Flower Of Magic

 Penulis: Seravina Galuh Adistya

    Pada bulan Maret tahun 2024 terjadi wabah penyakit dream syndrome yang menggemparkan Indonesia. Seketika penyakit ini tersebar dalam waktu yang bersamaan dan menyebabkan beberapa orang meninggal. Dream syndrome adalah sebuah penyakit yang menyebabkan badan mudah lelah dan mengantuk yang disebabkan oleh sindrom pertama yang bernama sleep apnea. Sleep apnea sendiri juga berkaitan dengan berbagai jenis penyakit seperti stroke, diabetes, gangguan jantung, dan lain-lain. Akibatnya, orang-orang yang terkena sleep apnea akan mengalami penyempitan saluran pernapasan sehingga mengurangi kualitas tidur dan akhirnya terjadilah fase tidur panjang yang disebut dream syndrome. Para ahli pun sibuk mencari solusi atas permasalahan ini.

    Diantara semua ahli tersebut, Matcha yang bergerak di bidang farmasi pun ikut berkontribusi. Ia telah melakukan berbagai macam riset dan penelitian dengan berbagai jenis tanaman obat-obatan, tetapi belum ada juga yang memenuhi kriteria obat yang diperlukan. “Bagaimana penelitian hari ini?” tanya Rey sahabat Matcha yang melihatnya sibuk sedari kemarin. “Penelitian masih terus dijalankan, doakan saja agar aku menemukan obat-obatan untuk semua orang yang terkena penyakit tersebut” jawab Matcha.

     “Aku dengar ada bunga yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, aku mengetahuinya dari beberapa penduduk yang tinggal di daerah setempat dimana bunga itu berada” Rey memberitahu Matcha, karena dia ingin obat-obatan tersebut segera ditemukan. Sehingga Matcha bisa tenang dan tidak pusing memikirkannya lagi. “Dimana tempatnya? Kalau memang ini jalan satu-satunya, aku akan pergi melakukan riset dan penelitian disana” tegas Matcha.

     “Lokasinya di hutan sekitar sungai sungai pawan yang ada di kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat” Rey pun memberitahu lokasinya pada Matcha. “Rey, ayo ikut aku kesana. Kita juga akan pergi bersama pakar obat lainnya” ajak Matcha, Rey yang mendengar ajakan teman baiknya itu langsung bersemangat “ayo!”. Perjalanan pun dilakukan oleh Matcha, Rey, dan sejumlah ahli. Mereka menyapu habis langit dan menyusuri jalan setapak. Hingga sampai ditempat yang mereka tuju.

    Mereka sudah terbagi menjadi 5 kelompok pencarian dan akan melakukan tugas mereka. “Kita akan mencari tanaman itu di kawasan hutan ini. Ini foto bunganya dan kalau kalian telah menemukannya kabari aku lewat monitor ini” Matcha pun bersiap, mengatur rekannya dalam pencarian bunga tersebut. “Kita berangkat!” seru Rey. “Hmm, hutan ini indah sekali. Pemandangannya mirip dengan sungai Amazon di Brazil ya. Cocok sekali untuk tempat mencari inspirasi” kata Rey penuh kegembiraan.

    Bagaimana tidak? Dia adalah seorang penulis filosofi kehidupan terkenal yang sedang haus inspirasi. Karyanya sudah terbit dimana-mana dan lebih dari 100 juta orang sudah membacanya. Dia juga sudah mengadakan seminar beserta pameran bukunya berkali-kali. “Mau baca filosofiku sambil berjalan?” tanya Rey pada Matcha denga wajah memelas. Tampaknya dia ingin kemampuannya itu dipandang oleh Matcha. “Baik, sini kulihat” Matcha menerima tawaran dari Rey. “Nah, ini dia” kata Rey sembari menyerahkan secarik kertas berisi filosofi miliknya.

    “Hmm, bagaimana filosofinya? Bagus tidak?” tanya Rey yang penasaran apa tanggapan Matcha setelah membaca filosifinya. “Sangat bagus, aku menyukainya. Tampaknya fiosofi ini terinspirasi dari kisah seseorang ya?” jawab Matcha sambil tersenyum sendu. "Hehehe.... thanks Matcha” Rey senang mendengar kata-kata Matcha, semoga Matcha sadar bahwa Rey selama ini selalu memperhatikannya “Rey, ini bunganya! Aku menemukannya, bunga itu” seru Matcha sembari menatap bunga itu. “Baiklah, aku akan hubungi yang lain” Rey pun mengambil monitornya di dalam tas “seluruh monitor, seluruh monitor ini monitor satu. Aku dan Matcha sudah mendapatkan bunga yang kita cari. Kepada seluruh monitor harap kembali ke titik awal” titah Rey pada seluruh kelompok pencarian.

