Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Membunuh Pengarang

Penulis: Dian Rijal Asyrof (Ilustrator: Joyken) Malam ini aku terkurung di dalam cerita klise seperti biasa. Pengarangku memang buntu. Di hadapannya ada banyak buku dan sobekan kertas yang ia buang ke sembarang tempat. Nasibnya tak karuan. Sangat membosankan. Bayangkan saja setiap hari ia menulis cerita, tapi tentang aku semua. Aku diberi nama Sonia, tokoh yang dia buat di ceritanya. Ini terasa aneh. Kenapa ia tulis aku seperti ini? Hidup di gang kecil di Jogja dengan tetangga yang mencintai kesunyian dan pohon mangga. Padahal bisa saja ia ubah ceritanya. Aku hidup di kota besar seperti Jakarta dengan tetangga yang mencintai waktu kerjanya. Yang lebih aneh lagi, aku dibikin secantik mungkin. Rambut panjang terurai, mata sipit, tubuh tinggi, juga buah dada yang besar. Brengsek! Jika kalian masih tak percaya aku adalah tokoh cerita, cari saja Tio. Dia yang bertanggung jawab atas kisahku, tanya saja. Dia tinggal di Jogja, sama sepertiku. Hanya beda dunia. Dunia fiksi dan ny

Puisi Fany Ramadhani

(Ilustrator: Joyken) IKRAR Kubaitkan seutas ikrar dibibirmu yang karam| Dalam bayangan menelanjangi sunyi mataku Kusampaikan hakikat cinta tanpa rupa Sampai kita tiada Sampai urat-urat merapalkan doa Jauh didasar sukma kita ada Bukit Sari, 2020 SEBAB DIKAU Sebab dikau Malam pun khatam bergegas pulang Bulan menyingsing dalam temaram Langit menyepi Rintik hujan membasahi Sukma yang telah lama kering Dibawah teriknya rindu yang kian menghening Bukit Sari, 2020 SAAT SENJA Saat senja memeluk malam Dari seberang jendela mataku Sayup-sayup matamu candu membiru Diantara sela cahaya hening mendayu Hangat bayangmu menyatu menyapaku dalam bisu Bukit Sari, 2020 SEMOGA KITA ABADI Semoga kita abadi Seperti daun sepuh tertiup angin Yang menemui akar pohon bunga itu Dari ranting yang mengirimkannya kepada yang satu Bukit Sari, 2020 RUANG BACA Tepat setelah pintu-pintu kembali dibuka Buku-buku berbaris rapi dalam singgasana Begitu juga mataku, berbaris menagkap wajahmu dalam rimba manus

Puisi Nengsih Sri Rahayu Putri

(Ilustrator: Joyken) Kemarau Kudapati sawah tengah kehausan Pucat mulai membingkai tanah Tubuhnya belum dibasahi, Air bumi kembali mengering Lumpur tertawa melihatku Tanaman itu masih tetap berdiri Meski kini berdiri setengah hidup Tanah dan sawah bersatu dalam kekeringan Kelaparan menyapanya. Api-api, 28 juni 2020 Bendera Hitam  Kumembelah jalan menuju permukiman warga  Sesekali ku melirik banyak massa  Di tepian jalan itu ada bendera hitam,  Bendera itu berdiri, bendera itu menyapaku  Menari-nari Di tepian jalan itu  Hembusan angin membawanya  Ada tangisan menghampiri telingaku  Hiruk pikuk sekitar  Tandu berada di sana  Kuhampiri tempat massa berada  Hanya kedukaan yang kurasakan, awan kelabu  Kehilangan alasan bendera itu berdiri  Bubar jasad serta roh dalam raga  Api-api, 27 juni 2020 Intensi Sebuah celah yang menipis Layakya remukan Titian demi titian dilalui Namun berjalan tiada henti Pikiran ingin pergi dari bumi Namun hati berbisik untuk

Runtuhnya Masjid Milik Satrawi

Penulis: Norrahman Alif (Ilustrator: Joyken) Di tengah perjalanan –tiba-tiba mata Satrawi dikejutkan oleh penampakan alat-alat berat seperti excavator, buldozer dan mobil kontainer panjang telah berdiri dengan gagah di sebuah lahan kosong dekat bibir pantai Lombang. “Tampaknya alat-alat itu pernah kulihat di tv,” pikirnya lalu Satrawi sambil berdiri. Selepas melepas rasa penasarannya pada alat-alat asing tersebut. Kemudian Satrawi berjalan lagi dengan pikiran masih terawang-awang: mengkhayalkan sesuatu yang bukan-bukan setelah menyaksikan barang berat itu. Satu menit lewat sesampainya Satrawai di persimpangan jalan menuju rumahnya yang diapit pohon-pohon cemara udang yang tumbuh liar di sepanjang jalan tikus. Tiba matanya secara tak sengaja melihat penampakan lagi, namun apa yang ia lihat bukan lagi alat-alat berat, akan tetapi beberapa manusia asing yang mencurigakan. Saat itu dalam pandangan mata Satrawi yang sesekali kepalanya bergerak-gerak mengumpat dibalik rapatnya p

