Dosen Ketus

 Penulis: Idoel Sapoetra

(Ilustrator: Joyken)

Udara begitu dingin pagi ini, air embun masih jelas di atas dedaunan. Mengawinkan selimut dengan badan menjadi pilihan yang enak. Remang reman menanti matahari keluar dari rumahnya.

"Jon, bangun Jon! Udah Jam 07.05 . Kamu nggak kuliah pagi ini?" Ibu membangunkan Jon.

"Kuliah buk, bentar lagi. Nanggung masih enak tidur, palingan dosennya masih tidur juga" jawab Jon penuh alasan sambil mengatupkan selimut tebalnya.

Karena masih awal perkuliahan dosen sering lupa ada jadwal, mungkin karna mereka mengajar banyak mahasiswa. Ada juga yang mengajar di tiga Perguruan Tinggi. Jadi sering terlambat memulai perkuliahan.

"Thing tung thing, thing tung thing, thing tung thing, dreeer, dreerr" suara notifikasi pesan wa beruntun.

Jon terkaget, dia segera bangun dan matanya langsung melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07. 35, sedangkan di jadwal mereka masuk jam 07.30. Jon spontan membuka pola handphone nya yang sungguh rumit, seperti gudang rahasia yang setiap aplikasinya punya pola berlapis. Dia sendiri kewalahan membukanya apalagi diiringi rasa khawatir.

"Jblek" handphone dan aplikasi wa nya terbuka.

Dia menghela nafas panjang, dan mengeluarkan hembusan lega, ternyata pesan beruntun tadi adalah pesan di grup wa kelas mereka, bukan pesan di grup perkuliahan.

Roni mengirim pesan wa "Assalamualaikum. Kita jadi kuliah pagi ini?" yang di balas oleh sebagian anggota group sehingga pesan masuk beruntun di group tersebut.

Anton sebagai kosma juga belum merespon pertanyaan Roni, sehingga perkuliahan tidak jelas kepastian kuliah atau tidaknya.

Jon yang masih mengantuk merebahkan badannya kembali dan berselancar di media sosial, melihat beranda facebook yang diselingi melihat story wa di kontaknya. Tak ada yang menarik menurutnya sehingga dia kembali menarik selimut, memejamkan matanya.

Sekitar 20 menit berselang, belum sempat matanya benar benar tidur, bunyi suara itu datang lagi

"Thing tung thing, thing tung thing, thing tung thing deerr, drerr," pesan wa beruntun masuk.

Kali ini memang pesan grup perkuliahan. Dosen memulai perkuliahan dengan salam dan mahasiswa langsung menjawab salam dengan ramah dan patuh,

"Assalamualaikum. Kita masuk pagi ini pada mata kuliah Pemasaran Digital. Maaf saya terlambat karena lupa ada jadwal pagi ini, ketua tidak mengingatkan saya," dosen menjelaskan sebab keterlambatannya.

"Wa'alaikumussalam. Iya tidak apa-apa pak." balas mahasiswa kebanyakan.

"Kalau saja mahasiswa yang terlambat, tidak akan dibolehkan ikut perkuliahan, ini mentang mentang dosen seenaknya memulai perkuliahan kapan saja," gumam Jon jengkel pada dosen yang terlambat.

"Baik sebelumnya perkenalkan nama saya Antonio, saya diamanahkan mengampu mata kuliah Pemasaran Digital. Sebelum kita mulai, saya ingin jelaskan teknis perkuliahan, media perkuliahan kita adalah zoom, silahkan ditanggapi!"

"Maaf sebelumnya pak, di antara kami ada yang mengungsi pak, mencari jaringan pak, kalo seandainya pakai aplikasi zoom takutnya gak bisa pak, Terimakasih pak," tanggapan Ani menjelaskan keadaannya yang harus mengungsi untuk mendapatkan jaringan internet.

Kalimatnya sungguh sopan, setiap perhentian kalimat selalu dibubuhkan kata "pak", dimulai dengan maaf dan diakhiri terima kasih.

"Iya udah ngungsi pak. Cuman kadang jaringnnya masih ilang2 timbul pak.

Satu lagi t4 ngunsi rame pak jadinya heboh pak," dengan gaya tulisan yang keren, Zaid membantu menjelaskan alasan dan kondisi pengungsian.

"Solusinya?" Dengan ketus dan singkat dosen menanyakan solusi.