    Semua sudah berkumpul, mereka sangat penasaran tampak asli dari bunga itu. Bunga yang katanya mampu menyembuhkan segala jenis penyakit. “Ini dia bunga yang kita cari, aku akan menamainya Hyaccinnthe” Matcha berbicara tentang bunga itu sembari menunjukkannya kepada para pakar. Penelitian akan dilaksanakan besok, para ahli akan meneliti lebih lanjut soal khasiat dari bunga Hyaccinnthe ini. Mereka juga berencana membuat Green House di hutan sungai Pawan untuk membudidayakan bunga tersebut dan menjadikannya serum sebagai obat. Satu harapan mereka, semoga bunga ini dapat menolong semua orang.

    Hari ini penelitian di laksanakan dilaboratorium yang mereka bangun di hutan sungai Pawan, dekat dengan taman bunga Hyaccinnthe. “Matcha kemarilah, lihat hasil dari penelitian yang kita lakukan” panggil pak George, salah satu ilmuan yang sudah menjadi sarjana diusianya yang masih 17 tahun. Pak George pun menjodurkan dua lembar kertas kepada Matcha. “Apa ini sungguhan profesor? Rasanya tidak mungkin jika ada bunga yang memiliki manfaat seajaib ini” Matcha sangat heran akan hasil penelitian mereka. Baginya ini hadalah hal yang tak bisa dipercaya.

     “Ya, bunga ini benar-benar bisa menyembuhkan segala jenis penyakit dan dapat memperpanjang usia seseorang” jelas pak George kepada Matcha yang tampaknya masih belum percaya. “Baiklah, akan ku hubungi dinas kesehatan. Tapi profesor, apa obat ini sudah layak di perjual belikan? Karena pastinya dinas kesehatan pusat akan memasarkan obat tersebut dan kita belum tahu apa efek samping kedepannya” Matcha masih saja ragu akan keputusan yang diambil. “Seperti yang sudah kukatakan tadi, serum dari bunga Hyaccinnthe ini sangat bermanfaat dan tentunya dapat membantu masyarakat yang terkena penyakit Dream Syndrome” jawab pak George yang sejak awal telah menyetujui rencana pengedaran obat ini.

    Keesokan harinya, obat ini sudah dipasarkan keseluruh wilayah di Indonesia. Di masing-masing wilayah terdapat pos pembelian obat. "Ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, dibawah ini adalah mesin pembelian obat Ds (dream syndrome). Sekali lagi, kami hanya menerima kartu debit atau kredit. Harap masukkan kartu anda, tekan berapa jumlah yang ingin dibeli, batas pembelian 7 botol perminggu, uang akan ditarik setelah tombol hijau ditekan. Kami dari pihak dinas kesehatan akan terus melakukan yang terbaik. Sekian dan terimakasih atas perhatiannya" begitulah pemberitahuan tentang penjualan obat yang dilaksanakan di setiap daerah.

Sementara itu, di laboratorium para ilmuwan masih sibuk mencari tahu khasiat lain dari serum bunga Hyaccinthe.Kali ini mereka akan melakukan percobaan menggunakan seekor monyet dengan menyuntikkan serum bunga tersebut pada hewan ini. "Baiklah,akan ku suntikkan serum ini (cuusst...). Nah, selesai" Matcha pun sudah selesai menyuntikkan serum tersebut. "Mari kita lihat hasil dari percobaan ini besok" kata pak George dan para ilmuwan meninggalkan laboratorium.

    "Matcha, sudah selesai?" tanya Rey kepada Matcha yang masih nampak letih. "Sudah" jawab Matcha. Rey dan Matcha pun berjalan menuju tempat penginapan yaitu di gubuk tua yang mereka temukan dihutan. Di situlah para ahli akan tinggal untuk sementara.

Hari telah larut, semua orang sedang bersiap untuk tidur. Tapi, Matcha dan Rey masih duduk di kursi tua tempat mereka berkumpul bersama, sambil berbincang - bincang.