Kontributor Gokenje.id

Edisi September 2020 Anton Sucipto (2) Rai Sri Artini Randu Sunerta Apriwanto Rofiatul Adawiyah Ardi Hamonangan Siregar Ahmad Zul Hilmi Rion Albukhari Idul Saputra RM Maulana Khoerun Sri Melynda Mohammad Rizal Fikri Reni Putri Yanti Ayis A. Nafis Muhamad Irfan (2) Chalvin Pratama Putra Rilen Dicki Agustin Nanda Khairun Nisa Pitopang Edo Sapraja Ridho Daffa Fadilah M.N. Gemilang Wicaksono Adel Yuhendra Thoriq Dakar Indah Wulandari Pulungan Jeri Maulana Putra Doni Amandola Putra Khansa Arifah Adila Bagus Sulistio Riska Anugrah Mulyani Nengsih Sri Rahayu Putri Wahid Kurniawan (2) Ria Candra Pola Joe Hasan Ridho Alsyukri Put

Teka-teki Gosip

Penulis: Rofiatul Adawiyah (Ilustrator: Joyken) Hari itu, waktu menunjukkan pukul 6 sore. Setelah melipat sajadah, aku langsung menuju teras rumah, dapur dan kamar mandi. Ketiga tempat favorit yang biasanya Bapak dan ibu manfaatkan sepulang bekerja untuk berbaring sebentar, mengambil air minum dan membersihkan tubuhnya dari lumpur. Setelah memastikan ketiga tempat itu, terlihat hanya bapak sedang berbaring di teras rumah. “Ibu kemana? Kenapa jam segini belum pulang? Apa jangan-jangan pikapnya mogok?” pikirku. Perasaan cemas membawaku pada jalan kecil yang berakhir di halaman rumah. Ketika aku melihat lebih jauh, berharap kutemukan langkah kaki Ibu. “Ngapain kamu disitu?” Bapak dengan suara lantangnya yang berusaha memahamiku dari teras rumah. “Ibu kok belum pulang juga ya, Pak? Ini sudah jam berapa? Tidak biasanya jam segini ibu belum pulang.” Tanyaku. Melihat ke arah bapak, aku bisa menduga bagaimana pertanyaan itu juga memenuhi pikirannya. Sepulang bekerja, ibu akan seger

Puisi Satria Wibowo

(Ilustrator: Joyken) Mengerti Pengertian Nyataku sirna kala kita bertemu Hampir semua sekitaranku tertepis Dirimu telah menjadi utaraku Menutup celahku memandang sinis Aba-aba yang mulai diberikan Sering menjadi gambaran semu Kita akan berkenalan dengan kepergian Terasa kandas segala upayaku Sedari awal sudah salah terkaku Kita ada dalam aliran yang terbaca Sudah, sudah tiada lagi yang dibela Sendiri-sendiri jawaban paling nyata Terima kasih telah memberi dan mengerti   Benci Membenci Bagaimana dengan kabar? Bagaimana dengan basa-basi? Itu semua untuk masa dahulu Beda, tak sama dengan sekarang Terbesit ingin untuk mengulang Apa-apa yang mungkin salah tempat Segala pemicu bencimu padaku Semua yang membuat kita bertentangan Jika telah habis benci dihatimu Kembalimu patut dinanti Bila tak ada niatmu kembali Tolong, bantu diriku membencimu sepenuh hati Menulis Takdir Bicara takdir Aku percaya semuanya sudah ditentukan Aku percaya itu masih bisa kita perjuangkan

