Bajing

 Penulis:  J. Akid Lampacak


Seumpama kau berkunjung ke kampungku, melihat lelaki berkumis dan berjaket hitam, hendaklah berhati-hati dalam bersikap apa lagi berniat. Karena lelaki yang berciri-ciri seperti itu sering kali juriga pada orang-orang yang tak dikenal, ia mesti siap siaga, berjaga-janga, refleks jika ada orang yang berbuat kebajikan dan tentu Nyikep*.

Tak sembarangan oranag itu tau terhadap niat seseorang, kata nenekku dulu “tase’ dhalem kenning sellemmi. Tape, mon atena oreng, sater-pentara apa bai ta’ kera bisa ejajaki.”** dukun saja hanya menebak hal yang sudah dilakukan, itupun belum tentu benar, hanya saja meneliti kejadiannya. Tapi, orang yang disebut bajing di kampungku itu mesti tau sesuatu yang akan dilakukan seseorang hanya dengan cara meneliti gerak-geriknya sebelum memenuhi niatnya.

Sebab mereka sudah paham jauh sebelum mereka disebut bajing, mereka juga pernah melakukan hal yang serupa. Maka jangan heran jika ada orang yang ingin berbuat kecerobohan langsung terintai. Buktinya kemaren di warung Buk Suy. Mad Heji, lelaki berkepala botak itu telah memotilasi tubuh seorang lelaki tak dikenal, hanya karena ia disangka warga sebagai penjulik anak.

Ceritanya begini. Pagi itu seperti biasa yang dilakukan Mad Heji dan teman-temannya di warung Buk Suy, ngopi, ngopi bagi mereka adalah aktifitas yang tak boleh ditinggalkan, jika satu hari saja di antara mereka tidak ngopi ia akan ketinggalan berita, jadi sangat beda cara mendapatkan berita seorang bajing dengan seorang pengusaha, kalau seorang pengusaha mendapatkan berita di televise, seorang bajing menemukan berita di warung. Bajing-bajing itu berpendapat lebih layak menemukan berita di warung, ketimbang menemukan berita di televisi, alasanya sanagat sederhana, karena di warung mereka merasa bebas, dapat mengumintari berita-berita tersebut, bahkan mereka perlu menganalisa terlebih dahulu benar apa tidaknya.

Setelah 2 jam lamanya, dari kejauhan seorang perempuan berteriak meminta tolong, suaranya memecahkan perbinjangan mereka, Mad Heji yang awalnya duduk bersila, Ia serentak berdiri tegak mengambil celuritnya, tanpa ia sadari suara itu dihamprinya dengan secepat mungkin, teman-temannya mengikuti dari belakang, tak mampu mengejar langkah Mad Heji dari saking cepatnya.

“ada apa?” pertanyaan itu keluar dari mulut Mad Heji menjelang sampai. “Lelaki ini tadi telah mencoba menyergap anakku” kata seorang perempuan itu sampil menujukkan tangannya. Barangkali perempuan itu merupakan family dari keluarga Mad Heji, sehingga tanpa berfikir panjang Mad Heji mengeluarkan celuritnya dari belakang punggunggungnya langsung melayang ke arah bagian depan leher lelaki itu, mungkin tepat di tengah-tengah tenggorokan hingga mengakibatkan darah yang keluar demikian derasnya, Mad Heji langsung mengangkat celurit itu dengan darah yang masih berderai di ujung celuritnya, seperti tetes sisa keringat di dagunya.

Perempuan itu tak dapat mengeluarkan kata sepetah apa pun, ia seakan trauma melihat apa yang dilakukan Mad Heji di depannya, bulu kulitnya serentak berdiri, ingin sekali ia lari, namun kejadian ini masih menjadi bagian dari lidah perempuan itu. seandainya tadi ia tak berteriak, mungkin saja tak akan terjadi seperti ini. Perempuan itu seperuh perasaannya berda dalam lindap kekecewaan dan separuhnya lagi tergiang dalam kebencian, sebab lelaki yang terbunuh itu benar-benar ingin mengambil anaknya.