     "Matcha, kok senyap ya? Tidak ada suara hewan malam seperti biasanya. Sepertinya ada yang aneh disini" kata Rey, Ia merasa malam ini ada sesuatu yang tidak beres. Tentu orang akan merasa aneh apabila suasana malam di hutan yang harusnya dipenuhi oleh suara hewan- hewan malam menjadi senyap. "Benar kata mu, ada apa ya? Tapi ini sudah larut, sebaiknya kita beristirahat. Besok saja kita cari tahu apa yang sedang terjadi" Matcha malah menyuruh Rey untuk tidur tapi, tiba-tiba "gawat! Monyet yang kita gunakan untuk objek penelitian hilang" kata salah satu ilmuwan yang bertugas menjaga laboratorium malam ini. "Bagaimana bisa seekor monyet keluar dari kandang yang sudah terkunci?" tanya pak George heran.

    Terdengar banyak suara hewan memekik. "Astaga, ada apa ini?" "Apa yang telah terjadi?" seketika orang orang menjadi panik karena hal tersebut.

 "Grrr...krauss...krouss" seekor monyet raksasa tampak mengunyah jantung hewan lain. Ukurannya besar, gigi taring menjulur keluar dan saat ini semua orang sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Ya, inilah hasil suntikan serum bunga Hyaccinthe dengan dosis yang sangat tinggi. "Professor, apa yang terjadi?" tanya Matcha dengan muka yang pucat. Para ilmuwan lain juga sangat ketakutan hingga sekujur tubuh mereka merinding.

"Ayo lari semuanya, akhhh tolong..." baru saja salah seorang dari teman mereka mengajak kabur, tapi ia malah diterkam.

    Monster itu merobek kulit orang tersebut, mengambil jantungnya, mengunyah, dan menelannya hingga habis. Mereka berlari sekencang kencangnya, menjauhi monster itu. Rey dan Matcha terus berlari tanpa melihat yang lain sehingga mereka berdua terpisah dari kelompok. "Hah...hahh Matcha dimana hah ya yang lain?" kata Rey dengan nafas yang masih terengah-engah. "Hahh, aku tak tau Rey. Tapi, sepertinya kita terpisah dari kelompok" jawab Matcha. Nafas mereka masih belum beraturan hingga saat ini. Rasa takut dan khawatir bercampur menjadi satu. Mereka tidak mengira bahan penelitian mereka akan menjadi mutan jenis berbahaya seperti ini.

   Monster itu terus mengejar para ilmuwan yang tertinggal disana, ia memakan jantung mereka beserta jantung hewan lain. Monster ini tampaknya hanya terobsesi dengan jantung karena denyutannya. "Tolong...khhkh...to..long" suara minta tolong terus terdengar, banyak jiwa yang menjadi korban pada insiden ini. Bahkan ahli-ahli terkemuka juga meninggal karena peristiwa ini. Pak George sudah berlari jauh dari tempat monster tadi. Ia berlari pada saat mutan berbahaya ini sedang sibuk dengan jantung yang akan dimakannya.

    Tak sangka pak George bertemu dengan Matcha dan Rey di sebuah gudang senjata di tengah hutan. Tampaknya gudang itu adalah bekas markas tentara semasa perang dulu. "Professor, untung anda ada disini. Saya masih mempertanyakan hal ini. Tolong jelaskan apa yang sedang terjadi" kata Matcha yang terus bertanya-tanya. "Aku memberikan monyet itu serum dengan dosis yang tinggi. Sekarang aku mengerti, jika obat itu dipakai dalam dosis tinggi akan menyebabkan munculnya mutan jenis ini. Bunga itu dapat membantu kita tapi juga mendatangkan malapetaka" jelas pak George. "Bunga itu bagaikan pasang surut yang indah sebelum tsunami ya" Rey kembali dengan filosofinya. "Bakar! Kita harus bakar taman bunganya Prof dan Rey lakukan penarikan obat dari seluruh wilayah negara kita" Matcha pun akhirnya mengambil keputusan ini.

    Matcha menangis karena kehilangan semua teman satu profesinya. "Baik Matcha, aku akan hubungi dinas kesehatan pusat untuk segera melakukan penarikan obat" Rey segera mengambil telepon genggamnya dan menyuruh dinas kesehatan dan para kru untuk melakukan penarikan obat. "Matcha, apa kamu punya rencana? Kita akan jalankan rencana mu" kata pak George yang sudah pasrah akan hidupnya. Ia sudah tua dan impiannya sudah terwujud, tak ada lagi hal yang dia tunggu untuk pergi. "Baiklah, saya berencana untuk menanam bom yang ada disini dan memancing monster itu kesini dan yang lain nanti bisa membakar kebun bunga itu dan menghancurkan serum yang tersisa di laboratorium" jelas Matcha pada pak George dan Rey.