"Kalu memang harus zoom apa boleh buat pak. Kalo misal cuaca cerah bisa ke tmpat lain sih pak walaupun lebih jauh. Tapi jangan gara2 kita yg susah jaringan jadi kendala juga buat teman2 yg lain pak. Ini cuma pengakuan kami di awal pak. Mana tau ntar kami ada masalah jaringan biar bapak tau di awal pak. Mudah2an kita sama2 mengerti pak. Trimakasih sebelumnya pak," Zaid menguatkan pesan sebelumnya dengan style tulisan ala anak muda.

"Saya tanya solusi bukan curhatmu, kok kamu malah larinya kemana mana?? Salusinya apa?" Keketusan dosen semakin meningkat, mungkin dia tidak suka yang bertele-tele.

"Maaf pak. Curhat dulu biar tau respon bapak gimana. Baru ntar bisa keluar solusinya" Zaid coba menenangkan keadaan dengan sedikit gurauan.

"Saya bukan dosen konseling dan kuliah kita Pemasaran Digital, jadi kalau mau curhat jangan disini." gurauan Zaid tak mampu meredam keketusan dosen itu.

Di tengah ketegangan tiba tiba Jon mengirimkan usulannya, namun karna kelamaan mengetik dan memikirkan kalimat yang baik, pesannya sudah tidak sesuai lagi dengan pembahasan. Al hasil menambah keketusan dan amarah dosen.

"Izin pak. Saya mengusulkan kita diskusikan dahulu kontrak kuliah nya, seperti terkait aturan perkuliahan, point penilaian agar lebih transparan perkuliahan kita pak." pesan polos yang salah timing.

Kali ini dosen membalasnya dengan Voice Note , tidak dengan tulisan lagi. Suara dengan nada tinggi, melengking keluar dari speaker handphone, menyemprot mahasiswa. Mengembalikan jiwa Jon yang sebelumnya masih melayang layang.

"Saya meminta masukan dan pendapatanmu hari inikan untuk di diskusikan, makanya dijelaskan hari ini." Kegeraman dosen semakin jelas dengan suara. Jon merasa jengkel pada dosen yang sudahlah terlambat, menghardik juga lagi.

Kemudian pembahasan diskusi dilanjutkan pada batas keterlambatan, Jon merasa ini peluang untuk sedikit mengungkit kesalahan dosen cetus yang terlambat masuk pagi ini.

"Daftar hadir diisi selama 15 menit, lewat dari itu berarti yang tidak mengisi dianggap tidak hadir, silakan ditanggapi!" jelas dosen.

"Izin pak, kontrak kuliah kan kesepakatan antara dosen dan mahasiswa. Terkait tadi pengisian absen yaitu 15 menit, jika telat dianggap tidak hadir. Ini hanya untuk mahasiswa atau kita semua pak? Bagaimana kalau sekiranya dosen yang terlambat.?

Maaf sebelumnya pak, kita butuh keterbukaan, agar jelas kontrak kuliah kita"

Pesan Jon ditanggapi dengan voice note, ternyata dosen tersebut profesional dia menangkap apa yang Jon maksudkan.

Dia menerima usulan Jon apabila dia terlambat 15 menit maka perkuliahan dibatalkan untuk hari itu, digantikan dengan hari lain. Jadi aturan keterlamabatan berlaku bagi dosen dan mahasiswa.

"Udahlah teman teman iyakan saja, tidak usah dibantah. nanti etika kita buruk pada dosen. Kita juga sama sama tau bahwa dosen itu tak pernah salah, walaupun kita benar," isi pesan intan di grup kelas, grup yang terkadang kami jadikan tempat mengghibah dosen kiler.

Sebenarnya Jon masih belum terima. "Kalau mahasiswa tunduk dan patuh apapun yang disampaikan dosen, kapan mahasiswa akan berkembang? Kapan mental diskusinya akan terlatih? Kapan mahasiswa bisa mengutarakan pandangannya?" pertanyaan Jon dalam benaknya.

Biodata Penulis

Idul Saputra, lahir di Sorik, pada 23 Januari 2000, merupakan Mahasiswa Ekonomi Syariah IAIN Bukittinggi, Penulis fakir ilmu dan pengalaman, bisa dihubungi melalui akun Fb Idul Saputra


Komentar

Postingan Populer