Awalnya Mad Heji tak ingin langsung membunuh, tapi detak hati Mad haji sudah sesuai dengan apa yang dikatakan pengasah celuritnya, “jika kamu melihat sesuatu yang aneh, dan hatimu juga berkata aneh, maka ayunkanlah celuri ini pada sisi yang membuat sesuatu itu tak bangkit lagi.” tak hanya manusia, tumbuhan dan hewan bisa saja jadi tumbalnya. itulah kata-kata yang selalu di pegang Mad Meji, setiap kali datang mengasah celuritnya.

Berurusan dengan celurit tak ada bedanya berurusan dengan kemartabatan, sebagus apa pun celurit yang mereka punya, jika tak pernah mendapatkan tumbal, maka sampai kapan pun ia takkan pernah mempunyai kehormatan. Sebab di kampungku hanya itulah cara untuk mendapat kehormatan, selain menjdi seorang kiai, jika menjadi seorang kiai itu harus banyak mendakwahkan ilmu kepada muridnya, maka menjadi bajing harus banyak pula mendakwahkan celurit pada musuh-musuhnya.

***

Sejak peristiwa itu terjadi, Mad Heji dan teman-temannya semakin sering berkunjung pada seorang pengasah celuritnya. Ia bernama Mutam. Lelaki berumur 60-an yang sangat diperjaya sebagai pangasah celurit yang tajam di kampungku. Sehingga dari ketajamannya memuat Mad Haji dan teman-temannya tak kalah seperti para santri yang nyabis kepada gurunya. jika santri semakin banyak berkunjung pada gurunya, tentun saja ia semakin banyak mendaptkan berokahnya. Sama dengan apa yang dilakukan Mad Heji dengan teman-temannya sekarang, mereka berkeyakinan jiak sering berkunjung kepada Mutam, celurit yang ia bawa kemana-mana setiap hari, akan mudah menemukan sumber darah. Keyakinan itu terus bertambah, seakan-akan Mutam dalam kehidupan Mad Heji beriringan dengan derajat Tuhan, sebab setiap kali Mad Heji berkunjung ke rumah Mutam, selalu dibekali pesan-pesan keberanian.

Kemasyhuran Mad Heji dalam karirinya menjadi bajing sudah terdengar di seluruh kampun, bahkan sekebupaten, orang-orang pasti mengenal walau hanya dengan menyebut namanya, “Mad Heji.” Itulah kelebihan Mad Heji, lelaki berkumis panjang yang tak pernah memakai pakaian lain selain jaket hitam yang terbuat dari sulaman kulit tebal. Meski mau pergi kemana-mana, jaket itu yang selalu digunakan. Tapi, bukan Mad Heji tak punya pakaian, melainkan jaket hitam itu sudah menjadi simbol dari kekebalan tubuhnya.

Orang-orang di kampungku semakin tunduk kepada Mad Heji, hingga anak-anak kecil jika bertemu dengannya beranjak kabur, mereka bilang takut dibunuh. Ketundukan itu tentu juga tidak mengenai terhadap seorang diri Mad Heji, mesti juga dirasakan oleh teman-temannya dan keluarganya. Bahkan Sumu, anak tunggal Mad Heji sangat disegani oleh teman-temannya ketika berada di sekolahnya. Apalagi istrinya yang cantik jelita, laki-laki pun takut meski sekedar ingin bicara.

***

Setelah bebrapa bulan lamanya, Mad Heji sudah semakin jarang berkunjung kepada Mutam, terakhir kali Mad Heji mampir ke rumahnya tepat musim kemarau baru sampai, sekarang sudah mau habis musim hujan, Mad Heji belum juga berkenan mampir walau sebentar. Akhirnya Mutam memutuskan, ia sekarang yang harus mengunjungi rumah Mad Heji, karena sejak ia mengenal Mad Heji, ia tak pernah berkunjung ke rumahnya.

