejarah dan Dekolonialisasi Timor Timur

Peresensi: Oscar Maulana
Judul Buku : Orang-Orang Oetimu
Penulis        : Felix K. Nesi
Penerbit      : Marjin Kiri
Cetakan       : Ketiga, Februari 2020
Tebal            : viii + 220 halaman
ISBN             : 978-979-1260-89-3

Perjalanan negara-bangsa tak bisa lepas dari khazanah sejarah revolusi. Semangat nasionalisme dan kemajuan, membuat gairah lepas dari cengekraman kolonialisme. Kita mengerti masa-masa genting saat agresi terus datang pasca proklamasi dibacakan.
Peristiwa demi peristiwa membangun kesadaran sebagai satu kesatuan dan persatuan. Namun, malapetaka hadir saat kekuasaan jatuh ke tangan yang salah, dan mengakibatkan pertentangan. Negara kita sempat digerakkan oleh rezim yang otoriter, represif, hegemonik dengan ideologi militeristik.

Zaman Orde baru (Orba) yang dipimpin oleh Soeharto, menyisahakan cerita getir tragedi kemanusiaan. Terutama pembrangusan ideologi sayap kiri dan komunisme. Kita bisa tengok buku garapan Harsutejo, Kamus Kejahatan Orba: Cinta Tanah Air dan Bangsa (Komunitas Bambu, 2010). Bagaimana sejarah, bahasa, dan budaya dimanipulasi menjadi intrik politik orba guna melanggengkan kekuasaannya. Sejarah Indonesia yang dibelokkan, digelapkan, dan berganti menjadi sejarah tabu dan buram.

Peristiwa berdarah pada zaman orba pun hadir sampai ajal kekuasaan politiknya. Agresi militer pernah dilancarkan tentara Indonesia di pedalaman wilayah bagian timur bernama Timor timur. Peristiwa invasi militer Indonesia di Timor Timur pun mengakibatkan pelbagai problematika yang berdampak pada elemen sosial-kultural, ekonomi dan politik.

Sejarah mengenai Timor timur digarap secara apik nan liris dalam bentuk novel, dengan ciri etnografis kental. Bertitel Orang-Orang Oetimu (Marjin kiri, 2019) garapan Felix K. Nesi. Novel ini mengisahkan gejolak politik tanah “Timor timur”, sekaligus kehadiran negara bernama Indonesia melalui tangan-tangan militer.

Naskah Orang-Orang Oetimu sebelumnya menyabet penghargaan prestisius, sebagai pemenang sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2018 lalu. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang itu, membuka tabir kesejarahan yang menimpa Timor timur berlatar tahun 1990-an. Felix menarasikan pergulatan masyarakat wilayah Timor timur dengan segala kegelisahan hidup, satire, perjuangan melawan dekolonialisasi dan eksploitasi (ke)perempuan(an).

Dekoloniaslisasi yang menjerat masyarakat Timor timur, kian terjerembab kedalam hegemoni kekuasaan, dan pendiskriminasiaan manusia. 

Dekolonialisasi di Timor timur pecah pada tahun 1974, saat tentara Indonesia menduduki Atabae. Kemudian secara sepihak disusul kelompok Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor-leste Independente/ partai di Timor leste) yang pro terhadap kemerdekaan bagi Timor timur, mendeklarasikan kemerdekaan Timor-Portugis, di bawah negara bernama Republik Demokratik Timor-Leste—RDTL (hlm. 22).

Kemudian, Timor timur masuk wilayah Indonesia pada 1975. Merasa sudah menguasai wilayah Timor timur, pemerintah dan militer Indonesia membuat pos-pos jaga yang bertengger di setiap daerah, termasuk Oetimu. Oetimu terletak di ujung selatan Kecamatan Makmur sentosa masuk dalam wilayah pelosok Nusa Tenggara Timur (hlm 54).

