Nyanyian Kematian

 Penulis: Resti Alya Putri 

(Ilustrator: Joyken)

Sudah pukul dua malam, hujan belum kunjung mereda. Angin meraung-raung seperti lolongan anjing setiap pukul dua belas malam. Zae masih melipat burung origami dengan kertas yang sudah ditulis surat. Katanya, menuliskan semua kesedihannya di kertas lebih baik daripada bercerita kepada siapapun. Sepanjang malam yang sepi, juga untuk malam-malam yang telah berlalu. Zae telah melipat seratus burung kertas dan menaruhnya di dalam stoples bulat berdiameter tiga puluh sentimeter. Ketika hari menjadi lebih menyedihkan dan Zae sudah tidak mampu menahan sesak didadanya. Ia ingin menerbangkan semua burung kertas beserta surat yang berisi kesedihan itu. Namun, akankah kesedihan yang Zae tulis disurat dan dilipat berbentuk burung kertas mampu terbang ke langit dan menghilang?

Surat ke 13 :
"Aku hidup, tapi jiwaku mati. Seperti aku muak mendengar deru nafasku yang enggan berhenti."

Di dinding kamar yang bercat putih dengan lampu yang meremang. Zae menempel kutipan-kutipan yang ia salin dari kumpulan suratnya. Berharap seseorang membaca tulisan itu dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Namun, siapa yang peduli dengan kehidupan Zae? Semua orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Untuk tahun-tahun yang telah berlalu. Semua kesedihan yang Zae samarkan. Semua tangis yang sekuat tenaga ia redam tiap malam. Ia telah menipu semua orang. Ia berpura-pura baik-baik saja hingga yang hanya orang lain tahu ia adalah seseorang yang pendiam dan tidak mau bergaul dengan siapapun. Sepanjang hari ia mengurung diri di kamar yang sesak dengan bau kesedihan.

Surat ke 17 :
"Tuhan, aku ingin sekotak cokelat dariMu. Katanya, memakan cokelat bisa membuat kita bahagia."

Di sepanjang malam yang dingin ketika do'a-do'a paling nyaring terus Zae rapalkan. Zae merasa ia hidup dengan sangat menyedihkan, ia ingin hidup bahagia tanpa tawa yang pura-pura. Ia tidak ingin terus larut dalam kesedihan hingga ia sekarat. Didadanya yang penuh luka, juga kesepian dan kegelapan yang mengelilinginya. Zae tidak mampu untuk melupa luka yang bertahun-tahun menyiksa.

Namun, semua sudah berlalu. Kenyataan sudah menamparnya lebih keras. Penyakit di tubuhnya tak kunjung sembuh. Hingga bertahun-tahun telah ia lewati. Zae mengurung diri, sebagian orang menertawai dan sebagian orang pura-pura peduli. Tatapan mereka membuat Zae tersakiti, ia tak ingin lagi melihat dunia luar. Ia tidak ingin berteman dengan siapapun. Ketika pagi mulai serupa malam, dan langit senja seperti goresan luka. Ia menangis, menangis hingga ia lupa apa itu tertawa.

Surat ke 20 :
"Tuhan, dunia ini sangat tidak adil bagi orang-orang sepertiku. Mereka hanya bisa menertawai, pura-pura peduli dan itu membuat aku ingin mati."

Zae tidak ingin melakukan apapun. Semua ambisi dan cita-citanya di masa depan telah ia kubur dalam-dalam. Dibenaknya yang riuh, kematian serupa nyanyian paling nyaring yang memenuhi isi kepalanya. Semua orang akan mati, tapi kapan ia akan mati. Ia suka kegelapan, tapi bumi terasa lebih gelap dan mencekiknya. Ia masih bisa bebas bernafas, tapi ia terus merasa sesak sepanjang hari.

Kematian seperti sebuah perayaan yang Zae tunggu. Ia kehilangan alasan mengapa ia harus hidup. Semua perkataan menyakitkan terus terngiang ditelinganya juga mimpi-mimpi buruk membuatnya merasa sesak. Ia tidak memiliki kehidupan lagi. Ia seperti seseorang yang berjalan dalam kabut kegelapan, ia tidak tahu arah dan tidak bisa melihat apapun. Hanya seorang, berjuang sendiri meski ia punya keluarga.

Pagi di hari ke 1689 sejak semua luka dan penderitaannya dimulai. Sejak bahagia direnggut paksa dari hidupnya. Dan semua kesedihan serupa ledakan gunung merapi dengan bara api serupa luka yang terus mengalir dari hari ke hari. Di pagi yang berkabut dan dingin menusuk tulang belulang. Zae berjalan menyusuri jalan setapak dengan gelap disekelilingnya. Pohon-pohon berderit ditiup angin dan itu terdengar seperti alam menyenandungkan nyanyian kematian yang paling memilukan. Ia terus berjalan menyusuri hutan dengan membawa setoples besar burung kertas. Dengan mata yang terus menatap jauh, jauh sekali hingga menembus kegelapan.

Surat ke 364 :
"Aku tidak menulis surat ini untuk Tuhan. Jadi, aku tidak membawanya bersama 364 surat lainnya. Ini untuk seseorang yang mungkin saja Ibuku. Ibu yang mengetuk pintuku lebih dari tiga kali, jika tidak kujawab Ibu akan memaksa masuk ke kamarku.

Aku rasa Tuhan tidak perlu membaca surat ini. Walau kutahu Tuhan pasti mengetahui apa yang aku tuliskan.

Untuk Ibuku, mungkin Ibu sedang membaca surat ini pukul satu siang. Sebab Ibu selalu mengingatkanku untuk jangan lupa makan. Tapi, hari ini aku menghilang. Seperti khayalanku tiap malam. Aku akan menghilang sebelum subuh lebih benderang. Ibu tahu aku suka gelap, jadi aku ingin menghilang di kegelapan.

Jika ini bukan Ibu, aku cuma mau bilang ....
seseorang tolong aku!"

Langit mendung, dan pagi terlambat datang. Hutan, kegelapan dan kesedihan. Kematian terus menyenandungkan melodi paling pilu. Zae tersenyum, getir, getir sekali. Hingga burung-burung kertas itu hidup. Memaksa keluar dari dalam stoples dan mengelilingi tubuh Zae dengan darah yang bercucuran dari dadanya. Banyak sekali, menggenang bersama air mata dan hujan yang tiba-tiba menderas. Gelap, gelap sekali.

Surat ke 365 (surat terakhir untuk Tuhan) :
"Tuhan .... akankah esok aku masih hidup?"

Biodata Penulis


Resti Alya Putri adalah seorang perempuan yang tidak suka berada di keramaian, lahir 13 November 1999 di Balai Selasa. Senang memotret dan membaca. Bisa dijumpai di Facebook : Resti Alya Putri dan Email : restyalyaputri1999@gmail.com



Komentar

  1. Aku udah baca, seperti biasa menyisakan bekas di kalimat terakhiršŸ˜

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer