Cerita Kaktus di Sudut Jendela

 Penulis: Bahrul Ulum

(Ilustrator: Joyken)

Apa yang kalian bayangkan jika menjadi sebuah kaktus kecil di sebuah sudut jendela, di rumah yang sudah tidak terlalu layak huni? Jangan kalian paksakan jika tidak bisa. Atap rumah ini seringkali bocor. Beberapa tiupan angin dari arah barat sering membuat Tuan Rumah kelabakan.

Atap-atap dari seng tua lepas dan melayang entah ke mana. Tidak ada yang buruk dari rumah ini saat hari cerah, hanya saja bencananya dimulai saat hujan tiba. Aku rasanya ingin mati membusuk saja di kusen jendela ini.

Aku yang harusnya disemprot air beberapa hari sekali, terpaksa harus meminum air hujan yang lumayan banyak. Duri-duriku agak aku buat sedikit lebih panjang, agar penguapan air menjadi lebih banyak.

Bukan apa-apa, aku hanya kasihan dengan Tuan Rumah. Dia hanya hidup denganku di sini. Di rumah bekas istri tuanya. Jalan ceritanya memang agak mirip seperti serial televisi yang biasa tuan rumah tonton setiap sore.

Dulu saat dia membeli dan membawaku pulang dari toko bunga, rumah ini terasa sempit. Rumah ukuran 6x6 meter ini memiliki penghuni yang cukup ramai. Tuang rumah, istri, serta tiga orang anaknya yang lucu-lucu. Anak-anak yang sering kali membuatku berdoa, agar tidak diganggu oleh mereka. Setiap mereka mendekat, potku pasti pecah.

Aku tahu mereka tidak sengaja, anak-anak suka usil dengan duri-duriku yang masih lembut kala itu. Tapi tetap saja aku yang mereka salahkan.

"Kaktus jahat! Jari dedek ditusuk." Kira-kira begitu rengek mereka tiap kali usil dengan duri-duriku.

Istrinya Tuan Rumah adalah sosok yang menggemaskan. Kalau cantik sudah biasa, tapi yang satu ini ada rasa menggemaskan. Sayangnya aku hanya kaktus. Kalau saja aku manusia, sudah aku pacari istrinya. 

Memang dasarnya Tuan Rumah bodoh. Dia lebih memilih menikah lagi dengan perempuan aneh. Tidak ada gemas-gemasnya kalau aku lihat. Tubuhnya tidak semolek istri tuanya. Yang satu ini produk gagal bagi perempuan bagiku. Meski perempuan diciptakan bukan sekadar tubuhnya saja. Ada hati dan lakunya juga.

Tapi, yang satu ini berbeda. Tidak usah ditanya soal hati dan laku. Karena perempuan seperti apa yang mencoba menikah dengan suami orang lain. Semua itu terlihat dari tubuhnya, sama sekali tidak indah. Dada dan bokong rata, lebih seperti pria kurus dibandingkan seorang perempuan dewasa untuk orang seusianya.

Entah apa yang membuat Tuan Rumah tertarik dengannya. Tentang istri tuanya? Kalian sepertinya lebih tahu, dia pergi. Membawa anak-anak. Aku masih ingat ayunan kakinya saat pergi menjauh dari rumah ini. Aku tak bisa berbuat banyak sebagai sebuah kaktus. Hanya bisa melihat dan ikut terbawa emosi saja.

Hari-hari makin aneh. Kini aku paham kenapa dia menggilai wanita ini. Mereka jelas sama gilanya. Bercinta tiap hari di ruang tamu, jendela-jendela mereka tutup dengan gordyn gelap. Tuan Rumah hampir tidak punya waktu untuk kerja. Dari buku tabungan yang tergeletak di lantai rumah, aku tahu kalau Tuan Rumah kehabisan uang.

Dia dipecat, karena tidak pernah lagi bekerja semenjak menikahi wanita itu. Sudah kuperingatkan dulu, di awal-awal Tuan Rumah membawa wanita itu. Hanya saja dia tidak bisa dengar, aku ini kaktus. Ah, sial!

Mencari pekerjaan, buat menyambung hidup sendiri. Wanita tadi tidak lagi ada, dia mencari lelaki lain yang bisa memuaskannya. Sampai hari ini, Tuan Rumah kini hanya menjadi lelaki lemah dengan segala keputusasaan, dengan segala penyesalan yang membuatnya bergelantungan tepat dengan kaki berayun yang sesekali menyenggol duri-duriku.


Biodata penulis 

Bahrul Ulum, sedang dalam masa studi di STPMD “APMD” YOGYAKARTA, Lahir di Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Mulai menyelami dunia menulis sejak 2017 dan lebih fokus kepada puisi dan cerpen. Memilih nama pena Pohon Tua, buku pertama yang ditulis adalah sebuah buku kumpulan puisi berjudul “Dialog" dan dilanjutkan dengan “SARU”. Meski sedang dalam masa studi di Pulau Jawa, lelaki yang akrab di panggil Bahrul menjabat sebagai pengurus East Belitung Ambassador Community di bidang ekonomi kreatif. Selain tertarik dengan sastra modern penulis juga aktif berkecimpung dalam dunia sastra lama, penulis aktif menulis pantun, lirik serta mantra melayu dalam setiap garapan sanggar pemerintah kabupaten Belitung Timur sejak tahun 2016. Mendedikasikan dirinya di dunia kepenulisan dengan memberikan pengarahan kepada penulis-penulis pemula yang tersesat dalam mendalami dunia kepenulisan khususnya menulis sastra. 


Komentar

Postingan Populer