     "Biarlah aku yang memancing mutan itu kesini" pak George dengan sukarela menjadi pemancing monster. "Apakah bapak masih kuat berlari?" tanya Rey karena khawatir dengan usia pak George yang sudah tua. "Tentu. Jangan pernah meremehkan orang tua, anak muda" jawab pak George dengan penuh semangat. "Baiklah kalau begitu, saya dan Rey yang akan membereskan bunga dan serum yang tersisa" jawab Matcha. Perjuangan menyelamatkan diri dan orang banyak akan segera dimulai. Siapa sangka penelitian yang dijalankan atas asas kebaikan akan berujung malapetaka.

    Kini mereka berjalan menuju gubuk tua, tempat monster itu berada saat ini. Mereka melihat monster itu masih sibuk dengan jantung-jantung yang dia kumpulkan untuk dimakan. Segera saja mereka menjalankan rencana yang telah disusun tadi. "Heyy, monster kemarilah..." pak George berteriak sekuat-kuatnya. “Grrrr...graaa...” raung monster itu sambil mengejar pak George. Rey berlari ke arah kebun bunga Hyaccinthe dan Matcha ke laboratorium.

    Rey menyiram seluruh kebun bunga dengan minyak tanah dan membakarnya "blarr..." Kebun itu habis terbakar, hangus sudah bunga pembawa petaka itu. "Selamat tinggal bunga jelek" Rey mengucap salam perpisahan terhadap taman bunga yang mereka bangun. Beralih ke Matcha, kini dia sedang mengumpulkan semua kardus obat-obatan tersebut dan membawanya ke tempat penghancuran di belakang laboratorium. Dimasukkannya satu- persatu dari obat itu kedalam pembakar dan hanguslah semuanya. Tapi, ada satu serum yang dia sisihkan guna pemeriksaan lebih lanjut. “Aku harus kembali ke gudang persenjataan tadi” kata Matcha.

     Matcha berlari sekencang-kencangnya, ia merasa bahwa pak George sedang dalam bahaya sekarang karena memancing monster itu. Sesampainya Matcha disana, pak George sudah berhasil memancing monster itu ke perangkap yang mereka rancang. Matcha melihat jam, bom akan meledak 15 menit lagi. Tapi, pak George belum kunjung keluar sebab gudang persenjataan itu letaknya jauh di dalam gua. Matcha sangat khawatir dengan keadaan pak George, tapi dia juga tak berani untuk masuk ke dalam gua itu. Tanpa sadar 15 menit pun berlalu dan “duarr...boom..blarr..” ledakan besar pun terjadi. Monster itu meledak bersama dengan pak George di sana.

     “Matcha, maaf aku datang terlambat. Akhirnya, rencana kita berhasil ya? Pak George dimana?” Rey datang dengan segudang pertanyaannya. “Pak George sudah tewas bersama dengan monster itu di dalam sana” jawab Matcha. “Ya Tuhan, apa yang telah terjadi? Bahkan sampai pak George?” kata Rey dengan kepala menengadah keatas. “Apa gunanya menyesali hal itu? Toh mereka sudah tiada sekarang” Matcha menanggapi ucapan Rey dengan santai. Ada sesuatu yang tak beres dengannya. “Sudah kuduga, terjadi sesuatu denganmu. Garak-gerik mu yang mencurigakan, mukamu yang tampaknya tak senang dengan teman-teman dan senior mu, dan buku harianmu ditaman...” kata Rey dengan wajah khawatir sekaligus takut.

     Dia merasa bahwa Matcha tidak mungkin merencanakan hal sekeji ini. Sudah sangat lama ia mengenal Matcha, dia berpikir dirinya paham soal apa yang Matcha rasakan. Tapi, ternyata tidak sama sekali. “Bu..buku apa maksudmu?” tanya Matcha, kini mukanya tampak pucat dan keringat dingin mengaliri kulitnya. “Buku diary mu! Apa yang kamu lakukan Matcha? Mengapa kamu bisa sebenci ini pada orang lain? Aku sudah baca semuanya, tak ada yang perlu kamu sembunyikan lagi” Rey tak menyangka, Matcha akan berbuat hal di luar batas seperti ini. Rey sangat kecewa akan hal ini.