Anjing Liar

Penulis: Rikard Diku (Ilustrator: Joyken) Setelah digigit Anjing berkali-kali, kaki Junaidi berdarah dan tanpa suara ia menangis dalam hati sebab ini sudah tengah malam sedang bulan purnama masih tersenyum angkuh padanya. Aku masih mengintip lewat celah jendela kamar sambil tertawa kecil bercampur takut karena malam itu dua ekor Anjing milik pak Herman menjadi ganas tidak seperti biasanya dan Junaidi yang kesakitan pelan tapi pasti mundur beberapa langkah ke belakang dengan tangan yang terus berusaha mengusir Anjing di hadapannya sebelum ada lagi seekor Anjing yang disebelah rumah pak Herman kembali menyalak hebat. Diam-diam dari dalam selimut, aku coba memicingkan mata melihat apa yang terjadi tetapi aku susah payah melihat karena lubang jendela terlalu kecil dan aku hanya melihat purnama meski ada perasaan takut. Setelah Anjing berhenti menyalak lamat-lamat sunyi yang lebat merambat ke seluruh wilayah kampung juga sampai ke dalam dadaku. Dalam tidur malam itu aku bermimp

Puisi Anton Sucipto

(Ilustrator: Joyken) GERIMIS DALAM BAIT PUJANGGA Gerimis kemarin Seolah menemani batin Lambaian ombak pada lautan Habis luntur mengguyur lamunan  Siang malam menari-nari  Masihkah ada nada pada puisi ini  Sampai langit mendung senja  Jiwa bergemuruh lara manja Tetesan embun senyum Hingga ujung waktu ranum Dalam kalimat maklum Menanti impian di taman harum  (Banjarnegara, 23 Februari 2019) FATAMORGANA Aku menyusuri seribu langkah Dalam jejak langkah di urat nadi Menggapai cita hidup ilusi Dihiasi wajah-wajah resah bangunan semu dan barisan rumah Dalam kemunafikan zaman Menciumi aroma hambar Terbungkus kue manis Terlena warna fatamorgana (Bogoan, 11 Mei 2017) PUISI ADALAH Adalah hanya sebuah andai Jika saja bulan melambai Adalah mungkin bunga teratai Bila nanti membasuh lunglai Adalah besok bermain dawai Jika kemarin terpukau belai Adalah hanya hanyut terbuai Bila nanti terajut tergapai Adalah tarian lemah gemulai Bila nanti hidup akan santai Atau nanti damai akan mela

Anjing!

Penulis: Wahid Kurniawan (Ilustrator: Joyken) Sejak kecil, anjing seperti sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Sutan. Ketika masih kanak-kanak dulu, di talang yang jauh dari perkotaan, anjing menjelma kawan setia yang mengikutinya keluar-masuk hutan. Bahkan, orang tuanya punya selusin anjing kampung;sepuluh jantan dan dua ekor betina, sehingga kesibukan Sutan kecil kalau tidak membantu mengurus ladang, ya memastikan anjing-anjing itu sehat supaya kuat diajak berburu atau menjaga ladang dari serbuan babi liar. Akan tetapi, segalanya berubah selepas ia merantau ke pulau seberang.  “Kawan-kawan kau dulu pasti bakal terbahak melihat hidupmu sekarang, Sutan. Jauh-jauh pergi ke kota, tapi hanya untuk menangkap anjing,” ujar Bono, karib seprofesinya di kala siang yang garang.  Sutan tak menyahut, perhatiannya tersirap penuh pada jejak anjing yang mereka buru. Anjing itu jenis Labrador Retriver, berbulu putih, tampaknya piaraan yang kabur dari rumah majikannya. Se

Puisi Putrarico14

(Ilustrator: Joyken) Tersudut di Pesantren (KKN) Di sudut yang beda Kita sama-sama tersudut “Kau tersudut saatku menyudut” Jika sudut ialah permintaan tolong Apa daya kita untuk saling bantu, melainkan cinta Bukan? Cinta ialah doaku saat jadi imam Yang kau aminkan sebagai makmum Kuatkan kita beriman Lintau, 2020 Di posko KKN Salam dan selamat pagi Telah kutunaikan perintah Tuhan pagi sekali Seperti malam aku berdiri di depanmu, menunduk paling patuh Sukar kubayangkan matahari tiba pada waktunya Terjaga oleh kelakar sendok dan gelas dalam adukan kopimu Aromanya seperti kesenangan burung-burung di ranting tenggernya pagi itu Aku pun siap untuk senja setiap kalinya Menenggelamkan matahari ke mata hati Lelah dan lelap Lintau, 2020 Mereka sedang KKN Mereka melakukan amal jariah yang tidak putus-putus dalam doa 40 hari 40 malam, di terik siang sampai hari berbintang, amalkan pinta si tuan guru tempat mereka belajar. Pagi ini, seorang mereka mengumpulkan anak-anak kecil; b