Hari itu tepat pada hari jumat pagi, matahari sudah meninggi, seukuran dengan pohon jati, embun yang terinjak kaki Mutam membuat rumput tampak hijau, semakin ia angkat langkah kakinya dengan setinggi mungkin agar sarunggnya tidak tersentuh basah rerumputan. Wajar jalan menuju rumah Mad Heji harus melintas ladang-ladang. Jadi jika nanti basah ujung sarungnya akan membuat ia tak nyaman duduk di rumah Mad Heji.

Sesampai di rumah berpagar bambu runcing, sebelum Mutam memasuki pintu gerbang depan, segera ia merapikan sarungnya supaya tampak bagus nanti di mata Mad Heji. Lalu ia masuk melewati halaman yang penuh kembang mawar.

Sesampai di hadapan pintu rumah yang berwarna hitam. Tiab-tiba terkejut hati Mutam, melihat istri Mad Heji di dalam pintu itu berpakaian di luar wajar, pinggulnya yang selaras dengan rumah rayap di bawah pohon siwalan, membuat hasrat Mutam terasa dipanggang di atas tungku berkobar api biru. Tak tahan Mutam ingin menyentuh pinggul itu, dan meniupnya seperti tiupan angin pada lembut kembang yang gugur bersama hujan.

Entah Mutam mempunyai mantra apa yang membuat istri Mad Heji itu terangsang sebelum disentuh, barangkali Mutam benar-benar membacakan mantranya, hingga istri Mad Heji lari duluan ke kamar belakang, seakan-akan membalingkan niat Mutam untuk bertemu dengan Mad Heji. Dengan segala dengup jantung yang berdetak tinggi, Mutam masuk tanpa memikirkan apa yang ingin terjadi.

Namun, niat sering kali berkehendak lurus, Mutam akhirnya bertemu dengan Mad Heji di kamar belakang dengan suasan remang, lalu Mad Heji mengambil celuritnya di dinding ruang tamu, dengan langkah pelan, Mad Heji langsung teringat dengan kata-kata Mutam, seperti kejadian yang sebelumnya, saat Mad Heji hendak membunuhmusuhnya. “jika kamu melihat sesuatu yang aneh, dan hatimu juga berkata aneh, maka ayunkanlah celuri ini pada sisi yang membuat sesuatu itu tak bangkit lagi.” Apa lagi ini urusan derajat seorang lelaki, walau tanpa kehadiran kata-kata Mutam itu, Mad Heji pasti berani mengayunkan celuritnya tanpa berfikir panjang.

Awalnya Mad Heji tak menyangka, bahwa yang meniduri istrinya adalah Mutam. Tapi setelah Mad Heji menyalakan lampu di kamar belakang itu, terpaksa Mutam harus mencicipi tajam celurit asahannya sendiri, tak hanya Mutam sendiri, tapi istri Mad Heji juga mencicipi sebab telah ingkar janji. Keduanya tergeletak dengan keadaan telanjang, lalu Mad Heji mengambil tetesan darah terakhir pada celuritnya. lalu dioleskan ke dahinya sebagai tanda kemenangan.

*menyelipkan celurit di punggungnya, dengan alasan agar tidak ketauan.

 **sedalam-dalamnya laut dapat kita salami, tapi jika hati sesorang sedang berbicar, sepandai apa pun kita tak kan mampu mengetauhinya.

Biodata penulis


J. Akid Lampacak, Dikenal Dengan Nama Panggilan B.J. Akid. Lahir Di Sumenep Madura, Jawa Timur. Anak Seorang Petani Tembakau. Sekarang sedang menjalani proses pendaftaran kuliah di ISTIKA Annuqayah. Tulisannya Telah Tersiar Di Berbagai Media. Sekarang Sedang Mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Popes Al-Mansyuriah Katapan Sampang.



Komentar

Postingan Populer