Setiap pos jaga dihuni dua polisi maupun tentara, kemudian ditugaskan untuk mendamaikan setiap daerah dari keributan. Keberadaan tentara di Oetimu bukan mendamaikan sebaliknya. Bahkan, menganggap dirinya menjalankan tugas negara, keberingasan dan kesewenang-wenangan yang warga dapat.

Kesewenang-wenangan aparat negara tergambarkan pada sosok Sersan Ipi. Polisi penjaga keamanan yang menempati pos jaga disekitaran Oetimu. Bertingkah dan memukuli warga tanpa asbab musabab jelas, “saking kesal dan lapar, ia mampir ke pangkalan ojek dan memukuli dua anak yang sedang catur” (Hlm 62).

Kebringasan aparat negara terus menggunakan dalih yang membosankan “menjaga kestabilan negara”, masyarakat yang mencoba menantang aparat negara akan dicap melawan negara dan barang siapa melawan negara pasti bakal dicap sebagai komunis.

Alasan tersebut bukan tanpa alasan, terjadi kekacauan dibeberapa wilayah Timor timur. Tatkala Kay Rala Xanana Gusamo ditangkap militer Indonesia, demo dilancarkan mahasiswa menuntut kemerdekaan terus berkecamuk. Militer menyebut mereka sebagai pengacau negara dan tak segan-segan untuk membunuh. Peristiwa pembunuhan, pemerkosaan menggerus rasa kemanusiaan, nyawa tak hinanya hanya sebatas cahaya memantulkan bayangan, murah dan tak berharga.

Penentangan Berujung Nyawa
Cerita kematian, dan pembunuhan, acap kali diartikan sebagai keadaan apes manusia pada zaman itu, manusia kiranya tak akan lepas dari peristiwa tersebut. Namun bagimana jika kematian kerap dimanfaatkan pemerintah sebagai ajang kampanye cinta tanah air dan bangsa. Kematian bagi Tentara Indonesia digunakan sebagai ajang menyerukan rasa nasionalisme, kemudian berpidato dengan intonasi yang indah dan meyakinkan dengan gairah patriotistik.

Pada saat tokoh Riko dan ayahnya, dihantam iring-iringan Unimog yang mengakibatkan nyawanya melayang. Kemudian secara khusus ada perwira yang ditugaskan untuk memberikan pidato pemakaman warga sipil guna menyampaikan bela sungkawa, dan diharapkan terus menjaga kesatuan –persatuan tanah air Indonesia, kemudian berterimakasih karena telah berbakti kepada republik Indonesia tercinta (Hlm 150).

 Novel ini ditutup dengan adegan tokoh Martin kabiti mantan anggota tentara Indonesia, bersitegang dengan Atino. Terjadi dialog epik antar keduanya, bercerita sentralistik Jawa yang mendominasi Indonesia. Dominasi Jawa yang begitu kental. Bahkan tak mungkin berani menentang Jawa pada zaman itu—sampai sekarang. Hal ini tentu saja menjadi gambaran nyata atas superioritas orang Jawa sampai Indonesia Timur. “Tidak akan ada yang mengasihinya bila ia dibunuh tentara karena menyinggung Soeharto dan orang-orang Jawa” (Hlm 216).

Dan benar adanya berdirinya suatu negara-bangsa tak bisa lepas dari tetasan darah pahlawan. Pendiskriminasian manusia, dan kemelaratan membayangi manusia terjajah tanpa belas kasih.

Dekolonialisme yang pernah dialami Timor Leste ini, menjadi rentetan sejarah panjang bagi peradaban kemanusiaan global. Hak-hak manusia untuk merdeka harus ditebus dengan banyak korban nyawa. Dorongan menjadi manusia merdeka musti dijadikan sebagai pedoman setiap individu manusia. Sejarah pahit yang terjadi di Timor Timur menggores rasa kemanusiaan, memberikan ibrah pelajaran di tiap tingkah laku manusia modern dewasa ini.

Biodata penulis  
Oscar Maulana. Mahasiswa IAIN Surakarta. Bergiat di Komunitas Serambi Kata. Tinggal di Solo, Jawa Tengah. Nomor HP 089649478192

Komentar

Postingan Populer