     “Baiklah, sudah ketahuan juga. Ya! Aku yang merencanakan semuanya. Ahaha.... bodoh sekali si George mengakui kejadian monster itu terjadi karena dirinya. Aku sudah merencanakan hal ini sejak hasil penelitian pertama keluar” Jawab Matcha dengan suara yang keras. “Bagaimana bisa? Padahal kita baru mengetahui efek sampingnya sejak melakukan percobaan dengan monyet itu” tanya Rey. “Tentu aku sudah satu langkah lebih maju dari mereka semua. Aku sudah melakukan reset dan mengembangkan sedikit serum bunga itu, juga melakukan uji coba dari berbagai kemungkinan yang ada” jawab Matcha, dia bangga akan hasil kerja kerasnya ini. “Kenapa kamu melakukan hal itu?” tanya Rey, matanya berkaca-kaca. Ia tak sanggup membendung kesedihannya lebih lama lagi. “Hi...hi..hi... menyenangkan melihat mereka semua menderita menjelang kematiannya. Aku benci mereka! Selalu memandang orang lain dengan sebelah mata, tidak pernah menghargai hasil jerih payah orang lain, dan suka memanfaatkan kebaikan orang lain. Aku sudah muak dengan semuanya!” seru Matcha.

    “Tapi kenapa pak George juga?” tanya Rey, karena Rey merasa selama ini pak George sangat mengandalkan Matcha. “Ha! Si tua bangka itu! Menyebalkan saat dia menyuruh-nyuruh orang seenaknya. Selalu saja dia menghalangiku dalam mencapai tujuan” ucap Matcha, tanpa rasa penyesalan sama sekali. “Tak sangka kamu akan berbuat seperti ini. Selama ini aku selalu mempercayaimu, mendukungmu, dan menemanimu” Rey mengucapkannya sembari memegang tangan Matcha. “Hikss...semua orang jahat padaku hiks.. tak ada yang sayang padaku dan sekarang kamu juga membenciku kan?! Sekarang akan ku akhiri saja kamu dengan serum ini. Kamu akan menjadi monster seperti monyet itu! Ahaha...haha..” Matcha berkata dengan puas dan tawanya yang menggelegar.

    “Matcha, kamu sakit! Ayo letakkan serum itu!” ucap Rey sambil merebut botol sumbat berisi serum berbahaya itu. “Tidak! Kamu harus meminumnya!” Matcha tidak mau kalah, dia terus mendorong botol itu kearah mulut Rey. Mereka berdua saling dorong-mendorong memperebutkan serum itu. Hingga akhirnya botol itu jatuh dan pecah “Prangg..” “Tidak!! Akkh! Kamu menjengkelkan hiks... jahat hiks... ahaha...kalian kan memang jahat ya? Hihi...” saat ini Matcha tak menentu, dia tak berhenti berbicara sambil menangis dan tertawa.

    “Semuanya, keluar. Tolong bawa Matcha ke rumah sakit jiwa” kata Rey pada seluruh kru medis yang sudah dia panggil sedari tadi. Beserta dengan seluruh anggota polisi yang mengawal mereka. “Lepaskan! Lepaskan aku! Aku tidak gila tahu hi..hihi.. lepaskan” kata Matcha sambil berteriak. “Maaf Matcha, ini yang terbaik untukmu saat ini. Aku janji akan sering menjengukmu dan saat kamu sudah keluar nanti aku akan menjemputmu” ucap Rey dengan tulus, dia benar-benar menyayangi Matcha dengan setulus hatinya. Maka dari itu apa pun yang terjadi pada Matcha saat ini, dia akan menerimanya. Akhirnya, mereka semua kembali ke kota dan polisi akan menutup wilayah hutan sekitar sungai Pawan untuk sementara.

    Jangan biarkan dirimu jatuh oleh karena orang lain. Tetapi, jadikalah cibiran orang lain sebagai pembangkit semangatmu untuk terus berjuang. Sesulit apapun jalannya jangan pernah berfikir untuk menyerah karena kamu tidak akan tahu apa yang menantimu di ujung perjuangan nanti.                               

Biodata penulis


Namaku Seravina Galuh Adistya, aku adalah seorang pelajar yang sangat hobi menulis. Aku lahir di Batam pada tanggal 8 Februari 2004. Selain menulis aku juga mengahabiskan waktuku dengan membaca. Membaca adalah sebagian diri dari penulis, oleh sebab itu aku sangat suka membaca. Oleh karena banyaknya ide di kepalaku, aku menulis cerpen ini.


Komentar

Postingan Populer